
Menjelang pernikahan besok, Viona tidak lagi tidur di apartemen. Setelah fiting baju dia pulang ke rumah, sementara Dania dan Mutia masih menemui katering yang akan mereka pakai.
Meski yang menghadiri hanya keluarga, tapi semua keluarga mereka tinggal di kota ini, jika di hitung-hitung nanti akan ada 50 orang yang datang, lengkap dengan anak-anak kecilnya.
Sampai di rumah, Viona mulai melihat banyak orang-orang dari WO ada disini untuk mendekorasi ruang tengah jadi ruang akad nikah dan kumpul keluarga.
Tapi Viona tidak banyak tanya, karena semua sudah disiapkan oleh Dania, dia hanya melewatinya begitu saja dan naik ke lantai 2 menuju kamarnya.
Saat ini jam 3 sore, Davin juga masih mengikuti les di sekolahnya. 2 minggu lagi les itu akan berakhir, lalu siap-siap menyambut ujian nasional.
Sampai di kamar Viona langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Dia memejamkan matanya dan langsung terbayang wajah Davin yang sedang menggagahinya.
"Hii, aku benar-benar sudah gila," umpat Viona sendiri, sadar sudah jadi budak cinta sang calon suami.
Tidak ingin terbayang-bayang wajah Davin, Viona memutuskan untuk mandi saja, berendam di dalam bathtup dan mendengarkan lagu kesukaannya.
Tapi baru berendam 5 menit, lagu yang yang sedang di putar di ponselnya berubah jadi dering.
"Kenapa Davin menelfon, bukannya dia sedang les," gumam Viona, lalu tanpa pikir panjang dia langsung menjawab panggilan itu dengan tubuh yang hanya di tutupi oleh busa.
__ADS_1
"Aatagfirulahalazim," ucap Davin di ujung sana, hari ini dia tidak jadi les karena guru yang mengajar sedang sakit.
Kini Davin pun sudah berada di rumah.
"Sayang, kira-kira dong kalau mau video call, jangan pas lagi mandi gitu, telanjaaang pasti kan?" tanya Davin dengan nada tidak terima, kini dia duduk di meja belajar.
"Kan sayang yang telfon aku, nanti nggak diangkat marah."
"Ya iya sih, itu kenapa ketutup busa, lihat dong."
"Iis, sayang kenapa di rumah, bukannya hari ini masih les?" Viona tidak menuruti Davin, dia bertanya lain dan meletakkan ponselnya berdiri di samping bathtub. Memperlihatkan semua aktifitas yang dia lakukan, menggosok halus semua bagian tubuhnya.
"Sayang, kamu menyiksaku," ucap Davin dan Viona hanya terkekeh.
"Ayo bicara saja, agar sayang tidak berpikir yang anu-anu."
"Mana bisa bicara, fokus ku hanya pada dadamu."
"Setelah menikah, sayang bebas menikmatinya setiap detik, karena kita akan tinggal bersama dan lebih leluasa."
"Aku akan terus mengurung mu di rumah."
__ADS_1
"Kurung aku, kurung aku."
"Vionaaa!" kesal Davin saat melihat sang kekasih sudah genit seperti itu, masalahnya Viona tidak ada disini, kalau disini sudah dia anu.
"Aku ingin kita melakukannya di dapur saat kamu menyiapkan sarapan," ucap Davin mulai berfantasi ria.
"Tapi aku tidak bisa masak."
"Kalau begitu saat sedang membuatkan aku susu."
"Buat susu sambil nyusuin yah?" tanya Viona genit dan makin menjadilah fantasi Davin. Rasanya bahkan kini mulutnya sudah penuh oleh semangka sang kekasih yang menggantung.
"Kita tinggal dimana setelah menikah? di apartemen atau di rumah yang papa berikan untukku?" tanya Davin. Anak orang kaya hidupnya sudah terjamin sejak di dalam kandungan. Davin dan Ghaisan, juga Viona dan Dinara hanya meneruskan bisnis keluarga. Karena memang merekalah para pewarisnya.
"Di apartemen saja, kalau kita sudah punya anak baru pindah ke rumah."
Davin mengangguk.
Sampai Viona mengguyur tubuhnya di shower Davin terus menyaksikan melalui panggilan video itu.
Dan mati saat Viona memakai hand body lotion, Davin tak kuat melihatnya karena membayangkan Viona yang tengah menggosok miliknya yang menegang.
__ADS_1