Menggoda Wanita Dewasa

Menggoda Wanita Dewasa
BAB 96 - Nyusu Dulu


__ADS_3

Diantara keterkejutan Ghaisan yang belum reda tiba-tiba sang Ibu mengucapkan sebuah kalimat yang semakin membuatnya terkejut.


"Wah ide bagus itu, lagipula Ghaisan memang tidak punya kekasih, bisa-bisa dia kadi bujang lapuk," ucap Mutia, Alteza mengangguk setuju, yang lain pun langsung tersenyum menyambut ucapan itu, lain halnya dengan Ghaisan yang semakin mendelik matanya.


"Tunggu dulu, kalian tidak ada yang bertanya apa pendapatku?" Ghaisan akhirnya buka suara sebelum pembicaraan ini semakin jauh mendorong masuk ke sebuah jurang.


"Kenapa kamu mau menolak? menolak boleh, asalkan kamu sudah punya calon sendiri untuk jadi istrimu, Kalau tidak ada biarkan Mama dan Papa yang tentukan dan wanita itu adalah Dinara."


Seorang gadis yang namanya disebut mendadak menegang, dia tahu akan jadi seperti ini, Ghaisan menolak namun pihak keluarga bersikukuh untuk tetap melanjutkan perjodohan.


Tapi tidak apa-apa, memang inilah yang Dinara mau.


Dan mendengar ucapan sang Ibu Ghaisan tidak punya jawaban apa-apa, karena hingga kini dia memang tidak punya teman dekat wanita. Beberapa wanita yang sudah mendekati Ghaisan selalu mundur karena tidak tahan dengan sikap dinginnya.


"Tuh kan, nggak bisa jawab kamu, makanya nurut sama Mama," ucap Mutia.


Malam itu akhirnya kedua belah pihak keluarga itu bersepakat untuk menjodohkan anak-anak mereka Dinara dan Ghaisan.


Bukan hanya tentang perjodohan, namun mereka juga banyak memberi nasehat untuk mereka berdua apalagi pernikahan akan dilaksanakan secepatnya.

__ADS_1


Baik Dinara ataupun Ghaisan harus saling menerima satu sama lain, meski belum ada cinta di antara mereka namun mereka harus berusaha untuk membuat cinta itu ada.


karena pernikahan adalah ikatan Suci tidak ada yang bisa memutuskan selain kematian.


Dinara mengangguk setuju namun Ghaisan hanya diam, seolah hidupnya sedang dikendalikan.


Jam 9 malam keluarga Gunawan pamit untuk pulang.


Sebelum benar-benar pulang Dinara dan Ghaisan diberikan waktu untuk bicara berdua.


Sementara Davin menemani Viona untuk kencing di dalam kamarnya.


"Sudah Daddy, ayo kita turun," ucap Viona, setelah keluar dari dalam kamar mandi.


"Issh Daddy, di rumah saja susunya."


"Sebentar saja ah."


Davin dengan segera menarik pinggang sang istri, menyingkap gaun Viona hingga naik dan memperlihatkan kedua dadanya, Davin mengeluarkan satu seolah hendak menyusui bayi, lalu dilahapnya dengan jilatan-jilatan kecil.

__ADS_1


"Ah, Daddy, mana bisa tahan kalau begini, Mommy maunya lebih." lenguh Viona.


"Tuh kan, Mommy yang Mau, padahal Daddy tidak mau lo," jawab Davin.


Viona mendengus, penyatuan singkat di kamar suaminya ini seolah dia yang mau, padahal Davin yang pancing-pancing.


Disaat Davin dan Viona sibuk uh ah ih uh di lantai 2, di taman belakang suasana mendadak mencekam, dingin sekali gara-gara raut wajah datar Ghaisan, tatapan menusuk sampai ke relung hati Dinara.


"Kenapa tiba-tiba kamu ingin menikah denganku? padahal kita tidak mengenal dekat," tanya Ghaisan dan merindinglah Dinara.


"A-aku menyukai abang."


"Jangan bohong!"


"Tidak!"


"Cih, gelagatmu itu mencurigakan sekali. Jangan main-main dengan pernikahan, sekali kamu masuk kamu tidak akan bisa keluar!" Ancam Ghaisan.


Dan memang berhasil membuat Dinara takut, namun tekadnya sudah kuat untuk membuat Ghaisan tidak lagi menganggu rumah tangga sang kakak.

__ADS_1


"Kalau kamu tidak mau mengatakan alasan yang sebenarnya, maka aku akan mencari taunya sendiri," bisik Ghaisan,


Setelah itu Ghaisan pergi meninggalkan Dinara yang membeku.


__ADS_2