Melati Untuk Sang CEO

Melati Untuk Sang CEO
Pengalaman pertama


__ADS_3

Beberapa waktu berlalu, kini Fajar dan Citra sampai di rumahnya.


Pak Wijaya dan Bu Ratna sudah menunggu di ruang tamu.


"Akhirnya kalian datang juga" kata pak Wijaya


"Iya om" sahut Fajar


Fajar dan Citra pun duduk, dia mengeluarkan berkas-berkas yang sebelumnya sudah Fajar siapkan.


"Rumah ini dan semua aset pak Wijaya yang disita oleh bank sudah saya bebas kan, uang yang rencananya ingin saya berikan pada pak Wijaya sudah habis untuk membebaskan perusahaan bapak. Daripada bapak memulai dari nol mending melanjutkan yang sudah ada." kata Fajar


Pak Wijaya tentu tidak terima dengan kata-kata Fajar, dia pun marah dan menggebrak meja.


"Kamu telah menipuku!" seru pak Wijaya


"Saya tidak menipu pak Wijaya, pak Wijaya kan kemarin bilang membutuhkan uang untuk modal usaha bahkan sekarang saya memberikan plus perusahannya namun anda malah tidak berterima kasih." kata Fajar dengan tersenyum


"Selain membebaskan perusahaan dari sitaan bank, saja juga harus membayar hutang pak Wijaya di luar bank. Untuk itu semua aset pak Wijaya saya alihkan menjadi nama saya dan juga Citra" imbuh Fajar


"Dasar kau bajingan Fajar, kamu telah menipuku!" teriak pak Wijaya

__ADS_1


"Kalau anda tidak suka silahkan angkat kaki dari sini, sekalian ajak kedua putri anda yang tidak berguna itu" sahut Fajar yang tak kalah dengan pak Wijaya


Pak Wijaya dan Bu Ratna tidak bisa berbuat apa-apa membantah pun posisinya kalah tinggi dengan Fajar.


"Aku harap papa dan mama mertua bisa menerima dengan lapang dada daripada kalian menjadi gelandangan" ucap Fajar


"Oh ya mulai sekarang, kamar kalian pindah ke kamar pembantu, kamar yang Citra tempati biar menjadi kamar kedua putri anda. Sedangkan kalian tidur di samping kamar tersebut" imbuh Fajar


"Apa-apaan kamu Fajar, hormat sedikit dengan orang tua!" hardik ibu Ratna


"Siapa kalian sehingga harus saya hormati, kalian adalah mahkluk tak berperikemanusiaan terutama kamu pak Wijaya" sahut Fajar.


Fajar meminta mereka untuk berkemas-kemas dan mengganti kamar mereka namun Citra meminta pada Fajar untuk tidak melakukan hal itu


"Ingat mas, namun kita nggak boleh dendam" sahut Citra.


Fajar pun akhirnya menyetujui keinginan Citra, Fajar menyuruh art untuk mengemas barang Citra ke kamar utama di rumah ini.


Kini perusahaan milik pak Wijaya sudah menjadi milik Fajar, dia memperkerjakan pak Wijaya menjadi staf biasa.


Awalnya menolak namun mereka tak punya pilihan lain.

__ADS_1


Kedua kakak Citra pun harus mengerjakan pekerjaan rumah untuk bisa membayar kuliah mereka, begitu pula dengan Bu Ratna harus membantu memasak, art di sediakan untuk memenuhi kebutuhan Citra dan Fajar bukan untuk keluarga Wijaya.


"Mas Fajar, apa kita nggak keterlaluan?" tanya Citra


"Nggak, bahkan ini belum seberapa sayang" jawab Fajar.


Fajar kini memanggil Citra dengan sayang


"Bagaimana udah bisa unboxing belum?" bisik Fajar yang membuat Citra malu.


Citra pun mengangguk dengan berkata


"Pelan-pelan ya mas" pinta Citra


"Siap sayang, aku akan hati-hati supaya kamu nggak kesakitan" sahutnya.


"Eh bentar mas, apa ini pengalaman mas Fajar yang pertama?" tanya Citra


"Iya sayang, ini pengalamanku yang pertama bagiamana dengan kamu?" tanyanya balik


"Tentu yang pertama mas, aku masih perawan Ting-ting" jawab Citra dengan tersenyum.

__ADS_1


"Alhamdulillah ternyata kita sama ya" sahut Fajar lalu mengangkat Citra menuju tempat tidur


__ADS_2