
Davin kembali membersihkan tubuhnya, mengganti baju dengan baru dan bersiap seorang diri, karena kini Viona sudah terkulai lemas diatas ranjang. Bahkan masih belum menggunakan pakaian.
"Ingat Mom, nanti siang datang ke kantor daddy."
"Siap Dad."
"Jangan pakai baju yang seksi, tubuh mommy sekarang hanya boleh daddy yang menikmatinya."
"Iya daddy ku sayang."
"Pakai lingeri langsung Ya?" pinta Davin dengan mengerikkan sebelah matanya genit.
"Siap Daddhhh," jawab Viona pula dengan suaranya yang menggoda, dicampur suara serak khas ketika mendapatkan pelepasan.
"Iih, Daddy harus segera pergi." Davin bergidik, saat melihat Viona mulai membuka kedua kakinya lebar untuk menggoda.
Davin bahkan sedikit berlari, buru-buru keluar kamar agar tidak kembali tergoda oleh rayuan kucing nakal.
Sementara Viona langusng terkekeh, lama-lama jadi tertawa keras.
"Lebih baik aku mandi, setelah itu melihat baby Dion," gumam Viona, lalu bangun. Dengan tubuhnya yang polos itu Viona memunguti bajunya sendiri yang berserak di lantai.
"Sepertinya aku harus membeli bra dan CD baru," gumam nya lagi.
Selesai memunguti Viona pun melempar semua baju kotor itu di keranjang. Lalu segera masuk ke dalam kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dibawah shower air hangat.
__ADS_1
Keluar dari sana dengan tubuhnya yang lebih segar.
Sementara itu di tempat lain, Davin mulai membuka berkas yang menjadi bahan meeting nya nanti. Kini dia masih berada di dalam mobil yang dikemudikan oleh sang asisten, Anton.
"Anton! kenapa penulisan laporan ini tidak seperti biasanya, aku tidak nyaman membacanya!" keluh Davin dengan suaranya yang cukup tinggi. Menatap tak suka pada berkas yang dia baca, pasti laporan ini kerjakan oleh orang lain bukan sekretarisnya yang biasa.
"Maaf Tuan, laporan itu memang ditulis oleh sekretaris yang baru."
"Sejak kapan sekretarisku berubah? kenapa aku tidak tau? kemana Nita?"
"Nita mengambil cuti hamil tuan, dia butuh bed rest."
"Siapa sekretaris barunya?"
"Seorang pria Tuan, Julian."
"Baik Tuan, maaf saya kurang teliti."
"Minta dia cetak ulang, aku tidak mau membaca yang ini. Membuat kepalaku pusing saja."
"Baik Tuan."
Sepanjang perjalanan itu Davin mengerucutkan bibirnya, sungguh tidak suka jika pekerjaannya jadi terhambat seperti ini.
Benar-benar membutuhkan Viona untuk mendinginkan otaknya.
__ADS_1
Tak berselang lama kemudian Davin dan Anton sampai di kantor.
Mereka berdua langsung menuju ruangan CEO dan Julian segera masuk untuk memberikan laporannya yang baru.
"Perkenalkan dirimu," bisik Anton pada sang sekretaris.
Dan Julian pun menganggukkan kepalanya kecil.
"Perkenalkan Tuan Davin, Saya adalah Julian, sekretaris 1 Anda yang baru," ucap Julian dengan suaranya yang mendayu, laki-laki tapi lebih banyak jiwa perempuannya. Dia bahkan berdiri tegap dengan kedua kaki begitu rapat.
Membuat Davin seketika bergidik ngeri, tidak jadi marah Tapi Davin malah jadi takut sendiri.
"Berikan laporannya dan segera keluar!" ucap Davin dengan suaranya yang tegas.
Dan mendengar suara tegas itu Julian mengulum senyumnya, suka sekali jika Bos nya memiliki aura pemimpin seperti ini.
"Baik Tuan," jawab Julian manja dan makin merindinglah Davin dibuatnya.
selepas Julian pergi, Davin menatap tajam sang asisten.
"Kamu pikir pekerjaanku ini lelucon! kenapa menerima orang seperti dia untuk menjadi sekretarisku!"
Anton membeku, sesungguhnya dia pun terkejut.
"Maaf Tuan, kemarin seingat saya dia masih lah seorang pria. Tidak tahu jika jadinya seperti itu."
__ADS_1
"Arghh!" Davin menjambak rambutnya frustasi.