Menggoda Wanita Dewasa

Menggoda Wanita Dewasa
BAB 114 - Menuruti Fantasi Istri


__ADS_3

Ruang kerja Gaisan sudah bukan lagi berfungsi sebagai tempat kerja.


Kini ruangan itu sudah dialih fungsikan menjadi tempat bercinta antara dia dan sang istri.


Pintu terkunci dan Gaisan meminta pada sang sekretaris untuk tidak mengganggunya hari ini.


Korden dinding kaca di ruangannya pun dibuka lebar, memberi kesempatan cahaya untuk sebanyak-banyaknya masuk.


Sementara dia dan Dinara sudah memasang posisi diatas meja kerja. Dinara tidak memakai sehelai benang pun duduk di pinggiran meja, sementara Ghaisan yang masih berpakaian lengkap duduk di kursi kebesarannya.


"Buka kakimu," ucap Gaisan dan Dinara menurut.


Setelah membuka kakinya, kini Dinara membuka mulutnya menganga, merasakan nikmat saat Sang suami menjilati liang kenikmatannya.


"Ini diluar fantasiku bang." ucap Dinara diantara lenguhan yang juga ikut lolos.


"Lalu?"


"Ini terlalu nikmat."


Mereka melakukan percintaan dengan waktu yang cukup lama, tidak terburu-buru. Bahkan Dinara pun lebih dulu mengulum milik suaminya sebelum dia menenggelamkannya.

__ADS_1


Mereka benar-benar menikmati waktu kebersamaan ini.


Hingga jam 2 siang, barulah ruangan itu steril dari kata Ah yang bersahutan.


Mereka segera membersihkan tubuh dan kembali memakai pakaian, lalu duduk diatas sofa dan menikmati makan siang.


"Capek?" tanya Gaisan dan Dinara mengangguk lemah.


"Iya, hari ini berapa ronde coba? besok nggak usah lagi ya?" tawar Dinara.


Saking lemahnya bahkan dia makan disuapi oleh sang suami. Setelah mendapatkan pelayanan plus plus, kini Gaisan yang makan melayani istrinya.


Selesai makan siang, Dinara dan Gaisan pergi ke rumah sakit untuk konsultasi tentang anak dan kandungan.


Mereka menemui dokter Davin dan Viona dulu, dokter Irna..


Disana mereka berdua mengatakan tentang ingin menunda momongan.


"Kapan terakhir berhubungan badan?" tanya Dokter Irna.


"Tadi jam 1," jawab Dinara jujur dan Gaisan langsung menepuk keningnya pelan. Harusnya jawab saja bohong, kemarin atau setidaknya tadi malam, jangan tadi jam 1.

__ADS_1


Tapi ya sudahlah, Gaisan hanya bisa pasrah. Gaisan melihat dengan jelas dokter Irna yang mengulum senyum.


"Harusnya program menunda kehamilan sebelum ijab kabul, jadi setelahnya aman. Kalau sekarang bisa jadi Nyonya Nara sudah hamil," jelas dokter Irna apa adanya. Apalagi melihat tanda merah diseluruh leher Dinara, Dokter Irna yakin 100 persen jika pengantin baru ini selalu bercinta dimanapun dan kapanpun.


"Hah? saya hamil dok?" tanya Nara dengan was-was, jujur saja dia takut. Gaisan bahkan langsung memeluk bahu sang istri.


"Belum tau. Begini saja, untuk tau hamil atau tidak dan bisa melakukan tindakan KB, berhenti dulu berhubungannya, tunggu satu bulan lalu kembali dilakukan pemeriksaan. Kalau Nyonya Nara hamil, harus disyukuri. Kalau belum baru bisa program KB," jelas Irna, penjelasan yang dia harap bisa diterima oleh pengantin kecil ini.


"Jadi jangan anu-anu dulu 1 bulan, nanti baru diperiksa lagi?" tanya Dinara dan dokter Irna mengangguk.


"Nggak bisa nunggu satu bulannya sambil anu-anu?" tanya Nara lagi, dan bukan hanya Gaisan yang menepuk keningnya pelan. namun dokter Irna juga.


Astaga! batin Irna, biasanya yang akan mengeluh adalah suaminya, tapi sekarang malah istrinya.


"Bisa, tapi keluarnya diluar." Jelas Irna.


"Keluar diluar? kan dimasukin, kok di keluarin?" Dinara masih bingung.


Tahu jika istrinya akan mempersulit dokter Irna, Gaisan langsung pamit untuk pulang. Karna dia sudah sangat paham dengan konsultasi kali ini.


Gaisan bahkan sudah siap menjelaskan pada sang istri di rumah nanti, sekaligus praktek langsung.

__ADS_1


__ADS_2