Menggoda Wanita Dewasa

Menggoda Wanita Dewasa
BAB 30 - Jo dan Ron


__ADS_3

"Belum tau juga siapa kekasih Viona?!" tanya Dewa pada sang asisten, bertanya dengan nada membentak.


Hampir 1 bulan berlalu semenjak dia datang ke sekolah kekasihnya itu, tapi hingga kini Dewa masih belum tahu siapa pria yang sedang dekat dengan Viona.


"Maaf Tuan, tapi Jo dan Ron selalu tahu mata-mata kita."


Mendengar nama dua bedebah itu Dewa menggenggam tangannya kuat bahkan langsung memukul meja kerjanya dengan keras.


Brak!


"Kenapa 2 bedebah itu selalu menggangguku!"


Sejenak Dewa terdiam, kemudian teringat awal mula saat Jo dan Ron menuduh nya yang bukan-bukan.


Dari situ Dewa sadar jika sebenarnya Jo dan Ron hanya salah paham kepadanya, karena memang bukan dialah orang yang dituduhkan itu.


Dengan keyakinannya Dewa menemui Jo dan Ron untuk diajaknya bicara.


Dan kini mereka bertiga sudah duduk di salah satu kafe yang tak jauh dari sekolah Viona.


"Belum lelah juga anda selalu mengikuti nona Viona? Selama masih ada kami Anda tidak akan pernah mendapatkan apa yang anda inginkan, yaitu nona Viona," ucap Jo tak ada ramah-ramah nya sedikit pun.


dan mendengar itu Dewa membuang nafasnya pelan.


"Kalian sudah salah paham padaku, kita harus meluruskan semuanya."

__ADS_1


"Apa maksud anda?" Ron yang bertanya.


"Kalian menuduhku menghabiskan malam bersama Viona di hotel. Padahal aku tidak pernah melakukan itu, memangnya bukti apa yang kalian punya?"


"Tanda merah di leher nona." Jo


Dewa terperangah, benarkah ada tanda merah itu di leher Viona? Padahal selama ini mereka tidak pernah sampai sejauh itu.


"Sumpah! itu bukan aku!" jawab Dewa, dengan kilat marah di matanya.


Jo dan Ron yang melihat reaksi itu pun saling pandang, dalam hati kecil mereka seolah membenarkan apa yang diucapkan oleh Dewa, mereka berdua mulai percaya jika mungkin saja pria di hotel malam itu bukanlah Dewa.


Tapi siapa? batin keduanya.


"Pria itu bukan aku dan kalian yang sudah salah paham. Bahkan mungkin sekarang pria itu sudah sering menemui Viona!"


"Pria itu yang sudah menyentuh Viona, bukan aku!"


"Harusnya pria itu yang kalian pukuli Bukan Aku!!"


Dewa mulai marah dan menggebu-gebu.


"Tunggu dulu, jadi benar bukan Anda orangnya?" tanya Ron, mencoba tenang dan memahami situasi yang terjadi.


"Bukan!"

__ADS_1


Jo dan Ron menganggukkan kepalanya, kompak. Ya, berarti benar bukan Dewa lah orangnya.


Jo dan Ron bangkit hendak pergi.


"Eh eh eh! kalian mau kemana?" Dewa menahan kepergian mereka, Dewa juga ikut bangkit dan memegang lengan.


"Memangnya apalagi yang harus kita bicarakan?" tanya Ron acuh.


"Pria itu bukan aku, harusnya kita bekerja sama untuk menemukan pria itu!"


"Untuk apa bekerja sama? kami sudah cukup senang tahu jika pria itu bukanlah anda, siapapun pria yang menyentuh Nona kami akan mendukungnya asalkan itu bukan anda! Dan semoga saja pria yang menyentuh Nona bukanlah orang yang suka celapcelup seperti anda!"


Lagi-lagi Dewa terperangah.


Dia bahkan sampai tak bisa berkata-kata apa lagi, hanya mampu terpaku dan menatap nanar kepergian Jo dan Ron.


Di dalam mobil.


"Bagaimana ini Ron, berarti Nona melakukannya dengan pria lain, apa kita harus menyelidiki pria itu?"


Ron terdiam.


"Kita selidiki saja tapi tidak usah bertindak, setidaknya kita bisa tahu pria itu baik atau tidak."


Ron masih juga terdiam.

__ADS_1


"Ron! jangan diam saja, jawab dan ambil keputusan!"


"Entahlah, aku juga bingung."


__ADS_2