Menggoda Wanita Dewasa

Menggoda Wanita Dewasa
BAB 111 - Maunya dimasukin


__ADS_3

Selesai sarapan bersama Gaisan dan Dinara pamit untuk pergi, Dinara kuliah dan Gaisan kerja.


Pagi itu Gaisan mengantar Dinara, mulai kini dia yang akan menjadi supir pribadi sang istri.


"Abang, benar tanda merah di Leherku sudah tidak terlihat lagi?" tanya Dinara, dia mengangkat kepalanya memperlihatkan bagian leher pada sang suami.


Dan Ghaisan mendekat, menelisik dengan teliti tanda merah itu, sudah tertutup rapi dengan foundation. Namun entah kenapa tiba-tiba sebuah ide usil muncul, dia semakin mendekat dan mencium leher sang istri. Dinara yang kaget pun hanya bisa berteriak dengan suaranya yang sensual.


"Abang," peliknya manja.


"Kenapa abang jadi mesum sekali," keluh Dinara pula setelah suaminya menjauh dengan bibir tersenyum lebar, sementara Dinara mencebik.


"Entah, aku juga tidak tahu kenapa jadi mesum. Sepertinya kamu memberi pengaruh buruk padaku," jawab Ghaisan sekenanya, membuat Dinara semakin mengerucutkan bibirnya.


Dengan terkekeh Ghaisan melajukan mobilnya keluar dari garasi rumah dan pergi menuju kampus sang istri.


Sepanjang perjalanan Ghaisan sesekali menggenggam tangan istrinya mudanya itu, seolah dia masih muda juga. Ghaisan bahkan bingung kenapa dia jadi berubah aneh seperti ini.


Si Tua yang baru merasakan jatuh cinta, hiii, menggelikan sekali pikir Ghaisan sendiri.

__ADS_1


Sampai di kampus Dinara tidak langsung turun, dia pamit dengan benar pada sang suami. Ingun cium tangan kanan lalu pergi.


Namun Ghasian tidak puas dengan itu, ingin ciuman bibir yang basah.


"Iih Abang, di rumah saja ciumannya, aku malu." ucap Dinara.


"Kenapa malu, kan tidak ada yang lihat. Kita melakukan yang lebih dari ciuman juga aman disini." Bela Ghaisan.


Dan Dinara tidak bisa membantah, apalagi saat dia langsung teringat akan pesan sang ibu, Dania mengatakan bahwa dia harus patuh pada Ghasian, apapun perintah suaminya itu selama dia mampu maka harus melaksanakannya.


"Ya udah deh iya, sini cium," ucap Dinara, dia merentangkan kedua tangannya ingin menyambut sang suami.


membuat Dinara terperangah.


"Kok duduk disitu, Nara kan mau kuliah abaaang," rengek Nara ingin menolak, namun dia pasrah saat Ghaisan pun menariknya hingga berakhir duduk di pangkuan.


Awalnya Ghaisan pun tidak ingin melakukan ini disini, memang mesum sekali. Namun melihat banyak pemuda tampan berkeliaran diluar sana membuatnya ingin menunjukkan pada dunia jika Dinara sudah ada yang memiliki.


Setelah Dinara duduk Ghaisan dengan perlahan mencium bibir sang suami, dan Dinara membalas dengan memainkan lidahnya pula.

__ADS_1


Lalu terbawa suasana dan menggantungkan kedua tangannya di leher sang suami.


Menggeliat saat Ghaisan mulai menelusupkan kedua tangannya di dalam baju, menjangkau kedua semangka itu dan memainkannya. Seperti sebuah naluri, Dinara pun menggerakan pinggul, menggesek maju mundur dua senjata yang masih berpenutup rapat. Namun tetap mengalirkan sensasi yang ah...


Tapi untunglah, kesadaran Ghaisan langsung kembali, dengan segera dia melepaskan ciumannya dan memberi jarak.


"Sayang, kalau kamu seperti itu nanti mobilnya bisa goyang," ucap Ghaisan pula.


Dan Dinara sungguh kecewa permainan ini berhenti di tengah jalan.


"Abang sihhh, kan Dinara jadi mauu," rengeknya, malah jadi Dinara yang ingin melakukan ini.


"Nanti saja di kantor ku."


"Nara mau sekarang."


"Sebentar lagi kan kamu masuk."


"Nggak usah masuk, Dinara mauanya dimasukin."

__ADS_1


Astaga! Ghaisan mengaga, namun jadi ingin menyentak kuat istrinya ini.


__ADS_2