
Davin dan Viona sampai di apartemen.
Mereka mandi bersama dan benar-benar hanya mandi. Dokter Irna mengatakan jangan bercinta di posisi berdiri. Karena itulah Davin menahan diri sekuat tenaga untuk tidak menyerang sang istri di dalam sana.
Tapi ketika keluar, baru satu langkah Davin langsung memeluk Viona dari arah belakang, menciumi lehernya dengan membabi buta hingga sang istri menggeliat merasa kegelian.
"Ohh Vin."
"Sekarang Sayang aku tidak bisa menahan nya lagi," pinta Davin, dan Viona mengangguk kecil sebagai tanda persetujuan.
Davin menarik tali handuk kimono sang istri, lalu membuka dari pundaknya hingga handuk itu jatuh begitu saja di atas lantai, menyisahkan tubuh sang istri tanpa sehelai benang pun.
"Viiin, jangan menatapku seperti itu," pinta Viona saat Davin menatap lekat dirinya dari atas hingga ke bawah kaki, dari tatapan itu saja sudah berhasil membuat intinya berdesir, merasa berdenyut hingga dia menyilangkan kakinya seolah menyempit sesuatu.
Dan pemandangan itu semakin membuat Davin gila, karena tanpa sadar Viona sudah memanjakan matanya.
"Tubuhmu semakin berisi sayang, aku suka," puji Davin.
Setelahnya dia menarik pinggang sang istri dan melanjutkan sebuah ciuman dalam di atas bibir merah muda itu, melumaatnya seperti menikmati makanan pembuka.
__ADS_1
Sementara kedua tangannya tak tinggal diam, disaat tangan kirinya menahan tubuh sang istri agar tetap tegak, tangannya yang lain memanjakan dada Viona, mengelusnya pelan lalu di remaas dengan kuat.
"Uh."
"Panggil namaku sayang," pindah Davin.
Puas menikmati bibir sang istri kini Davin turun dan menciumi leher jenjang Viona, masih di posisi berdiri itu Davin langsung menyusu dengan tidak sabaran.
Dan Viona hanya mampu mendesah, menganga merasakan nikmat.
"Viin, aku mau sekarang Uh," pintanya tanpa malu, dan Davin tidak sejahat itu untuk menindak kenikmatan sang istri.
Davin menggendong tubuh Viona, sesekali menciumi lehernya hingga sampai di tepi ranjang, dengan perlahan Davin pun merebahkan sang istri disana. Lalu memposisikan diri diantara kedua kaki Viona yang terbuka.
"Uh Sayang, aku sangat merindukan ini," rancau Davin.
"Boleh aku bergerak?"
"Yes Daddy."
__ADS_1
Davin memompa tubuhnya, sementara tubuh Viona terombang ambing mengikuti hentakan tubuh snag suami. Desahaan mereka bersahutan, dari desahaan pendek-pendek hingga jadi desahaan panjang saat mereka sama-sama mendapatkan pelepasan.
"Ah Daddy, aku juga sangat merindukan mu," lirih Viona diantara sisa-sisa tenaganya, dia pun rindu bercinta setiap waktu, namun sadar ada janin di dalam perutnya yang harus dia jaga, maka Viona pun juga menahan diri.
"Benar kamu merindukan aku?"
"Tentu saja, aku merindukan sentuhan Daddy."
"Hanya itu?"
"Tidak."
"Lalu?"
"Aku rindu perkasanya Daddy, Aah," desaah Viona karena Davin kembali menggerakkan penyatuan mereka, untuk menggoda sang istri.
"Kita istirahat dulu ya, kasihan baby nya," jelas Davin dan Viona mengangguk.
Mereka mengakhiri ini meski masih ingin terus bergelut. Selesai mengenakan baju, Davin dan Viona memutuskan untuk menonton televisi di ruang tengah. Ada pertandingan futsal di salah satu stasiun televisi dan Davin ingin menontonnya.
__ADS_1
Davin duduk dan Viona merebahkan kepala nya diatas pangkuan sang suami.
Terus bersama seperti itu melewati hari.