
"Abang ayoook," rengek Nara, dia bahkan dengan buru-buru melepas jas suaminya, lalu satu per satu membuka kancing sang suami.
"Eh Nara, jangan disini!"tolak Gaisan, dia menagan kedua tangan istrinya ini, mencegah Dinara agar tidak memperkossa dirinya.
"Dimana dong, gara-gara abang Dinara jadi mau Sekarang," rengeknya lagi, menggeliat-geliat diatas tubuh suaminya ini.
Membuat Gaisan tidak bisa lagi menolak.
"Kalau begitu kita cari tempat aman."
"Dimanaa?"
"Turun dulu."
"Jangan bohong."
"Tidak," jawab Ghaisan tegas, setelahnya Dinara benar-benar turun. Mereka berdua membenahi bajunya masing-masing lalu Gaisan melahirkan mobilnya keluar dari area parkiran itu.
Menuju halaman belakang perpustakaan kampus. Disini memang sepi, taman belakang yang hanya untuk parkiran. Tapi jarang juga dipakai oleh mahasiswa, karena mereka lebih suka parkir di depan.
Ghaisan tahu tempat ini, karena dulu dia juga kuliah disini.
__ADS_1
Baru memarkirkan mobilnya dengan sempurna dan belum sempat mematikan mesin, Dinara sudah lebih dulu menyerang sang suami.
Tiba-tiba beranjak dan duduk di atas pangkuan Ghaisan, lalu melepaskan kaos putihnya begitu saja hingga menampakan dada dengan penutupnya.
"Dinara, kamu benar-benar nakal ya."
"Kata mbak Viona, nakal sama suami sendiri nggak papa. Daripada nanti suaminya nakal sama perempuan lain."
Gaisan geleng-geleng kepala, ajaran Viona benar-benar mesum.
Dinara lebih dulu bergerak mengambil alih kendali, Dia yang duluan malumaati bibir suaminya, seolah memancing Gaisan untuk berhasrat sama seperti dia.
Dan bukan hal yang sulit untuk membangkitkan gairah suaminya ini, Karena sekarang pun Gaisan sudah berhasrat.
Ah, Dinara mendesah, saat suaminya mulai melepaskan ciuman dan turun melumaat pucuk dadanya hingga basah.
Dan Dinara sedikit bangkit laku mengeluarkan senjata suami dan dia ditenggelamkan nya pada liangnya sendiri. Dinara tidak melepaskan penutup inti segitiganya, model g-string membuatnya lebih mudah.
Dinara mulai bergerak, mencari sensasi yang menggelitik nikmat.
Mobil itupun mulai bergoyang pelan, sesuai dengan hentakan yang diberikan oleh Viona. Tapi kedua orang itu tidak menyadarinya.
__ADS_1
Masih asik menikmati surga dunia, hingga akhirnya sampai di puncak kenikmatan.
Ahk! lenguh Gaisan dan Dinara bersamaan, mereka saling memeluk erat, dengan kedua inti yang semakin tenggelam.
Kedutan itu membuat mereka mabuk. Menyisahkan nafas yang tersengal.
"Aku belum KB tapi kita keluar di dalam terus, kalau aku hamil gimana?" tanya Dinara, masih belum melepaskan diri. Masih merasa milik suaminya membesar di dalam sana.
"Telat Ah, udah keluar baru ngomong KB," balas Gaisan.
"Abang sih nggak ingetin Nara."
"Kok jadi aku yang salah."
"Abang kan kepala keluarganya, kalau abang inget in aku pasti nggak mau gini-gini."
Mengeram kesal, Gaisan lalu meremat kedua dada istrinya dengan kuat, hingga Dinara memekik nikmat.
"Abaang."
"Ronde kedua, istri yang selalu menyalahkan suami itu harus di hukum seperti ini."
__ADS_1
Dinara menggeliat, menikmati dadanya yang terus dipermainkan oleh sang suami.
Dan hari itu Dinara benar-benar tidak masuk kuliah, setelah ronde kedua di kursi belakang dia ikut Gaisan untuk pergi ke kantor.