Menggoda Wanita Dewasa

Menggoda Wanita Dewasa
BAB 105 - Menggoda Ghaisan


__ADS_3

Hari ini mansion Gunawan kembali ramai seperti saat pernikahan Viona diadakan.


2 keluarga juga menggunakan baju yang senada sama seperti dulu.


Dan Ghaisan pun mengucapkan ijab kabul tanpa ragu. Sampai akhirnya dia menjadikan Dinara Gunawan sebagai istri.


Acara itu berlangsung hanya sampai siang, setelah menyantap makan siang bersama semua keluarga pulang.


Tidak ada acara sambut menyambut tamu jadi acara bisa cepat selesai.


Jam 3 sore ssmua sudah masuk ke kamarnya masing-masing untuk beristirahat.


Termasuk si pengantin baru. Dengan jantung berdegub hebat Dinara memimpin langkah mengajak Ghaisan untuk masuk ke dalam kamarnya.


"Ayo Bang masuk," cicit Dinara malu-malu, menunduk sambil mengigit bibir bawahnya.


Dan Ghaisan bingung mau lewat mana untuk masuk karena Dinara berdiri persis di ambang pintu. 🤣


"Bagaimana aku bisa masuk kalau kamu disitu?"

__ADS_1


Gelagapan Dinara menyingkir, masuk lebih dulu dan nyaris jatuh menginjak gaunnya sendiri. Untung Ghaisan dengan sigap menahan, menarik pinggang Dinara hingga aman.


"Hati-hati."


"I-iya Bang."


Dengan kikuk Dinara melepaskan diri. Mereka berdua akhirnya masuk ke dalam kamar dan Ghaisan pun menutup dan mengunci pintunya.


"Kamu atau aku yang mandi dulu?" tanya Ghaisan.


"Abang saja, aku mau hapus make up."


Setelahnya Ghiasan segera bergegas ke kamar mandi, tubuhnya gerah sekali. Meski tidak ada tamu yang dia sambut namun para keluarga tetap membuatnya kualahan, tubuhnya lengket dan ingin segera mengguyurnya di bawah shower.


selepas kepergian Ghaisan, Dinara mendadak gugup, takut dan cemas. memikirkan apa yang akan dilakukan setelah Ghaisan keluar dari dalam kamar mandi nanti.


"Anu anu pasti kan? tapi bagaimana mulainya? kata mbak Vio kalau bisa aku yang menggoda, tapi bagaimana caranya?" Nara kulu mikir tidak tenang. Dia bahkan menghapus make up dengan posisi berdiri dan tubuh tidak tenang.


gugup sekali.

__ADS_1


"Ayo Nara kumpulkan keberanian mu!" ucap Dinara, dia bahkan mengepalkan kedua tangannya kuat dan mengumpulkan kekuatan.


hingga sebuah ide gila akhirnya muncul di kepala, segila dia yang tiba-tiba melamar Ghaisan waktu itu.


"Ya, jangan tanggung-tanggung, malu malu sekalian!" ucap Nara lagi, dia sebisa mungkin meyakinkan dirinya sendiri, tidak ada kata malu diantara dia dan Ghaisan. Karena kini mereka adalah suami dan istri. Apa pun yang ada di tubuhnya adalah milik Ghaisan dan begitu pun sebaliknya.


"Ya! ayo nara!!!"


Dengan gerakan cepat, Nara segera menanggalkan semua baju yang melekat di tubuhnya. Mengikat rambutnya tinggi dan kembali memakai lipstik merah mudanya agar bibir itu terlihat pucat karena gugup.


Dengan tubuhnya yang tidak berpenutup, dia akan mendatangi Ghaisan di dalam kamar mandi. Diantara langkah kakinya yang berjalan, ada desiran dihati dan inti Nara, seolah tubuhnya tersengat listri tipis-tipis. Membuatnya merinding sendiri namun tetap harus kuat.


Dinara memutar ganggang pintu kamar mandi dan ternyata tidak terkunci, makin bergemuruh hatinya.


Nara membuka pintu itu, membuat Ghaisan menoleh ke arah pintu dan melihat kedatangan sang istri yang sudah telanjaang bulat. senjatanya yang tadi terlelap langsung bangkit seketika.


Pun Nara yang matanya langsung mendelik saat senjata itu seolah menodong kedatangannya.


Sumpah Dinara ingin mundur dan lari, namun dia memberanikan diri untuk masuk dan menghampiri. Lalu masuk ke dalam shower dan berdiri bersama dibawah guyuran air itu.

__ADS_1


Dan ...


__ADS_2