Menggoda Wanita Dewasa

Menggoda Wanita Dewasa
BAB 109 - Menerima dengan Suka Rela


__ADS_3

"Abang jangan marah-marah dulu, dengarkan dulu penjelasan ku," ucap Dinara dengan suaranya yang bergetar, kini bahkan dia sudah menangis.


Dinara paling tidak bisa diperlakukan dengan sikap dingin seperti ini, hatinya begitu lembut mudah untuk merasa bersedih.


Sementara Gaisan tidak memberikan respon apa-apa, tetap menatap dingin dan menunggu penjelasan Dinara selanjutnya.


"Dulu memang itu alasannya aku mau menikah dengan abang, tapi sekarang tidak lagi. Sekarang aku benar-benar menyukai abang," jelas Dinara, sesenggukan.


Dinara bahkan mengatakan dia mulai takut kehilangan Gaisan, takut tiba-tiba ada wanita lain yang masuk ke dalam rumah tangga mereka dan merebut Ghaisan.


Karena itulah malam ini dia begitu berani untuk menyerahkan diri, tanpa sehelai benang pun dia menghampiri Gaisan.


Jika rasa cinta itu belum ada, Dinara yakin dia tidak akan berani melakukannya, dia pasti akan lebih memilih untuk menunda.


Dan Gaisan terus mendengarkan, mencoba percaya dan mencari kebenarannya sendiri dari kedua mata sang istri yang kini sudah basah dengan air mata.


"Abang jangan marah, percaya padaku," pinta Nara lagi diantara tangis yang semakin deras, makin merasa karena Ghaisan tidak berniat memeluk dan menenangkan dirinya.


Tangis Dinara makin menjadi, semakin keras hingga membuat Ghaisan mendadak bingung.


Bisa bahaya jika serumah ini bangun gara-gara tangis Dinara. Dan bisa gawat pula jika semua orang sampai tahu masalah rumah tangganya.


Maka dengan gerakan cepat, Gaisan segera memeluk Dinara. mendekapnya dan mengelus punggung sang istri berulang.

__ADS_1


"Iya iya aku percaya, sudah jangan menangis."


"Abang bohong, pasti abang masih matah sama Nara, huhuhu huuu."


"Tidak, aku serius, aku percaya padamu."


"Bohong, apa buktinya?" tanya Dinara, kini malah seolah dia yang marah sementara tersangkanya adalah Gaisan.


Seolah dunia berbalik dalam sekejab saja.


"Kamu mau bukti apa?" tanya Gaisan yang bingung.


"Kan malah tanya aku, harusnya abang pikir sendiri dong," keluh Dinara dengan tangis yang tak reda-reda.


Dan ternyata ciuman itu berhasil membuat Dinara diam.


Suara tangis yang tadi memenuhi seisi ruangan ini, kini diganti dengan suara decapan sebuah ciuman. Dinara membalas ciuman itu bahkan menggantungkan kedua tangannya di leher sang suami. Dan Ghaisan segera menggendongnya seperti bayi Koala, lalu membawa Dinara dan didudukannya di atas ranjang.


Setelahnya Dinara malah menjatuhkan diri, menarik Ghaisan hingga menindihnya.


Dan saat ciuman itu terlepas, mereka saling tatap dengan jarak yang sangat dekat.


"Abang jangan suka marah-marah, aku sedih kalau abang begitu."

__ADS_1


"Aku tidak akan marah jika kamu tidak membuat ulah."


Dinara mencebik.


"Maafkan aku," cicit Nara.


Dan setelah membuang nafasnya berat akhirnya Gaisan menganggukkan kepala. Apapun alasannya dan bagaimanapun caranya gini dia dan Dinara sudah sah menjadi suami dan istri.


mau tidak mau mereka harus bertanggung jawab dengan hubungan itu, menerima satu sama lain dan membuat keluarga yang bahagia.


"Aku tidak pernah memiliki hubungan apapun dengan Viona, jadi jangan sembarangan menuduhku."


"Iya Bang, maafkan aku."


"Kamu dapat dari mana foto itu?"


"Ruangan kerja papa Gunawan."


"Lalu menyimpulkan semuanya sendiri?"


Dan Dinara mengangguk lemah, sementara Gaisan geleng-geleng kepala, tidak percaya atas pemikiran istrinya itu.


"Kamu harus di hukum," ucap Ghaisan, dan Dinara dengan suka rela menerima hukumannya.

__ADS_1


__ADS_2