
Davin hanya mampu menelan ludahnya dengan kasar saat melihat baby De minum susu dengan lahap, sementara Viona terus menatapnya tajam tidak membiarkan Davin sedikit pun mendekat apalagi menyentuh tubuhnya dan menyesap salah satu dadanya.
"Mommy jahat," gerutu Davin, malam ini dia akan merana karena tidur tanpa memainkan kedua gundukan sintal itu.
"Tahan Dad, sampai usia baby D usia 6 bulan dan ada asupan makanan lain yang masuk ke dalam tubuhnya, baru Daddy bisa main sepuasnya."
"Itu masih lama Mom, masih 3 bulan lagi." Davin mengerucutkan bibirnya, tanda protes.
"Lebih baik daddy ke ruang kerja sana, katanya ada kirimin email dari Ghaisan."
Bibir Davin makin mengerucut, tapi dia menganggukkan kepalanya kecil sebagai tanda pamit.
Lalu keluar dan turun ke lantai 1, menuju ruang kerjanya di mension ini.
di ujung tangga dia langsung bertemu dengan Gunawan, dilihatnya sang ayah mertua yang terkekeh pelan melihat kedatangannya.
"Kenapa papa ketawa seperti itu?" tanya Davin dengan nada tidak suka.
__ADS_1
"Karena papa senang, akhirnya baby D lebih disayang oleh Viona daripada kamu, hahahahaha," tawa Gunawan pecah, andai Davin tidak ingat jika itu ayah mertuanya, pasti sudah dia sumpek mulut Gunawan.
Plak! Dania langsung memukul lengan suaminya, hingga membuat tawa Gunawan reda.
"Papa nih apa-apaan sih, seperti anak kecil," keluh Dania.
"Iya Ma, papa memang seperti itu, kekanak-kanakkan," balas Davin dengan bibirnya yang mencibir.
"Kamu juga, jangan ganggu Viona kalau sedang menyusui Dion." balas Dania.
2 laki-lali ini tidak bisa membantah lagi, akhirnya Davin melanjutkan langkah ke ruang kerja, sementara Gunawan dan Dania naik ke lantai 2 menuju kamar mereka.
Jika sedang bersama Viona, Davin akan jadi sangat manja. Namun jika sedang bekerja seperti Ini, dia nampak begitu dewasa. Bahkan karismanya bisa mengalahkan sang kakak, Ghaisan.
Davin benar-benar bertanggung jawab dengan pekerjaan yang dia punya. Kurang lebih setahun memimpin Gunawan Grup, membuat semua orang percaya bahwa dia mampu. Bahkan Davin menjadi salah satu CEO muda yang digilai banyak wanita diluar sana.
Tapi sungguh, Davin tidak sedikit pun tertarik pada wanita di luaran, karena di rumahnya pun sudah ada Viona yang sangat dia cintai.
__ADS_1
Bahkan hingga detik Ini, Davin masih merasa takut jika Viona akan meninggalkan dia. Membuat Davin mengupayakan banyak hal agar dia terus pantas menjadi suami Viona.
Sudah jam setengah 10 malam, Davin menyudahi pekerjaannya. Namun belum sempat beranjak dari kursi kerja tiba-tiba ponselnya bergetar.
Ada panggilan dari Sassy, teman semasa dia di luar negeri dulu.
Davin sedikit mengerutkan dahinya, bertanya tanya ada apa wanita bar bar ini menelpon.
Tidak ingin urusan jadi panjang kali lebar, Davin pun segera menjawab panggilan itu dan menyudahi urusan diantara mereka.
"Apa apa?!" tanya Davin ketus.
"Astaga, ketus sekali suaramu! besok Aku, Lola, Dave dan Jacob akan ke Indonesia, sambut kami dengan baik!" jawab Sassy tak kalah ketus.
"Terserah kalian, jangan ganggu Aku, aku sedang sibuk!" tolak Davin, berhubungan dengan mereka akan bikin repot.
"Terserahlah, kami akan menemukanmu dengan mudah."
__ADS_1
Panggilan itu terputus, dan Davin langsung memijat kepalanya yang berdenyut.