
Yang mengetuk pintu kamar Davin dan Viona adalah Dania, dia memanggil Davin untuk menemui Gunawan di ruang kerja.
Dan disinilah kini Davin duduk, berhadapan dengan sang ayah mertua dan hanya dihalangi oleh meja kerja.
Setelah mengantarkan Davin, Dania meninggalkan kedua pria berbeda generasi ini.
"Ada apa Pa?" tanya Davin, lebih dulu buka suara.
"Tentang Ghaisan, apa benar di usianya yang segitu belum memiliki kekasih?"
Davin mengulum senyum, masalah kekasih memang dia yang lebih unggul.
"Tidak ada Pa, Ghaisan tidak pernah sekalipun membawa wanita yang dikenalkan pada mama Mutia dan papa Alteza. Ku rasa dia memang tidak menyukai wanita, hahaha."
"Hus! kamu ini!"
Rawa Davin surut, mencoba kembali bicara serius.
"Selama ini Ghaisan hanya fokus untuk bekerja saja Pa, sepertinya dia belum ada keinginan untuk menikah. Baginya pun usia 20 tahunan itu masih muda, aku pernah dengar dia ingin menikah kalau umurnya sudah 30."
"Harusnya pas saat Dinara Wisuda kan? Tapi Dinara mau sekarang, bagaimana ini menurutmu? apa Ghaisan mau menerima Dinara."
__ADS_1
Davin berpikir sejenak, mana tau dia jawabannya. Harusnya tanyakan langsung pada Ghaisan.
"Mana aku tau Pa. Lebih baik kita tanyakan langsung pada Ghaisan."
"Hih, bicara denganmu tidak ada hasilnya." keluh Gunawan.
Dan Davin hanya terkekeh saja.
Malam datang.
Keluarga Gunawan akhirnya mendatangi keluarga Alteza, sebelumnya Dania sudah memberi tahu mutia tentang kedatangan mereka malam ini.
Jadi Mutia sudah menunggu dan menyambut mereka semua. langsung memeluk sang menantu yang sedang mengandung cucu pertamanya.
Sudah waktunya bicara namun Gunawan bingung bagaimana memulainya, dia sungguh tidak pernah melakukan perjodohan, ini terasa seolah dia mau melamar Ghaisan.
Astaga! hidup punya dua anak perempuan ternyata sangat sulit! umpat Gunawan di dalam hati.
Sementara Dinara pun sama gugupnya seperti sang ayah, kedua telapak tangannya bahkan sudah basah dengan keringat dingin. Tidak sabar juga menunggu ayahnya bicara.
Dan melihat Gunawan yang kebingunan akhirnya Davin yang buka suara.
__ADS_1
"Kami ingin menjodohkan Dinara dengan abang Ghaisan, bagaimana?"
HA? Alteza, Mutia dan Ghaisan sama-sama terkejut, mata mereka mendelik, seolah tidak percaya dengan apa yang di dengar.
"Biasa aja sih, Dinara suka sama abang Ghaisan, jadi dia mau dijodohkan sama abang, gitu."
Gunawan menyentuh dadanya, menahan jantung agar tidak copot, pembicaraan serius seperti ini bisa-bisanya Davin tetap main-main seperti itu. Sedangkan Dania memijat keningnya yang merasa berdenyut, lain halnya dengan Viona yang mendukung tindakan suaminya itu.
Biar tidak bertele-tele langsung saja diutarakan maksudnya.
"Tunggu, bicaranya pelan-pelan, gimana?" tanya Mutia.
Dan Kali ini Viona yang menjawab. Viona menjelaskan dengan rinci kedatangan mereka malam ini, yang bermaksud melamar Ghaisan untuk Dinara.
Adiknya mencintai Ghaisan dan ingin segera diadakan pernikahan. Karena Dinara merasa diantara mereka sudah saling mengenal, tidak perlu ada pendekatan yang malah akan menjadikan ladang zina, jadi langsung saja menikah.
Mutia dan Alteza mulai paham, lain halnya dengan Ghaisan yang begitu syok.
Bagaimana bisa tiba-tiba seorang gadis datang untuk melamar dirinya? dan parahnya lagi gadis itu adalah Dinara.
Sementara diantara meeka tidak pernah sedikitpun ada hubungan apa-apa, hanya saudara dari pernikahan Davin dan Viona.
__ADS_1
Tidak, Ghaisan menggeleng.