
Untuk mengulur waktu, Rangga mengendarai mobilnya dengan sangat pelan.
Berkali kali dia curi curi pandang pada Bunga.
"Bagaimana aku bisa menyukai anak di bawah umur,kepribadiannya seperti Melati,apa gara gara itu aku menyukainya??"batin Rangga lalu menatap ke depan.
Bunga yang juga merasakan hal yang sama pun curi curi pandang pada Rangga.
"Bagaimana bisa kau menyukai lelaki dewasa seperti mas Rangga,ni mungkin karena aku kualat sama mas Raka dulu,tiap membully aku, aku selalu berucap gak mau sama pria dewasa."batin Bunga dengan menatap luar kaca.
Meraka kini tenggelam dalam pikiran masing masing.
Tak berapa lama mereka sampai dirumah Bunga.
Bunga pun menyuruh Rangga masuk dan duduk di sofa.
Rangga pun mengamati rumah Bunga,kini matanya tertuju pada foto berukuran besar,yaitu foto pernikahan Puput.
Dalam foto tersebut ada Raka dan lain lainnya.
Lamunan Rangga harus berakhir setelah ibu Bunga datang dan menyapa Rangga.
"Selamat siang nak,makasih ya sudah mengantar Bunga"basa basi ibu.
Bunga sudah menceritakan semua kepada ibu saat di dalam.
"Selamat siang tante,iya tadi kebetulan bertemu dengan Bunga si sekolah."timpal Rangga lalu mencium punggung tangan ibu Bunga.
Melihat sikap Rangga membuat ibu langsung suka sama Rangga.
"Fix tak jadikan mantu,udh sopan,tampan,baik hati tajir pula.
__ADS_1
Duh....Gusti,dapat mantu paket komplit lagi"batin ibu Bunga sambil senyam senyum sendiri.
Bunga seolah tau apa yang dipikirkan ibunya,
"Ibu gak usah mikir yang aneh aneh dulu,ingat Bunga masih kecil"bisik Bunga yang membuat ibu menepuk pahanya.
"Apa sih Bunga"gerutu ibu.
"Nak Rangga ibu tinggal sebentar ya?"kata ibu yang mendapat anggukan dari Rangga.
Ibu pun masuk untuk membuatkan jamuannya untuk Rangga.
"Bunga dimana kakak kamu satunya??"tanya Rangga.
Maksud Rangga bertanya dimana Tirta namun Bunga malah menjelaskan semua.
"Kak Puput ikut mas David Bryan.Kak Fajar bekerja di Pramana Bryan Group kalau kak Tirta juga bekerja namun kak Tirta membuka usahanya sendiri dalam kota ini.
"Maaf nak Rangga tidak bertemu apa apa saat maen kesini,ibu tidak tau kalau mau ada tamu,ayah Bunga juga ke luar kota jadi hanya ibu dan Bunga yang di rumah"kata ibu dengan tersenyum.
"Tante jangan gitu,ini juga lebih dari cukup tante,saya yang seharusnya minta maaf karena telah merepotkan"saut Bunga.
Mereka pun mengobrol bersama,ayah Bunga dan kakaknya Tirta memang tidak dirumah.
******
Disisi lain,aku dan Raka makan siang bersama di sebuah restoran.
Saat asik makan mataku tertuju pada seorang pengemis yang di pukuli di seberang jalan.
Seketika jiwa sosialku meronta.
__ADS_1
Tanpa ijin mas Raka aku langsung menghampiri pengemis tadi.
"Hey....Lepaskan pak tua itu"teriakku.
Raka yang melihatku berjalan keluar pun mengikutiku.
"Jangan ikut campur urusan kami"bentak preman yang memukul pengemis tersebut.
"Kalian memukuli orang tua di tempat umum jadi jelas urusanku."teriakku dengan bersiap dengan kuda kuda.
Raka yang baru datang pun memegang pundakku.
Dengan gaya coolnya Raka memasukan tangannya disaku
Dia mengambil dompetnya, lalu memberikan beberapa lembar uang warna merah.
"Kalian butuh ini kan??"Raka pun menyodorkan beberapa lembar uang warna merah.
Preman tersebut menyautnya lalu pergi.Aku pembantu pengemis tua tersebut untuk berdiri.
Kami pun memberi uang pada pengemis tua tersebut dengan jumlah nominal yang lumayan banyak.
"Kami pamit dulu ya pak,bapak hati hati.Lain kali jangan mencari gara gara dengan para preman."kataku lalu berlalu bersama mas Raka.
Kami pun kembali ke meja kami lagi,karena makan kami belum selesai bahkan tas dan ponselku juga tertinggal.
"Mas seharusnya kamu gak ngasih uang pada preman tadi,keenakan tu dia"gerutuku lalu duduk kembali.
"Sudahlah Mel,kalau gak gitu ga kelar masalah"saut Raka dengan tersenyum.
Kami pun melanjutkan makan siang kami,setelahnya kami kembali ke kantor.
__ADS_1
Hari ini aku memang ikut mas Raka ke kantor.