Melati Untuk Sang CEO

Melati Untuk Sang CEO
Lupa jatah lahir


__ADS_3

Tak lama setelah Rangga pergi,Fajar masuk dalam ruangan Raka.


"Maaf pak mengganggu waktunya,tadi saya lihat pak Rangga sudah meninggalkan kantor padahal satu jam lagi kita ada meeting"tanya Fajar heran.


"Ntahlah Jar,aku sendiri bingung.


Tiba tiba wajahnya sedih,mungkin ada masalah internal,ya sudah nanti kamu hubungi beliau lagi ya?"jawab Raka lalu menyuruh Fajar bergabung,namun Fajar menolak karena harus kembali ke ruangannya.


"Ogah ikut gabung pasti jadi obat nyamuk"batin Fajar lalu melangkahkan diri keluar.


Setelah Fajar keluar aku membuka bekal yng kubawa,Raka berbinar melihat nasi goreng yang kubawa.


"Mel, lebih baik kita makan di luar saja"katanya lalu menutup kembali bekal yang kubawa.


Seketika raut wajahku mendung,bahkan air mataku pun berkumpul siap untuk terjun.


"Mau kamu apa sih Raka,susah susah buatin semua ini untuk kamu namun kamu lebih memilih makan di luar"batinku dengan memandangnya kesal.


"Aku terlalu sayang untuk memakannya Mel,lihatlah nasi gorengnya berbentuk hati seperti hatiku yang saat ini mencintaimu"kata Raka dengan tersenyum sambil membuka kembali tutup wadah makannya.


Air mata ku pun lolos begitu saja dan aku langsung memeluknya.


Setelah puas aku pun melepaskannya lalu mengambil kotak makanannya lalu membukanya.


"Udah makan saja,nanti aku buatkan lagi yang sama seperti ini"kataku lalu mempora porandakan nasi goreng yang berbentuk hati tersebut.


Raka pun protes

__ADS_1


"Yah Mel,kok dirusak sih nasgornya"katanya lalu mengambil nasgor dari tanganku.


"Kalau gak gitu kamu gak akan memakannya,nanti kalau kamu sakit gimana???"ujarku lalu mengambil lagi kotaknya.


"Kalau sakit kan ada kamu yang merawatku Mel"katanya dengan terkekeh.


Aku pun mengambil sendok dan menyuapi mas Raka,dalam sekejab nasi goreng ludes,bahkan sebiji nasi pun tak ada.


Kini beralih ke pastanya,karena sudah kenyang mas Raka hanya memakan tiga sendok selebihnya aku yang menghabiskan.


Seusai makan kami mengobrol sejenak,


"Kamu disini saja ya??nungguin aku kerja"pinta mas Raka dengan memegang tanganku.


"Iya mas,aku akan nunggui suamiku bekerja"kataku dengan tersenyum.


"Tentu mas,aku akan selalu di sisimu"aku mengenduskan wajahku kebidang datarnya.


Waktu cepat berlalu,jam pulang kantor pun datang.


Kami bersiap untuk pulang,di tengah jalan kami mampir di sebuah restoran mewah.


"Enakan makan di pinggir jalan mas,harganya lebih murah"ucapku yang masih enggan turun dari mobil.


"Kalau kita cari makanan di pinggir jalan,uangku gak habis habis Mel,sedih deh aku!"kata Raka menyombongkan diri dengan tertawa.


"Iiiihhhh sombongnya,mana siniin biar aku habisin,kamu masih berhutang ma aku lo mas,seminggu ini aku memakai uangku sendiri karena kamu belum ngasih"kataku dengan memercingkan mata.

__ADS_1


Raka pun menggaruk kepalanya yang tak gatal,bahkan dia lupa tak memberi nafkah lahir kepadaku.


"Berapa Mel,rekening kamu"tanyanya.


Setelah mendapatkan nomor rekeningku,Raka mentransfer uang melalui aplikasi banking.


"Maaf ya Mel,kamu juga kok gak minta,coba sekarang cek udah masuk apa belum"suruh Raka dengan menatapku.


Aku pun melongo dengan jumlah yang di dikirim ke rekeningku.


"Kenapa banyak sekali mas???"tanyaku heran.


"Itu untuk keperluan selama sebulan Mel,kalau kurang nanti aku transfer lagi"kata mas Raka lalu mengecup keningku.


"Mas ini lebih dari cukup,aku aja bingung ini buat apa saja"kataku dengan tersenyum.


"Aku beruntung Mel,mendapatkanmu yang polos,semoga kita berjodoh dunia akhirat"batin Raka lalu keluar dari mobil begitu pula denganku.


Kami pun mencari tempat yang kosong dan memesan makanan.


Saat asik makan kami di kagetkan dengan kedatangan Rangga.


"Selamat malam Tuan dan Nyonya Raka"sapa Rangga dengan sopan.


Seketika Raka menghentikan makannya dan menyalami Rangga.


Bahkan dia menyuruh Rangga untuk bergabung.

__ADS_1


__ADS_2