Menggoda Wanita Dewasa

Menggoda Wanita Dewasa
BAB 67 - Marah-marah Terus


__ADS_3

Davin dengan segera menyelesaikan sarapannya, daripada pusing memikirkan perusahaan mertua, dia lebih memilih untuk meminum susu dulu. Susu dari sumbernya langsung.


Dengan memainkan lidahnya dipucuk semangka itu, Davin berhasil membuat Viona menggeliat diatas pangkuannya.


"Uh Viin."


Permainan lidah Davin semakin menjadi, mengulum menghisap dan melahapnya tanpa ampun, hingga kedua gundukan itu basah dengan salivanya sendiri. Sementara Viona terus menggesek-gesekan liangnya dengan inti sang suami yang sudah mengeras dibalik celana.


"Vin, aku mau."


"Mau apaa?" tanya Davin menggoda, dia sudah berhasil membuat Viona tak mengenakan sehelai benang pun diatas pangkuannya.


"Mau ini," jawab Viona pula dengan mengeluarkan senjata sang suami dan langsung menyatukannta begitu saja.


"Uh," lenguh keduanya saat penyatuan itu sempurna, tenggelam dan terasa hangat.


"Driving me crazy Mommy."


"As you wish Dad."


Setelahnya Viona mulai memompa diri, bahkan mengarahkan satu dadanya untuk masuk ke dalam mulut sang suami.


Di atas kursi meja makan itu mereka bercinta dengan panas. Saling bersahut desah dan bertukar nikmat.


"Jangan sampai kursi patah Mom."


"Jadi bagaimana? aku tidak bisa pelan-pelan."

__ADS_1


Davin menggendong sang istri tanpa melepaskan penyatuan, mereka pindah ke sofa di ruang tengah. Tapi kini Viona lagi yang diatas, melainkan Davin yang mengambil alih permainan.


Sampai akhirnya mereka sama-sama menumpahkan lahar hangat di penyatuan terdalam.


"Ahgt," rancau Davin.


*


*


Hari berlalu.


Tiba saatnya Davin menjalani ujian nasional. Agak pusing karena dari semalam Viona terus marah-marah padanya.


Bahkan dia tak menyusu sebelum tidur, jahat sekali bukan?


Dan Davin pun hanya mengangguk meski sebenarnya dia masih sedih.


"Abang bertengkar dengan mbak Vio?"


"Tidak."


"Lalu?"


"Vioku tidak memberiku susu," jawab Davin dengan wajahnya yang sendu. Dan Dinara pun ikut iba akan hal itu. Perkara susu saja kakaknya itu pelit sekali.


"Mungkin buru-buru ke kantor, jadi mbak Vio tidak memberi Abang susu," balas Dinara, menerka-nerka. Mungkin membuat susu akan membutuhkan banyak waktu, sementara Viona pun harus buru-buru ke kantor.

__ADS_1


"Tidak, semalam juga Vioku memberiku susu."


"Ya sudah nanti Abang buat sendiri."


"Buat sendiri?" ulang Davin, seketika itu juga dia sadar, jika dia telah salah mengajak orang bicara. Membicarakan susu istrinya pada Dinara.


"Ah iya, nanti aku buat sendiri," jawab Davin kikuk dan Dinara menganggukkan kepalanya dengan tersenyum.


Untung Dinara tidak menyadarinya, batin Davin.


Jam 11 siang Davin sudah pulang ke apartemen, Viona masih ada disini karena Viona tidak setiap hari ke kantor.


Pertama masuk, Davin langsung disambut dengan tatapan tajam sang istri.


"Masih marah? iya ini aku lepas kaos kakinya di luar," ucap Davin.


Kemarin Viona memarahinya karena Davin sembarangan menaruh baju dan barang kotor, sementara penciuman Viona semakin tajam dan gampang mual.


"Nih udah kan, peluk dong sebagai ucapan selamat datang."


"Nggak mau, Daddy langsung mandi sana, baru peluk-peluk mommy, mandi pake sabun mommy, jangan pake sabun Daddy, mommy nggak suka bau sabun Daddy," omel Viona panjang lebar. Dia bahkan berjalan lebih dulu masuk ke rumah memberi jarak antara dia dan Davin.


"Temenin yuk mandinya?"


"Nggak mau! mandi sendiri."


Davin pasrah.

__ADS_1


__ADS_2