
Kedua tangan Viona bertumpu diatas dada sang suami, sementara pinggulnya terus bergoyang sesuai naluri.
Dan Davin menatap lekat tubuh sang istri yang sedang memuaskan kepala bawahnya.
"Uh Vioo," lenguh Davin, tubuh dan matanya sama-sama mendapatkan pelayanan ekslusif, siang yang benar-benar panas.
Mereka terus berbagi peluh sampai akhirnya ambruk seperti tak bertulang.
Menyisahkan deru nafas yang memburu dan bersahutan.
"Gila," ucap Davin dan Viona kompak, lalu terkekeh saat ucapan mereka sama.
Viona bahkan merasa kini intinya sudah lecet, membuatnya sulit untuk berjalan.
Malam ini, sepertinya mereka akan menginap di rumah ini, belum kembali ke apartemen.
"Sayang, kakiku lemas sekali, aku tidak bisa berjalan ke kamar mandi," rengek Viona, Davin memang pelepasan 2 kali, tapi Viona sepertinya lebih dari 10 kali membuatnya kini benar-benar kehabisan tenaga.
"Aku juga haus," keluh Viona lagi dengan suaranya yang nyaris habis, lelah mendesah nikmat.
Dan Davin hanya terkekeh, melihat sang istri yang sudah tidak berdaya. Terkapar diatas ranjang, sementara dia masih segar bugar.
"Sekarang sudah sore, keluarga kita juga pasti sudah pulang semua. Sebaiknya kita mandi, keluar nanti saat makan malam," ucap Davin, dia bangkit, mendudukkan sang istri dan memberinya minum, lalu menggendong Viona untuk diajaknya mandi.
__ADS_1
"Tapi jangan anu-anu lagi ya, aku capek."
"Iya enggak, cuma mandi aja," jawab Davin. Mereka berdua berendam di dalam bathtub dengan air hangat.
Terasa menyegarkan sekali untuk tubuh keduanya yang lelah.
"Biar aku yang menggosok tubuhmu," ucap Davin.
Dia mengambil spon mandi sang istri dan mulai menggosok tubuh Viona, di mulai dari kedua kaki jenjang sang istri.
Davin benar-benar menggosoknya dengan serius.
"Tanganmu," ucap Davin.
"Angkat," ucap Davin lagi.
"Sayang Geli," sahut Viona saat Davin membersihkan ketiaknya.
"Yang ini pake tangan aja ya," tawar Davin pula pada dua bongkahan sintal itu, Viona mengangguk dan membusungkan dada.
"Ahh sayang, jangan lama-lama disitu," rengek Viona.
"Abisnya gemes, lembut, ada pucuknya lagi."
__ADS_1
"Iish."
Davin terkekeh, dia menurut saat istri memintanya untuk memainkan dada, terakhir Davin menggosok punggung Viona.
Dan berakhir Viona yang menyandarkan punggungnya di dada bidang sang suami. Sampai-sampai Viona merasa jika senjata sang suami kembali menegang.
"Ini gimana tidurinnya sih, dari tadi tegang terus," tanya Viona, dia memejamkan matanya, menikmati pelukan sang suami. Mandi berdua seperti ini ternyata lebih menyenangkan.
"Ya harus dikeluarin dong sayang, tapi katanya kamu capek, ya sudah biarin aja dia tegang terus."
Viona tidak menjawab, dia malah terlelap di pelukan sang suami. Secepat itu dia terlelap ditempat yang paling nyaman, dekapan suaminya sendiri.
10 menit berlalu dan Davin membiarkan istrinya tidur, sampai dia bingung mau apa dan mulai memainkan dada Viona.
Satu tangannya membelai lembut dada itu, sementara tangannya yang lain turun hingga sampai ke lembah.
Viona mulai menggeliat saat Davin menggerakkan kedua tangannya dengan pelan, pelan-pelan namun memabukkan.
"Sayang," lenguh Viona yang mulai sadar dengan perlakuan sang suami, kakinya yang tadi lemas dia buat menegang untuk menikmati sensasi yang suaminya berikan. Pinggulnya pun menggeliat-geliat, ikut mencari kenikmatan yang nyaris datang.
Sampai akhirnya Davin berhasil membuat istrinya melayang meski hanya dengan kedua tangan. Viona segera berbalik, menyerang bibir sang suami dan mulai melakukan penyatuan di dalam air itu. Pergerakannya yang naik turun membuat air itu tumpah, jatuh ke lantai dengan tidak beraturan.
Davin bersandar dan menikmati semuanya, penyatuan terakhir di hari ini.
__ADS_1
"Ahg Vioo."