Menggoda Wanita Dewasa

Menggoda Wanita Dewasa
BAB 53 - Karena Disini Dingin


__ADS_3

Kini Davin dan Viona sudah berdiri di halaman mansion, berdiri persis di sebelah motor milik Davin.


Davin pun melepaskan jaketnya dan memasangkannya pada Viona.


"Aku tidak mau pergi!" Viona masih berontak, bahkan enggan memakai jaket itu. Jaket yang mungkin juga tadi dipakai oleh Dinara.


Tapi Davin tidak peduli, tiap Viona ingin masuk dia akan mencekal tangannya, pun memaksa Viona untuk memakai jaketnya.


Lalu dengan segera pula Davin memasangkan helm yang sudah dia bawa, helm yang khusus dia beli untuk Viona andai mereka menggunakan motor ini bersama.


Namun Viona pikir ini pasti helm Dinara, karena dia tidak pernah naik motor Davin.


"Aku tidak mau pakai helm ini! ini pasti helm Dinara kan!"


"Bukan, ini helm mu."


"Bohong!!"


"Naik." tidak Davin.


"Tidak mau!"


"Naik."


"Tidak mau!!"


"Jangan membuatku marah juga, cepat naik," ucap Davin dengan suaranya yang dingin, mendadak Viona pun diam dari membentak-bentaknya dan naik ke atas motor Davin dengan hati yang terus menggerutu.


Saat Viona sudah naik, Davin dengan segera melajukan motornya, keluar dari halaman mansion dan masuk ke jalan raya.


Tapi Viona masih setia menjaga jarak, dia enggan memeluk punggung yang tadi pasti sudah dipeluk oleh Dinara.


"Pegangan," titah Davin.

__ADS_1


"Tidak mau!"


Davin segara rem mendadak hingga Viona jatuh di punggungnya, lalu Davin menahan tangan wanita itu dan melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.


Viona yang mulai merasa takut pun hanya mampu memeluk Davin erat, hingga entah dimenit keberapa motor Davin akhirnya berhenti di pinggir pantai kota itu.


Disini sepi, hanya terdengar deru ombak malam. Penerangan pun hanya dari lampu jalanan dan beberapa kedai makanan di pinggir pantai.


"Turun," titah Davin lagi.


"Kenapa kesini? aku tidak mau turun."


"Karena disini dingin, pasti bisa mendinginkan hati dan kepala mu yang sedang panas itu!" jawab Davin dengan kesal pula.


Viona mencebik, meski begitu akhirnya dia turun. Pasrah saat tubuhnya ditarik hingga sampai di bibir pantai.


Davin menggenggam tangan kekasihnya lalu memeluk dari belakang.


Viona terpaku, hawa yang dingin membuatnya begitu nyaman di posisi seperti ini.


"Tuh kan, lama-lama juga kamu jalan sama Dinara bilangnya nggak sama aku!"


Davin semakin memeluk Viona erat.


"Maafkan aku, aku salah."


"Memang salah, sudahlah ayo pulang!"


"Vio, jangan seperti ini."


Viona yang berontak membuat dekapan Davin terlepas, kini mereka kembali saling berhadapan.


"Jangan menyiksaku, aku sangat mencintaimu." lirih Davin.

__ADS_1


"Cinta tidak seperti ini, bukannya nyaman tapi kamu selalu membuatku takut_ emphhh"


Ucapan Viona terhenti saat tiba-tiba Davin menyesap bibirnya. Satu tangan Davin menahan tengkuk Viona, sementara tangannya yang lain menelusup masuk ke dalam jaket Viona dan meremass-remaas gundukan di dalamnya, mencari pucuk dan memilinnya kasar, hingga Viona memukul dadanya.


Mendorong kuat namun tetap tak bisa lepas, ciuman menuntut Davin makin memabukkan, apalagi saat satu tangan Davin yang meremas akhirnya turun dan bersarang di lembah yang lembab, mencari pintu masuk dan bersemayam disana.


"Viin, jangan disinih," lenguh Viona.


"Katakan kamu memaafkan aku, baru kita pergi."


"Ahh, kamu jahat."


"Aku hanya sangat mencintaimu Vio, sumpah! aku bisa melakukannya disini andai kamu tidak memaafkan aku." Davin mulai melepaskan celananya, namun dengan segara Viona tahan.


"Jangan gila! ayo ke apartemen."


"Katakan dulu kamu sudah memaafkan aku."


"Iya."


"Iya apa?"


"Iya aku sudah memaafkanmu."


"Benar?"


"Iya."


"Tidak bohong?"


"Tidak."


"Coba cium aku dulu."

__ADS_1


Viona berjinjit, menggantungkan kedua tangannya di leher sang kekasih dan mulai menyesap bibir tebal itu. Davin membalasnya, bahkan menekan bokong Viona agar dia tahu bahwa senjatanya sudah sesak.


__ADS_2