Menggoda Wanita Dewasa

Menggoda Wanita Dewasa
Bab 10 Tetanus


__ADS_3

Tatapan Yin Suhua seketika berubah drastis. Awalnya, dia mengira kalau para pelayan yang ditinggalkan ibunya pada waktu itu sudah tiada.


Dia tidak menyangka kalau di Kediaman Perdana Menteri masih ada Bibi Zhou.


"Bukankah mereka semua telah habis dijual?" tanya Yin Suhua dengan ekspresi yang tidak percaya.


"Saya juga baru menyadari keberadaan Bibi Zhou secara tidak sengaja. Tadinya, Bibi Zhou sedang ditindas oleh sekelompok wanita tua dan pembantu. Saya sendiri pun tidak tahan melihat kejadian itu. Tujuannya tinggal di Kediaman Perdana Menteri adalah untuk melindungi Selir Pangeran. Tapi dia melarang saya memberitahukan hal ini padamu. Bibi Zhou berkata kalau keberadaannya hanya akan menjadi beban bagimu. Jika Anda hidup dengan baik, dia akan merasa lebih tenang karena bisa menjelaskannya pada Nyonya."


Perkataan Ming Rui hampir membuat Yin Suhua meneteskan air matanya.


Orang yang bisa membedakan cinta dan kebencian akan semakin mudah terharu mendengar hal-hal seperti ini.


"Jadi, kenapa waktu itu ibuku bisa menikah dan tinggal di Kediaman Perdana Menteri?"


Hingga saat ini, Yin Suhua masih belum menemukan jawaban atas pertanyaan ini.


"Saya tidak tahu pasti tentang hal ini. Mungkin hanya Bibi Zhou yang bisa menjawabnya."


Yin Suhua lalu menatap Ming Rui dengan tatapan yang emosional.


Ming Rui memang sedikit lebih tua darinya. Namun, bagaimanapun juga dia hanya seorang gadis berumur tujuh belas tahunan saja.


Ibu Kandung Suhua sudah lama meninggal, dia waktu itu juga tidak mengetahui hal yang terjadi.


"Awalnya, aku sudah berencana untuk memutuskan segala hubungan dengan Kediaman Perdana Menteri. Namun, jika melihat kondisi saat ini, aku sepertinya harus kembali ke rumah orang tua tiga hari setelah hari pernikahan sesuai tradisi lama."


Dia sudah memutuskan untuk menolong Bibi Zhou.


Mo Junye meletakkan tangannya di atas meja, ekspresi wajahnya terlihat begitu tenang.


"Kamu juga merasa kalau aku baik-baik saja?"


Mo Junye merasa sedikit curiga akan benda yang ditusuk oleh Yin Suhua pada tubuhnya kemarin malam.


Jika benda itu hanyalah sebuah jarum akupuntur biasa, dia tidak mungkin jatuh pingsan.


Mo Junye masih mengingat jelas kondisi tubuhnya pada waktu itu. Tenaga yang ada di dalam tubuhnya dihisap perlahan hingga dia tidak sadar.


Pembaca sayangku, novel ini gratis dan sudah diupdate lebih dari 600 bab di App Fi/zzo. ( Waktu cari, jangan tambah "/")


Seorang pria yang berwajah putih dan mulus sedang duduk di depannya. Selain memiliki penampilan wajah yang tampan, pria itu juga terlihat ramah.


Tatapannya yang berkilau itu membuat orang-orang yang melihatnya merasa nyaman.


Dia adalah Tuan Qi, sosok yang sangat terkenal di antara para pengawal.


"Tidak ada masalah serius selain penyakit yang ada di dalam tubuhmu sejak awal," kata Tuan Qi dengan nada yang stabil.


Tatapan Mo Junye terlihat semakin kebingungan, "Apakah terdapat sebuah teknik akupuntur yang dapat membuat tubuh lemas dan kehilangan kesadaran?"


"Tidak ada."


Tuan Qi menjawab dengan singkat.

__ADS_1


Mo Junye merasa semakin kebingungan dan mulai menyadari kehebatan Yin Suhua.


Percakapan mereka baru saja dimulai, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.


Seorang pengawal berjalan masuk dengan ekspresi wajah yang panik.


"Pangeran, Kakak Chu terlihat sedikit aneh..."


Mo Junye menarik kembali tangannya sambil bertanya, "Ada apa?"


"Kakak Chu hanya tersenyum pahit terhadap semua perkataan yang kami ucapkan. Dia juga mulai kesulitan untuk menelan dan terus batuk-batuk...awalnya kami mengira kalau dia hanya masuk angin saja. Tapi saat ini, sekujur tubuhnya mulai kejang sampai dia berguling-guling di atas lantai..."


Tatapan Tuan Qi seketika berubah, "Benarkah?"


"Tuan Qi, mohon periksa keadaannya."


Mo Junye mengerutkan keningnya, informasi ini tentunya bukan informasi yang baik baginya.


"Karena aku sudah di sini, tentu aku tidak akan membiarkan hal ini begitu saja. Hanya saja..."


Tuan Qi menatap ke arah Mo Junye dan menahan perkataan yang hendak dia ucapkan, "Aku akan pergi memeriksanya dulu."


Mo Junye tidak lagi basa-basi. Dia segera menyuruh orang lain untuk menuntunnya.


Di dalam kamar tidur pengawal, sejumlah pengawal sedang mengelilingi seorang pria yang sedang terbaring di tengah ruangan. Wajah Kakak Chu sudah tidak bisa dikenali lagi karena pembengkakan.


Kondisinya saat ini jauh lebih parah dari deskripsi pengawal tadi. Bibirnya terlihat sangat kering, dia hampir mengalami dehidrasi.


Kesulitan dalam menelan dan sesak napas membuatnya tidak dapat makan maupun minum.


"Di mana orangnya?"


Mo Junye tidak basa-basi, karena waktu sangat berharga.


Semua orang pun membukakan jalan untuknya. Setelah menyadari keberadaan Mo Junye, Kakak Chu yang sedang terbaring berusaha berdiri untuk memberikan hormat padanya. Tetapi, dia sama sekali tidak bisa menggerakkan tubuhnya.


"Berbaringlah, tidak boleh terjadi apapun padamu!" kata Mo Junye dengan nada yang sangat serius.


Tuan Qi terlihat terkejut setelah menyadari kondisi Kakak Chu.


Dia merasa semua hal yang dia khawatirkan telah menjadi kenyataan.


Tuan Qi segera bertanya tanpa memeriksa urat nadinya, "Di mana titik luka pada tubuhnya?"


Para pengawal pun saling bertatapan, akhirnya salah satu dari mereka mengingat luka pada paha Kakak Chu.


"Apakah kalian semua bisu?" tanya Mo Junye dengan panik.


"Pangeran, Tuan Qi, luka Kak Chu ada di bagian paha. Tapi luka tersebut tidak terlihat parah, jadi kami tidak memerhatikannya hari itu."


"Sembrono..." Ekspresi wajah Tuan Qi yang awalnya terlihat ramah itu seketika berubah menjadi panik.


"Ambil gunting."

__ADS_1


Dia segera menggunting celana yang menutupi bagian paha Kakak Chu.


Pada bagian kakinya, terdapat sebuah luka yang tidak begitu besar. Meskipun sudah diobati, namun luka ini masih membengkak dan mengeluarkan nanah.


"Segera bersihkan luka ini dan jangan membungkus luka ini dengan kain kasa."


Tuan Qi memerintahkan para pengawal sambil berusaha untuk bersikap tenang.


"Baik, kami akan segera melakukannya."


Setelah melihat ekspresi wajah Tuan Qi, Mo Junye juga sadar kalau masalah ini tidaklah sederhana.


Mo Junye tidak menanyakan hal ini di depan para pengawal.


Tidak lama kemudian, Tuan Qi pun selesai menulis resep obat yang akan dia gunakan nantinya. Mo Junye kembali melihat nama obat-obat herbal untuk masuk angin seperti Saposhnikovia, Arisaema Cum Bile, Typhonium giganteum Engl, Notopterygium incisum, Angelica dahurica, Gastrodia elata dan lainnya.


Para pengawal segera pergi mencari obat-obat herbal tersebut setelah mendapatkan resep itu. Tuan Qi lalu kembali ke ruangan pribadi bersama Mo Junye.


"Apakah parah?" Akhirnya Mo Junye menanyakan hal ini padanya.


"Iya, Tetanus."


Perkataan itu berhasil membuat Mo Junye terdiam sesaat.


"Aku sudah memberikan obat tolak angin dan meredakan segala gejala. Aku sudah berusaha melakukan yang terbaik, sisanya tergantung pada takdirnya. Jika tidak begitu parah, masalah ini bisa diatasi dengan amputasi. Jika sudah parah, maka ini akan membahayakan nyawanya."


Tuan Qi menjelaskan segala kemungkinan yang ada pada Mo Junye.


Mo Junye terdiam selama beberapa saat dan tatapannya terlihat tidak fokus.


Beberapa saat kemudian, dia pun berbicara, "Tidak ada cara lain?"


"Lukanya sudah dibiarkan terlalu lama. Penanganan pertama yang dilakukan juga tidak benar. Saat ini, racun telah menjalar ke seluruh tubuhnya. Seandainya dia adalah kakekku sekali pun, aku juga tetap tidak mampu menyembuhkannya. Tetanus adalah sebuah penyakit yang sangat sulit untuk ditangani. Aku tidak menyangka kalau dia akan mengidap penyakit ini."


"Seberapa yakin kamu dapat menjamin keselamatannya?"


Tatapan Mo Junye terlihat penuh harapan.


Tuan Qi hanya bisa menghela napas dengan tidak berdaya, "Jujur saja, aku tidak begitu yakin."


Suara yang berasal dari luar ruangan kembali menghentikan percakapan di antara mereka.


"Pangeran, Kakak Yang tidak sengaja menabrak Selir Pangeran..."


Kakak Yang adalah pengawal yang ditugaskan untuk membeli obat pada resep.


Saat ini, Mo Junye tidak lagi memedulikan kondisi Yin Suhua.


"Kenapa?"


"Ketika pergi mencari obat, Kakak Yang bertemu dengan Selir Pangeran. Dia tidak sengaja menjatuhkan resep obat dan resep itu diambil oleh Selir Pangeran. Dia tidak ingin mengembalikan resep obat itu padanya..."


Nada suara pengawal ini terdengar tidak senang.

__ADS_1


Sahabat seperjuangan mereka sedang berjuang melawan maut, tentu saja jauh lebih penting dibandingkan Selir Pangeran yang bernama Yin Suhua itu.


"Bawa Selir Pangeran padaku!"


__ADS_2