
Dengan tergesa Davin mencabut dirinya lalu memuntahkan lahar itu tepat diatas perut datar sang kekasih. Pelepasan mereka tak bisa bersamaan, setelah Viona lebih dulu baru Davin menyusul.
Cairan kental itu berserak diatas tubuh Viona, membuat wanita ini merasa geli, lucu, tidak menyangka dia akan seperti ini bersama Davin.
"Kasihan anak-anakku, mereka berakhir disini, bukan di rahim hangat mommy nya."
Viona terkekeh, pun Davin yang ikut terkekeh pula.
"Akhirnya pake tisue juga," ucap Davin lagi, dia mengambil tisue kering diatas mejanya, lalu membersihkan perut Viona, lalu diakhiri dengan tisue basah.
"Ini jadi makanan semut sayang," kata Davin, lalu membuang tisue itu di tempat sampah.
Viona terkekeh, baru tahu kalau semut mau memakan cairan kental itu.
Mereka sama-sama membersihkan tubuh dan duduk bersama di sofa, meminum air dingin yang tersedia disana.
"Sayang, pernikahan impian mu seperti apa?" Tanya Davin, dia duduk dan meminta Viona membaringkan kepalanya di pangkuan. Ingin memanjakan kekasihnya agar tidak berpaling pada pria yang lebih dewasa dibanding dirinya.
Dan Viona menurut, kini dia tidur di sofa itu dan menjadikan kaki Davin sebagai bantalan.
"Dulu, aku ingin pernikahanku digelar mewah, aku jadi ratu sehari. Tapi sekarang tidak lagi."
"Kenapa? kamu malu karena pangerannya lebih muda daripada kamu?"
"Kenapa selalu itu yang kamu cemaskan, aku bahkan sudah memberikan semuanya kepadamu, kenapa kamu masih ragu?" jawab Viona, dari bawah sini dia menatap lekat kedua netra sang kekasih.
__ADS_1
"Maaf, aku hanya kurang percaya diri untuk bersanding denganmu."
"Sama, aku juga seperti itu. Saat aku melihatmu bersama Dinara, aku merasa kalian lebih cocok untuk bersama."
Hening.
Davin tidak menjawab dengan kata-kata, dia malah menunduk dan mengecup sekilas bibir sang kekasih.
"Ayo berhenti membicarakan tentang umur kita, tunggu saja sampai kamu lulus dan kita menikah," ucap Viona dan Davin tersenyum.
"Maaf, kalau aku jadi posesif, tidak bisa melihatmu dekat-dekat dengan pria dewasa, Ghaisan contohnya."
"Aku juga minta maaf, aku juga tidak suka melihatmu dekat-dekat dengan teman wanitamu, termasuk Dinara."
Keduanya terkekeh, ini cinta yang menyiksa, namun selama mereka masih berdua, mereka akan bisa melewatinya.
*
*
Hari berlalu.
Viona dan Ghasian sering bertemu, juga Davin dan Dinara yang jadi semakin akrab.
Meski sudah menjaga jarak, selalu ada saja yang mempertemukan mereka.
__ADS_1
Lama kelamaan jadi terbiasa seperti ini.
Sesekali Davin dan Viona pun mulai berbohong satu sama lain. Mengatakan dengan siapa padahal dengan siapa.
Seolah mereka sama-sama menanam bom waktu yang kapanpun siap meledak.
Kini Davin sedang sibuk-sibuknya di sekolah, dia mulai ada belajar tambahan untuk ujian nasional.
Dan hal itu tentu saja membuat waktu bertemunya dengan Viona berkurang.
Apalagi kini Viona pun tengah sibuk dengan pembangunan mega proyeknya bersama Ghaisan.
Jam 9 malam, Viona baru merebahkan tubuhnya diatas ranjang, dengan tubuh yang sudah lelah tak karuan.
Tiba-tiba perhatiannya teralihkan saat mendengar pintu kamarnya diketuk.
Dania datang dengan membawa segelas susu hangat, agar sang anak bisa tidur dengan nyenyak malam ini.
"Kamu sibuk terus sekarang, pulang malem terus, ih mama nggak suka," ucap Dania, dia tak tega melihat anaknya sibuk.
"Habis proyek ini selesai santai-santai lagi kok Ma."
Viona pun meminum susu pemberian sang ibu.
"Dinara juga sibuk, pulang sore terus gara-gara ada les. Tadi supir yang jemput mobilnya macet, untung ada Davin yang anterin dia pulang."
__ADS_1
Deg!