
"Sayang hamil?" tanya Davin sekali lagi dengan lebih antusias, sementara Viona hanya mengedikkan bahunya sebagai jawaban, lalu membenahi bajunya kembali agar dadanya sedikit tertutup.
"Sayang, aku ke kamar mandi sebentar ya," izin Viona dan Davin mengangguk, karena dia pun ingin ke kamar mandi juga untuk membersihkan senjatanya.
Davin dan Viona memang sudah tidak boleh bertemu berdua, tapi jarak yang jauh tidak membuat mereka seperti terpisah. Karena nyatanya mereka masih tetap merasa dekat.
5 menit di kamar mandi dan mereka kembali bertemu di panggilan video itu.
Viona tengkurap diatas ranjang hingga membuat dadanya menggantung dengan sangat jelas.
Rasanya saat ini Davin ingin sekali berada di bawah tubuh Viona itu.
"Sayang, besok pagi langsung beli testpack y? langsung diperiksa, kamu hamil atau tidak, aku sih berharapnya kamu hamil, jadi kita bisa langsung menikah," jelas Davin panjang lebar.
Viona menggunakan satu tangannya untuk menyangga kepala dan mengangguk kecil.
"Iya sayang, kalau tidak hamil bagaimana?"
"Ya buat lagi," jawab Davin santai, sementara Viona mencebikkan bibirnya.
Mereka berdua akhirnya sepakat untuk besok pagi-pagi bertemu di salah satu apotek, saat itu juga Viona bahkan akan memeriksakan dirinya langsung menggunakan testpack.
Malam ini Viona tertidur lebih dulu, sementara Davin memperhatikan kekasihnya yang terlelap dari layar ponsel.
__ADS_1
Pagi datang.
Viona tidak ikut sarapan, dia sudah diburu janji untuk bertemu dengan Davin di apotek. Namun berkilah pada semua keluarganya bahwa ingin datang lebih awal ke kantor.
Sekitar 15 menit dalam perjalanan, Viona Akhirnya sampai di tempat yang sudah dia dan Davin janjikan.
Davin bahkan sudah sampai lebih dulu dan menunggunya di parkiran Apotek gitu.
Melihat mobil kekasihnya datang Davin turun dari motornya dan menghampiri Viona, membuka pintu mobil itu, masuk dan duduk begitu saja.
Seperti biasa, sebelum melakukan pembicaraan mereka akan lebih dulu berciuman. Saling melumaat dan Davin meremaas-remaas sesuatu yang dia suka, yang semalam selalu menghantui pikirannya, dada sang kekasih.
"Uhg Vin, sadar sayang, bukan ini tujuan kita," lenguh Viona, karena bukan hanya meremaas, kini wajah Davin sudah bersarang di dadanya, dan mengulum salah satu.
Tapi Davin tidak mau dengar, dia semakin menurunkan baju sang kekasih hingga kedua bongkahan itu menyembul sempurna dan dilahapnya bhingga basah.
"Ahh Vin, pelan-pelan."
"Sayang, desahaanmu buat aku tidak bisa berhenti."
"Tapi jangan disini."
"Tidak apa-apa, ini masih sepi."
__ADS_1
"Tapi nanti mobilnya goyang."
Davin menarik diri dari dada kekasihnya dan mulai berpikir.
"Kita beli testpack dulu, nanti baru cari tempat. Motor ku tingga di sini saja."
"Oke," Balas Viona.
Saat itu Viona lah yang turun turun untuk membeli testpack di apotek dan setelahnya Davin mengemudikan mobil Viona menuju salah satu hotel terdekat, mereka tidak melakukan pemesanan kamar hanya numpang parkir di basement hotel.
"Naik," pinta Davin saat mobil itu sudah terparkir dengan sempurna dibagian paling ujung.
Dan Viona bergerak cepat untuk duduk diatas pangkuan Davin.
"I will drive you crazy baby," ucap Viona dengan nakalnya, bahkan satu tangannya menurunkan sendiri satu pengait bajunya, buat Davin mengeram penuh nafshu.
Dan pagi itu adegan panas pun terjadi lagi. Viona mengulum milik Davin sebelum akhirnya dia menenggelamkan dengan sempurna di liang kenikmatannya.
20 menit kemudian, mereka sudah beres-beres badan, Viona turun dengan intinya yang ngilu menuju kamar mandi hotel di basement itu, untuk memeriksakan dirinya menggunakan testpack. Dan Davin pun ikut turun, dia menunggu di depan pintu kamar mandi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hasilnya besok ya🤣🤣
__ADS_1
jangan lupa sajen 🌹🌹