
Davin mendengus kesal, entah kenapa dia benci sekali mendengar kesombongan Ghaisan. Dari dulu mereka memang selalu berdebat, bersaing dalam banyak hal.
Aku harus bisa membuat Viona hamil lagi, agar kedudukan ku semakin tinggi dibanding Ghaisan. Batin Davin.
Keduanya terus berjalan hingga akhirnya sampai di meja makan. Gunawan tidak ada disana, pagi ini dia memutuskan untuk joging keliling komplek bersama bapak-bapak yang lain.
"Papa mana Ma?" tanya Davin, dia dan Ghaisan pun mulai duduk.
"Joging, katanya mau cari sarapan di luar juga, mungkin pulangnya nanti jam 9an."
"Joging sama siapa?" Ghaisan juga ikut buka suara.
"Bapak-bapak disini."
"Yakin Ma cuma bapak-bapak, jangan-jangan ada gadisnya." Davin kompor.
"His! ngomong apa sih kamu!" kesal Ghaisan, Davin selalu saja seperti itu, membuat keruh air yang bening.
"Ya nggak papa ada gadisnya juga, mama tidak masalah," jawab Dania enteng, dia memang tipe wanita yang bukan pencemburu. Apalagi usianya jauh lebih muda dari Gunawan. Gunawan akan sangat merugi jika sampai menghianati dia.
"Wuish! mama memang istri idaman," seloroh Davin.
"Dimana Dinara dan Viona?" tanya Dania, baru sadar jika kedua anak gadisnya tidak ada.
"Masih males bangun Ma, nanti biar Davin bawa sarapan Viona naik."
"Sama Ma, Dinara juga. Cuma minta susu sama roti."
Dania mengangguk.
Mereka bertiga lantas sarapan bersama.
__ADS_1
Waktu berlalu.
Kini usia baby Dion sudah memasuki bulan ke 6. Mulai MPASI dan didampingi oleh baby sitter.
Viona hanya terus memompa asi nya dan menyimpannya di kulkas, sementara semua urusan baby D sudah diserahkan pada sang baby sitter, nanny Hanna. Usianya sama seperti Dania, 42 tahun. Sengaja mencari yang tua agar Viona tidak cemburu-cemburu.
Satu bulan pun sudah berlalu dan kini fokus Viona kembali mengurusi suaminya.
Seperti pagi ini, Viona menyiapkan semua keperluan suaminya yang hendak pergi bekerja.
Termasuk memasangkan dasi.
"Daddy, nanti pulang jangan sore-sore, kita shopping ya? kayaknya baju daddy udah ini ini aja, nggak ada yang baru," ucap Viona.
"Oke Mom, apapun keinginan mommy akan daddy penuhi."
Viona mengulum senyum.
Dan Viona langsung memukul dada sang suami.
"Bagaimana kalah nanti siang mommy yang samperin daddy di kantor? setelah itu baru kita shopping sama-sama."
"Di kantor mau ngapain Dad?"
"Main kuda-kudaan Mom."
"Kenapa nggak sekarang aja?"
"Pagi ini daddy ada meeting Mom."
"Main cepet dong Dad."
__ADS_1
"Tapi siang nanti lagi ya? mommy kan tau daddy sukanya pelan-pelan, banyak foreplay."
"Iya nanti mommy ke kantor daddy."
"Yes!"
"Tapi sekarang mommy mau," Viona mulai menggeliat manja. Tangan nakalnya pun sudah mengelus senjata sang suami yang masih dalam sangkar.
"As you wish Mom," balas Davin, dengan gerakan cepat dia menarik Viona dan membantingnya di pinggiran ranjang. Membuat Viona menungging dan langsung ditusuknya dari belakang. Jleb!
"Ah Daddhhh."
"Bagaimana Mom? enak?"
"Harder Dad, Hardd."
Davin semakin menghentak istrinya kuat. Kedua tangannya pun langsung bergerak melepaskan gaun sang istri dan menyisahkan tubuh polos Viona, sementara dia masih memakai baju, meski bawahannya sudah terlepas semua.
Davin meremat dada Viona dari belakang, membuat Viona mengeram merasakan nikmat.
"Uh Daddyyhh, ah.. Terus Dad."
"Mom, ini nikmat sekali."
"Dadh, mommy mau keluar ahh. "
"Tahan Mom, sebentar lagi."
"Mommy tidak sanggup lagi, uh ah."
"Sekarang."
__ADS_1
"Aahhrgg!" keduanya menjerit nikmat.