Menggoda Wanita Dewasa

Menggoda Wanita Dewasa
BAB 100 - Latihan


__ADS_3

Dinara gelagapan meladeni ciuman Ghaisan, pergerakannya yang berontak malah diartikan lain oleh Ghaisan.


Ghaisan mengira Dinara mulai terbawa suasana hingga meraba dadanya. Dan karena kesalah pahaman itu, Ghaisan pun meraba dada Dinara.


"Hemph," berontak Dinara, namun lagi-lagi Ghaisan mengira itu adalah lenguhan nikmat, tanda Dinara menyukai aksinya.


Tidak puas merasa dari luar, Ghaisan pun menelusupkan tanya nya masuk ke dalam baju kaos yang dipakai oleh Dinara, sementara bibirnya terus melihat habis bibir sang gadis.


Seperti buru-buru, Ghaisan segera mengeluarkan salah satu dada itu dari menyanggahnya dan diremas-remas sesuai selera.


"Ah, Abang," ucap Dinara saat Ghaisan melepaskan ciumannya dan hendak menyesap pucuk dada itu.


Namun urung saat Dinara berteriak "Jangan!"


Pergerakan Ghaisan terhenti, menatap wajah Dinara yang pias dan merah merona.


Ghaisan sadar, dia baru saja membuat kesalahan. namun tidak ingin kekalahan ini membuat hubungan mereka menjadi Canggung akhirnya Gaisan kembali mencium bibir merah dengan pelan.


"Latihan," ucap Ghaisan.

__ADS_1


"Setelah menikah nanti kita akan melakukan lebih dari ini," timpalnya lagi membuat Dinara urung untuk marah, di ganti dengan menunduk malu.


Ghaisan tidak jadi menyusu, dia mengembalikan dada itu ke sarangnya dan membenahi baju Dinara.


Ah shiit! kenapa harus berhenti! ucap Ghaisan di dalam hati.


Gara-gara Dinara kini pangkal pahanya terasa sesak, ada sesuatu yang ingin di keluarkan.


Dan Dinara melihat dengan jelas kekecewaan yang terpancar dari raut wajah Ghaisan. Dinara cukup mengerti jika seorang pria memang membutuhkan sentuhan seperti tadi.


sebenarnya Dinara mau, lagipula niat awalnya memang ingin menggoda Ghaisan agar tertarik kepadanya.


padahal ini kesempatan bagus untuk dia bisa mengikat Ghaisan dan benar-benar memastikan pernikahan mereka akan terjadi.


Dinara mulai terpikir untuk kembali menggoda Ghaisan, untuk melakukan itu dia terus mengumpulkan niat di dalam hati, juga berulang kali menelan ludahnya kasar.


"A-abang," panggil Dinara lirih.


Sementara Gaisan langsung menoleh ke arahnya.

__ADS_1


"Apa?" tanya Ghaisan.


San setelah membuang jauh-jauh rasa malunya, akhirnya Dinara menyerahkan diri dengan sukarela.


Dia mendekati Ghaisan lebih dulu, mendorong kursi calon suaminya untuk mundur ke belakang Lalu dengan cepat dia naik di atas pangkuan Ghaisan.


kedua mata Gaisan mendelik melihat aksi Barbar ini, apalagi saat merasakan area sensitif Dinara yang langsung menduduki senjatanya.


"Latihannya yang bener," ucap Dinara, diantara semua rasa takut yang dia rasa. Dia akan sangat malu jika Ghaisan menolak, Karena itulah di dalam hatinya Dinara sangat berharap agar Ghaisan langsung menyerang dia.


Dan untungnya doa Dinara itu langsung terkabul, tanpa aba-aba Ghaisan langsung menahan tengkuk Dinara dan kembali menyatukan bibir mereka. kali ini Dinara menyambut itu bahkan membuka mulutnya dan menggantungkan kedua tangan di leher sang calon suami.


Dengan kaku Dinara membalas ciuman itu, dan tubuhnya menegang saat lagi-lagi Ghaisan menggenggam kedua dadanya.


"Uh," lenguhan kecil Dinara terdengar, dan makin tidak bisa berhenti lah Ghaisan.


Kini kedua dada itu benar-benar sudah keluar sempurna, bahkan salah satunya sudah memenuhi mulut Ghaisan.


Dan ketakutan yang tadi dirasa Dinara entah hilang kemana, karena kini hanya rasa panas yang menjalari tubuhnya.

__ADS_1


Tak ada penolakan, tidak ada kata jangan atau pun tidak, yang ada hanyalah ah.


__ADS_2