Melati Untuk Sang CEO

Melati Untuk Sang CEO
Setiap hubungan pasti ada titik jenunya


__ADS_3

Setelah pulang dari rumah sakit,mas Raka memperlakukanku bak seorang ratu.


Dia juga mempekerjakan art freelance di apartement.Tentu aku sangat senang sekali atas perlakuan mas Raka.


Karena aku tidak mengetahui kalau aku keguguran,aku menganggap kalau diriku menstruasi.


Saat malam tiba kami pun berbincang bincang,


"Mel,aku kok menginginkannya ya"kata Raka dengan lirih,sebenarnya dia tak ingin meminta hal itu kepadaku mengingat aku yang baru saja mengalami keguguran.


"Kalau pengen ya tinggal main lah mas,kenapa bertanya segala,aku di sini untuk melayanimu"kataku dengan terkekeh.


Raka pun mengubah posisinya dengan menatapku.


"Apa bagian sensitifmu tidak sakit Mel"tanya mas Raka.


"Tidak mas,haid tidak membuat area sensitifku sakit"jawabku dengan mencubit hidungnya pasalnya aku gemas sekali dengan mas Raka.


"Jadi boleh ya?"tanya mas Raka dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Boleh dong mas,dengan senang hati"jawabku lalu menatapnya.


Mas Raka yang merasa takut kalau terjadi apa apa pun bimbang akan niatannya,namun dia sangat berhasrat.


Melihatnya yang hanya terdiam membuatku nangkring di atasnya.


"Biar aku yang pengang kendali mas,kamu kebanyakan mikir"kataku lalu melahap bibir mas Raka.


Mas Raka juga membalasnya,aku pun menerobos masuk dalam mulut mas Raka guna mengeksplor isi di dalamnya.


Aku juga memainkan lidahnya.

__ADS_1


Aku meninggalkan tanda cintaku di leher mas Raka,tak hanya leher aku juga meninggalkan jejak di dadanya.


Raka mengerang penuh nikmat sehingga membuatku semakin liar.


Lama tidak melakukan aktivitas panas membuat libidoku naik berkali kali lipat.


"Mel,kamu lihai sekali sayang"lirih mas Raka di sela sela erangannya.


"Aku belajar mas,bagaimana memuaskan suami,biar dia gak selingkuh"kataku dengan menyudahi aksiku sebentar lalu melanjutkan lagi.


Ku eksplor semua tubuh bagian atas mas Raka.Kini aku pun membuka kain yang membungkusnya.


Terlihat benda tumpulnya sudah berdiri tegak, membuatku menelan slavina.


"Wow"batinku.


Walaupun ini bukan yang pertama aku tetap merasa bergairah saat melihatnya.


Tanganku pun meraih benda tumpulnya.


Raka yang sudah tidak tahan pun mengubah posisinya,namun sebelumnya dia melepas bajuku dulu.


Melihatku polos membuatnya kesetanan,agak rakus dia melahap bibirku,lalu turun ke leher.


Dia juga meninggalkan jejak cintanya padaku.


Bahkan gunungku pun tak luput dari jejak cintanya.


Aku sudah sangat basah,ingin cepat di eksekusi oleh mas Raka.


"Mas ayo mas,aku gak tahan"kataku dengan lirih sambil menggeliat.

__ADS_1


Melihatku menggeliat seperti cacing membuat Raka melakukan penyatuan.


"Aaahhhhhh mas Raka"aku merasa melayang,inilah surga dunia yang di berikan mas Raka kepadaku.


Eranganku lolos begitu saja dengan memanggil mas Raka.


Awalnya mas Raka sangat lembut namun aku memintanya untuk memompa dengan cepat,biar lebih enak.


Aku yang mendapat pelepasanku mengerang dengan sangat keras,sehingga membuat Raka menggila.


"Terus mas,ahhhh"desahanku yang terus


meminta Raka untuk memompa lebih cepar.


Tubuhku akhirnya menegang,begitu pula dengan mas Raka.


Aku merasakan cairan hangat yang banyak di pangkal paha.


Raka tumbang di sampingku dengan nafas ngos ngosan.


Dia pun merubah posisinya


"Terima kasih Mel,kamu sangat pandai sekali melayaniku"kata Raka lalu mengecup keningku.


"Aku berusaha untuk menjadi yang terbaik mas,baik dalam ranjang maupun yang lainnya,supaya kamu tak berpaling dariku,mengingat para pelakor di luar sana pasti banyak yang mengincarmu.


Kalau kamu sudah merasakan yang luar biasa dirumah tentu kamu gak akan melirik lainnya,karena sekarang cinta saja gak cukup,seiring berjalannya waktu ada masa jenuh terhadap pasangan,kalau gak pinter pinternya aku, bisa bisa suamiku ini digondol kelinci garong"kataku dengan terkekeh


Raka hanya tersenyum lalu menimpali


"Sebanarnya sama,bahkan saat ini ada kucing garong juga yang lagi mengincarmu"kata Raka lalu tertawa.

__ADS_1


Aku yang geram pun mengelitik perut mas Raka.


Kami pun tertawa dalam keadaan yang sama sama polos.


__ADS_2