
Davin menunggu Viona dengan sabar.
Tapi setelah kekasihnya itu keluar dari dalam toilet, Viona malah menyembunyikan tespack di belakang tubuhnya.
"Kenapa?"
"Kita lihat di mobil saja," ajak Viona, dia bahkan berjalan lebih dulu meninggalkan Davin.
"Mana hasilnya?" tanya Davin, kini dia dan Viona sudah kembali masuk ke dalam mobil.
Viona menggenggam erat tespack di tangan kanannya, jantungnya bergemuruh merasa takut untuk mengetahui hasilnya.
Ketakutan yang dirasa oleh Viona terpancar jelas di wajahnya, hingga Davin bisa melihat dengan jelas.
"Kenapa? kamu tidak ingin mengandung anakku?" tanya Davin, tak ada lagi wajah slengean yang dia tunjukkan, kini raut wajahnya berubah jadi serius seolah menunjukkan sisinya yang lain.
Dan Viona malah tidak langsung menjawab, dia menelan salivanya dengan susah payah, takut salah berucap.
"Bu-bukan tidak mau mengandung anakmu tapi_"
"Tapi apa?"
"Tapi aku tidak ingin mengandung diluar pernikahan." jawab Viona, lalu menurunkan pandangannya agar tidak saling tatap dengan Davin.
Hening.
Ada nyeri yang dirasa oleh Davin didalam hatinya. Kini dia merasa jadi orang paling jahat sedunia, hanya memikirkan kesenangan dan egonya sendiri, tidak memikirkan bagaimana perasaan Viona dan masa depan anaknya kelak.
__ADS_1
Menyadari itu, Davin menarik pelan tubuh Viona untuk masuk kedalam dekapannya. dipeluknya tubuh Sang Kekasih dengan penuh kasih sayang.
"Maafkan aku," ucap Davin lirih, berbicara tepat di sebelah telinga Viona.
Bukannya terharu Viona malah merasa geli.
"Ayo kita lihat sama-sama dan semoga hasilnya negatif," timpal Davin lagi, seraya melepaskan dekapannya.
Mereka kembali saling tatap dan Viona menganggukkan kepalanya, lalu Davin pun mengecup bibir sang kekasih sekilas.
Setelah menarik dan membuang nafasnya, Viona mulai membuka genggaman tangannya sendiri.
Dengan perlahan memperlihatkan hasil testpack itu.
Negatif!
Davin dan Viona langsung saling peluk, merasa bersyukur dan mulai ingin memperbaiki semuanya.
"Boleh, tapi keluar di luar."
"Ahh, boros tissue dong sayang."
"Nanti dibahas lagi, sekarang kita pergi dulu, aku ke kantor kamu ke sekolah."
"Iya deh," jawab Davin pasrah.
*
__ADS_1
*
Hari ini adalah hari pertama Viona kembali ke perusahaan Gunawan Group (GG), kedatangannya sontak mencuri perhatian semua karyawan, meskipun hari kemarin sudah ada pemberitahuan tentang kembalinya Direktur Utama mereka.
Lora sang asisten menyambut kedatangan Bosnya itu di depan pintu perusahaan, lalu mengiringi langkahnya untuk naik ke lantai 10, dimana ruang direktur utama berada. Ini adalah kantor utama, sementara anak perusahaan pun tersebar di berbagai kota.
Tetapi ada satu yang membuat semua orang merasa heran, kini Viona datang dengan senyum yang mengembang.
4 bulan pergi dan kembali dengan perubahan yang begitu banyak, bahkan sesekali Viona menyahut sapaan para karyawaannya, sesuatu yang selama ini tidak pernah terjadi.
Dulu Viona dikenal sebagai pemimpin yang sombong, dingin, angkuh dan bossy. Tidak ada baik-baiknya di mata semua karyawan, bahkan sering jadi bahan pembicaraan.
"Apa yang sudah ku lewatkan selama ini?" tanya Viona setelah duduk di kursi kebesarannya.
"Proyek terakhir kita gagal mendapatkannya Nona, karena proyek itu jatuh ke perusahaan Alteza Grup."
"Sekarang berapa proyek yang sedang berjalan?"
"3 Nona."
Lora langsung menjelaskan beberapa proyek yang sedang mereka garap, diantaranya ada pembangunan rumah susun, hotel, dan mansion mewah milik salah satu pengusaha di negara ini.
"Ini apa?" tanya Viona pula pada berkas yang ada di hadapannya.
"Sebelum tuan Gunawan digantikan kembali dengan anda, beliau membuat proyek bersama dengan Alteza Grup."
Mega proyek, pembangunan sebuah wahana bermain taraf internasional di salah satu sudut kota.
__ADS_1
"Proyek itu sudah disepakati bersama, kita tinggal mengadakan beberapa pertemuan lagi dengan tuan Ghaisan."
Viona mengangguk.