
"Abang, kok buru-buru pulang sih, kan Nara belum selesai konsultasinya," keluh Dinara dengan suaranya yang merengek.
Ghaisan bahkan menarik tangannya, ditarik untuk pulang. Dan Dinara mengikuti dengan langkah kaki nya yang terasa berat.
"Konsultasinya cukup, aku sudah sangat paham," jawab Ghaisan.
Mereka sudah sampai di parkiran rumah sakit, Ghaisan pun membukakan pintu mobil sang istri dan meminta Dinara untuk masuk. Lalu disusul pula oleh dia.
"Bener abang sudah paham? nanti sampai rumah bingung." tanya Dinara setelah suaminya duduk dengan sempurna di kursi kemudi.
"Iya."
"Coba jelasin ke Nara, dokter bilang keluar diluar, masa abis dimasukin di keluarin, kan nggak jadi anu-anu," tuntut Dinara dengan nada tidak terima, bingung mencari di mana kenikmatannya jika dikeluarkan.
dan sebelum menjelaskan Gaisan mengusap wajahnya kasar.
"Aku akan menjelaskannya di rumah."
Dinara pasrah.
20 menit kemudian mereka berdua akhirnya sampai di rumah. Karena ada Alteza dan Mutia di ruang tengah, jadi mereka ikut bergabung dulu disana sebentar, menyapa dan duduk di sofa.
__ADS_1
"Kalian tadi jadi ke rumah sakit nya?" tanya Mutia, dia mengelus punggung Dinara yang duduk disampingnya.
Merasa kasihan, pasti lelah semakin jadi Dinara. Di rumah harus melayani suaminya, lalu belajar kuliah juga.
"Jadi Ma, udah ketemu kok sama dokter mbak Vio dulu." Dinara yang menjawab.
"Lalu bagaimana? kamu sudah suntik KB?"
"Belum Ma, tunggu satu bulan dulu, kata dokter tadi bisa jadi Nara udah hamil, jadi harus dipastikan dulu."
"Nah iya Itu, jadi selama 1 bulan ini kalian jangan berhubungan dulu."
Gaisan dan Alteza yang Sedari tadi hanya jadi pendengar langsung menoleh pada dua wanita Itu, pembahasan yang semakin intim membuat keduanya kikuk.
"Kan anunya dimasuki_"
"Ayo ke kamar!" potong Ghaisan cepat, sebelum istrinya kembali berucap ambigu dan kemana-mana.
"Iya sana sana kalian istirahat saja, pasti capek." Setuju Alteza.
Dan sebelum Dinara kembali berucap, Gaisan sudah lebih dulu menarik istrinya untuk pergi dari rumah tengah itu.
__ADS_1
Membawanya naik ke lantai 2 dan masuk ke dalam kamarnya.
Di dalam sana Gaisan baru bisa bernafas lega.
"Abang, kan masih mau cerita sama Mama." keluh Dinara.
"Tidak usah cerita, langsung praktek saja."
"Hah?"
Gaisan menanggalkan semua bajunya dan sang istri, segera menuju kamar mandi. Disana mereka bukan hanya akan mandi, namun juga mempraktekkan langsung saran dokter Irna.
Agar Dinara tidak lagi banyak bertanya, atau pun berkeluh kesah dengan yang lain.
"Abang, kita kan ngak boleh gini-gini dulu. Tunggu satu bulan Uh Ah," desaah Dinara diantara ucapan yang keluar. Dia ingin menolak sentuhan sang suami, namun tubuhnya bergerak lain. Di dalam bathtub ini mereka saling mencium dan menjamah tubuh satu sama lain, bahkan satu tangan Dinara sudah memainkan belalai dibawah sana, membuatnya jadi semakin membesar.
"Aku akan menunjukkan padamu apa itu keluar di luar."
"Tapi kan dimasukin." Dinara masih tidak terima dengan istilah itu.
Dan tidak ingin mendengar keluhan sang istri lagi, Gaisan segera menyatukan diri, dia mengungkung istrinya di dalam bathtub. Bergerak terus sambil menunggu airnya terisi penuh.
__ADS_1