
Sebulan telah berlalu, anak-anak kami pun tumbuh dengan sehat karena berat badannya sudah normal kami pun sudah bisa membawanya pulang.
Awal aku menggendong mereka, aku menitikkan air mata, "jadi begini rasanya memiliki anak" lirihku dengan menciumi ketiga bayiku bergantian.
Raka pun ikut bergabung, dia juga menciumi buah hati kami, "bahagia banget ya Mel, ada mereka sekarang" kata Raka lalu menggendong salah satu diantara mereka.
"Iya mas, bahagia banget" sahutku lirih.
Setelah puas dengan bayi kami, aku pun menyerahkannya pada baby sitter.
"Jaga baik-baik ya"pesanku pada ketiga baby sitter
"Siap nyonya" jawab mereka.
Setiap hari suara tangis bayi menjadi alunan musik di rumah kami, terkadang aku juga merasa stres karena ulah ketiga bayiku. Raka selalu menyemangati aku saat aku sedang kesal.
Apakah ini yang dirasakan para ibu muda? stres melanda karena bayi mereka? .
"Mas, pusing juga ya punya baby" kata ku
"Iya Mel, namun di situ nikmatnya. Nggak semua lo diberi anugrah memiliki bayi seperti kita Mel jadi harus pandai-pandai bersyukur." Sahut Raka dengan mengusap kepalaku.
"Iya mas" ucapku singkat
Aku sungguh bersyukur diberi pendamping hidup seperti mas Raka, walaupun terkadang sikap kurang pekanya menyakitiku namun sikap dewasa dan sabarnya membuatku bahagia berada didekatnya.
__ADS_1
"Terima kasih ya Mel, telah melahirkan mereka ke dunia ini" bisik nya dengan memelukku dari belakang.
Raka pun menciumi leherku, bahkan dia membuat tanda di sana, aku yang kegelian pun menggeliat
"Mas kamu mau apa mas?" tanyaku
"Mel sudah sebulan lebih aku berpuasa, apakah belum selesai masa nifasnya?" tanyanya balik
Aku pun terkekeh, "Kasian sekali sih kamu mas" lirihku lalu membalikan badan.
"Iya Mel, aku nggak bisa nahan kalau lama-lama" ucap Raka dengan terkekeh.
Aku pun membalikan badanku, lalu menangkupkan tanganku di wajah mas Raka.
"Yes" sahutnya
"Sekarang tidurkan dulu ya mas, bangunkan jika sarangnya sudah siap" kataku sambil tertawa
"Elus-elus Mel, hair tertidur" suruh nya tak senonoh
"Iiihhh mas Raka me**m sekali, kalau aku elus-elus bukannya namun malah bangun mas" sahutku kesal
Raka pun tertawa melihatku kesal, lalu aku pun meninggalkan mas Raka untuk mengambil camilan karena perutku sudah lapar.
Malam hari pun tiba, aku kembali ke kamar setelah menengok ketiga bayi mungilku.
__ADS_1
"Mel, ayo Mel kita olahraga sekarang" ajak Raka.
"Bentar mas, aku ke kamar mandi dulu kebelet pipis" aku pun berlari kecil masuk kamar mandi.
Raka pun menungguku dia pun sudah mencicil melepas pakaian atasnya.
Namun tiba-tiba ada panggilan masuk dari Fajar.
Fajar bilang kalau besok sekali ada rapat dengan klien dari Singapore.
Setelah selesai Fajar pun mematikan panggilannya.
Saat aku kembali aku sudah melihat mas Raka bertelanjang dada, tubuh mas Raka putih bersih tanpa ada bulu-bulu yang tumbuh di sana.
Aku pun yang lama tidak dibelai pun langsung mencumbu mas Raka.
Kami pun saling berpaut, setelah puas kami melepas pakaian yang menempel , aku sengaja tidak melepas pakaian dalam bagian atas karena takut kalau ASI-nya keluar saat melakukan pergulatan panas.
"Icip dikit ya Mel" kekeh Raka
"Nggak, ini milik trio baby kita lagian dosa kalau mas Raka mencicipinya" omel ku.
pergulatan panas terjadi sangat lama, walaupun sudah mendapatkan pelepasannya namun mas Raka tetap saja belum puas.
Aku sungguh dibuat kehabisan tenaga.
__ADS_1