
"Tentu istriku Mel, memangnya apa!!!" seru Raka dengan tatapan kesalnya.
"Lalu kenapa aku memperlakukan aku seperti itu?" tanyaku dengan berteriak.
Raka pun mengusap rambutnya kasar lalu berpindah posisi ke sofa.
"Aku memperlakukanmu seperti apa memangnya? selama ini yang aku perbuat kepadamu apa masih kurang?" tanya Raka dengan lirih namun masih bisa kau dengar.
"Sebisa mungkin aku memenuhi keinginanmu, sebisa mungkin aku selalu ada buat kamu, kenapa kamu bisa bilang seperti itu?" imbuh Raka penuh penekanan.
Aku yang mendengarnya pun merasa bersalah hanya karena satu kesalahan aku mengjudge Raka seperti itu seolah Raka tak pernah ada baiknya di mataku.
Aku pun mendekatinya lalu duduk di sampingnya.
"Maaf mas, aku hanya kesal saja padamu. Kamu membiarkan aku sendirian di sana, apalagi dengan keadaanku yang seperti ini" lirihku dengan menunduk.
"Maafkan aku juga Mel, aku tadi melupakanmu dan asik sendiri dengan partner Bisnisku." ucap Raka lalu memelukku.
Aku pun membalas pelukannya dengan tangis yang pecah.
Mengetahui aku menangis, mas Raka pun menangkupkan tangannya di wajahku. Dengan ibu jarinya mengusap air mataku.
"Jangan menangis Mel, ibu hamil nggak boleh menangis kasian baby nya." bujuk Raka kemudian mengecup keningku.
__ADS_1
"Nggak apa-apa kalau jarang-jarang yang penting nggak setiap hari menangis." kataku dengan tersenyum.
"Ya sudah ayo kita tidur, bukannya besok ada jadwal kontrol?" tanya Raka lalu membopongku ke tempat tidur.
"OMG mas, aku kok lupa ya" kataku terkejut pasalnya aku melupakan jadwal kontrol ku.
"Kebiasaan deh, pasti lupa dengan jadwal kontrolnya" ujar Raka dengan tersenyum.
"Banyak yang aku pikirkan mas" sahutku dengan tersenyum juga.
Raka pun penasaran apa yang aku pikirkan sehingga melupakan sesuatu yang penting seperti ini.
"Memangnya apa Mel yang kamu pikirkan?" tanya Raka.
"Nggak asik ah, apa sih" tanya Raka penasaran bahkan jiwa kepo nya ikut meronta.
"Yang pertama kamu" jawabku dengan mengangkat jari telunjukku.
"Lalu?" tanya Raka lagi.
"Yang kedua ya kamu lagi seterusnya ya tetap kamu mas" kekeh ku dengan mengangkat jari telunjuk dan jari tengahku bersamaan.
Raka yang kesal pun menggelitik perutku sehingga aku pun kegelian.
__ADS_1
Dengan tertawa aku memohon ampun pada mas Raka.
Setelah itu kami pun tidur sambil berpelukan.
Keesokan harinya aku dan mas Raka pergi ke dokter kandungan kami untuk memeriksakan kandunganku.
Dokter bilang kalau anak kami tumbuh dengan sehat, bahkan berat mereka mengalami kenaikan yang signifikan. Itulah sebabnya perutku semakin besar dan besar.
Setelah menebus obat, rencananya mas Raka mengantarku pulang baru dia akan ke kantor.
Terjadilah obrolan kecil di dalam mobil antara aku dan mas Raka
"Mel,bagaimana kalau kita membeli rumah baru karena nggak mungkin kita tinggal di apartemen terus menerus.
Kita butuh tiga baby sitter dan juga Art lebih dair satu serta kita juga memerlukan sopir." kata Raka membuka obrolan.
Mendengar kata-katanya membuatku mengerutkan alisku lalu berucap
"Banyak sekali mas?" tanyaku heran.
"Ya nggak banyak Mel, begini aku jelaskan setelah bayi kita lahir, pasti kita memerlukan tiga baby sitter mengingat anak kita juga tiga orang.
Trus kita nggak mungkin mempekerjakan BI Ijah sendiri, beliau pasti butuh teman. Kasian Mel jika kerja sendiri. Dan terakhir aku rasa kita membutuhkan sopir pribadi, aku nggak mau kalau sewaktu waktu butuh kemana-mana harus nunggu taxi online dulu." kata Raka panjang kali lebar.
__ADS_1
Aku pun menimbang kata-kata mas Raka lalu mengangguk tanda aku setuju.