Menggoda Wanita Dewasa

Menggoda Wanita Dewasa
Bab 25 Akupunktur


__ADS_3

"Sepertinya kamu tidak senang dengan kehadiranku." Nada bicara Mo Junye tenang seperti air.


"Bagaimanapun juga, kita tidak mempunyai perasaan satu sama lain. Apakah Pangeran berpikir aku akan menentukan hubungan seumur hidupku berdasarkan pertemuan pertama kali? Meskipun terdengar romantis, aku justru merasa terlalu serampangan."


Karena tidak ada orang lain di sini, jadi Yin Suhua pun berbicara dengan ceplas-ceplos.


Beberapa hari ini, Yin Suhua sering mengeluarkan pendapat yang tidak dapat ditentang oleh Mo Junye. Harus diakui, dibandingkan dengan wanita kuno lainnya, Yin Suhua mempunyai cara pandangnya sendiri.


Yin Suhua tidak menangis dan membuat keributan ketika mengetahui pernikahannya bertujuan untuk memberi keberuntungan. Saat dicegat di luar istana, dia tidak panik dan gelisah. Bertemu dengan suaminya, dia tidak merasa rendah diri dan sombong.


"Cara bicaramu terlalu santai," kata Mo Junye.


Wajah tampannya tidak menunjukkan terlalu banyak ekspresi.


"Apakah kamu tidak capek bersikap seperti ini seharian? Pangeran, aku merasa hidupmu harus lebih berwarna. Terlalu sering cemberut bisa menyebabkan kelumpuhan wajah."


Yin Suhua tidak bersikap seperti orang luar. Yin Suhua tahu, semenjak Mo Junye minum pil penerus kehidupan yang diberikan olehnya, Mo Junye terus berusaha untuk mempercayainya.


Mo Junye tercengang. Kelumpuhan wajah?


"Maksudnya kamu tidak dapat melakukan ekspresi apa pun ketika ingin membuat ekspresi wajah."


"Aku datang bukan untuk membicarakan hal ini."


Yin Suhua tentu saja tahu, jadi berkata dengan santai, "Baiklah, kemarilah! Lepaskan pakaianmu!"


Tidak peduli seberapa tenangnya Mo Junye, saat ini dia masih merasa sedikit panik.


Bukankah Yin Suhua mengatakan bahwa menentukan hubungan berdasarkan pertemuan yang singkat terlihat sangat serampangan?


"Jangan salah paham. Aku hanya ingin melakukan akupunktur. Beruntungnya, kamu tidak mati setelah tubuhmu dirawat bertahun-tahun."


Berdasarkan ilmu pengobatan zaman sekarang, penyakit tetanus tidak bisa disembuhkan. Sampai penemuan salep tulang saja membuat banyak orang terkejut. Kondisinya seperti memang agak ketinggalan jaman.


Mo Junye merasa sedikit canggung. Untung saja wajah Mo Junye memang datar, jadi Yin Suhua juga tidak dapat melihat ekspresinya.


"Kenapa? Pangeran tidak berani melepaskan baju di depanku? Aku saja tidak takut. Entah apa yang Pangeran khawatirkan."


Di mata seorang tabib, semua orang adalah pasien. Mereka tidak membedakan antara pria dan wanita.


Yin Suhua mengingatkannya, "Apakah perlu aku bantu?"


Mo Junye berjalan perlahan-lahan, lalu duduk di atas tempat tidur sambil menatap Yin Suhua. Mo Junye tidak tahu harus berbuat apa.


Yin Suhua terpaksa bertindak sendiri, "Sepertinya Pangeran tidak tahu berapa banyak pakaian yang harus dilepaskan. Lebih baik aku lakukan sendiri."


Pembaca sayangku, novel ini gratis dan sudah diupdate lebih dari 600 bab di App Fi/zzo. ( Waktu cari, jangan tambah "/")


Seusai berbicara, Yin Suhua langsung melepaskan pakaian Pangeran tanpa ragu.


Secara naluriah, Mo Junye ingin melawan. Tapi, dia dikejutkan oleh tatapan Yin Suhua.

__ADS_1


Berani-beraninya wanita ini memelototi dirinya?


Setelah melepaskan pakaian Mo Junye, Yin Suhua menghela napas. Kulit Mo Junye sangatlah bagus.


Ditambah lagi, Mo Junye menjaga bentuk tubuhnya dengan sangat baik. Meskipun sudah menderita penyakit dalam waktu yang lama, jika dilihat dari kondisi badannya, dia masih sempat berolahraga.


Mo Junye mengedipkan matanya ketika melihat Yin Suhua yang entah dari mana mengeluarkan satu set jarum akupunktur.


Mo Junye selalu saja tidak memperhatikan dari mana asal datangnya barang-barang ini.


"Tidak perlu tegang, rileks saja." Yin Sihua merubah sikapnya seolah-oleh sedang membujuk anak kecil.


Mo Junye tidak tahu berapa banyak kepribadian yang Yin Suhua miliki.


Jarum pertama ditusuk, Mo Junye masih tidak merasakan apa-apa.


Yin Suhua memiliki keahlian akupunktur yang luar biasa, dia tidak pernah salah menusukkan jarum.


Tenaga dan posisi jarumnya sangat akurat, tidak kurang dan tidak lebih.


Mo Junye ragu, bahkan tabib istana yang telah merawatnya bertahun-tahun mungkin tidak bisa menandingi kemampuan semacam ini.


Setelah menempatkan jarum di posisi yang tepat dengan cepat, Yin Suhua mulai memutar jarumnya.


Sekarang, Mo Junye sudah mulai merasakan sesuatu.


Organ-organ Mo Junye mulai terasa panas, terutama jantung yang dulunya sering sakit, sekarang terasa agak sesak.


Setelah beberapa saat, Yin Suhua melepaskan jarum-jarumnya.


Yin Suhua juga memperhatikan warna pada jarum akupunktur dengan cermat.


"Masih bisa disembuhkan."


Ucapan Yin Suhua yang santai itu membuat ekspresi wajah Mo Junye berubah.


Semakin mereka berinteraksi, semakin Mo Junye merasa ucapan Yin Suhua dapat dipercaya.


Melihat keterampilan Yin Suhua dalam menangani dan merawat pasien dengan percaya diri. Mo Junye pun merasa dia tidak mungkin bisa menguasai semua hal ini tanpa pengalaman yang cukup.


Sepertinya Selir Pangeran menyembunyikan rahasia yang cukup banyak.


"Kamu sudah pernah mengatakannya."


Wajah Mo Junye tetap tidak berekspresi.


"Aku mengatakannya untuk mengingatkanmu, sekalian memberikanmu kepercayaan diri."


Selama ini, Mo Junye sudah mendengar banyak tabib terkenal yang mengatakan bahwa dia dapat disembuhkan. Tapi, omongan mereka semua sekadar formalitas saja. Makna asli dari ucapan itu adalah berharap akan adanya keajaiban.


Sedangkan keajaiban itu sendiri, tidak berada di dalam tangan Mo Junye.

__ADS_1


Tampaknya, Yin Suhua adalah keajaiban itu.


"Proses penyembuhanmu akan memakan waktu yang panjang. Bagaimanapun juga, penyakitmu ini sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Proses penyembuhan yang cepat justru akan membunuhmu."


Intinya, semua harus dilakukan selangkah demi selangkah.


"Di mata orang lain kamu bisa hidup begitu lama sudah termasuk sebuah keberuntungan."


"Sebenarnya kemampuan ilmu pengobatan para tabib yang merawatmu tidak memberi banyak pengaruh. Obat-obatan mahal itu-lah yang telah menyelamatkan nyawamu. Bagaimanapun juga, kamu adalah keturunan keluarga kerajaan. Jika kamu hanyalah orang biasa, mungkin kamu sudah mati." Yin Suhua menghela napas.


"Jika aku hanyalah orang biasa, mungkin aku tidak akan seperti ini." Mo Junye juga sadar akan hal ini.


Orang lain hanya melihat sisi glamornya.


Saat ini, semua bencana yang pernah terjadi padanya, tidak terlepas dari identitasnya.


"Benar, jika aku bukanlah putri perdana menteri, melainkan anak yang dibesarkan di sebuah keluarga petani atau pedagang sederhana, mungkin ibu tidak akan meninggal secepat itu."


Sekarang, mereka telah menemukan topik yang sama.


"Besok, temani aku ke istana."


Mo Junye tiba-tiba mengajaknya pergi dengan ekspresi yang sangat santai.


Bagi Mo Junye, masuk ke dalam istana sama seperti pulang ke rumah. Kasih sayang Kaisar kepada Mo Junye sama seperti kasih sayang Raja Ning kepada Mo Junye


"Masuk ke istana? Ngapain?" Yin Suhua sepertinya tidak tertarik dengan istana Kaisar.


Yin Suhua harus membungkuk dan memberikan hormat kepada siapa pun yang ditemuinya. Yin Suhua tidak terbiasa dengan berbagai macam aturan yang banyak.


"Tentu saja karena Kaisar ingin menemuimu."


"Yang ingin ditemui oleh Kaisar adalah selirmu. Kebetulan, aku adalah orang itu." Yin Suhua tahu perbedaannya.


Mo Junye tahu Yin Suhua adalah orang yang pengertian. Jadi, Mo Junye tidak perlu menjelaskan padanya tentang hal ini.


"Apakah Pangeran akan tidur di sini atau di kediaman Pangeran sendiri?"


Pertanyaan ini cukup rumit.


"Di sini saja. Jika aku tiba-tiba sakit, akan ada orang yang mengetahuinya."


Mo Junye memberikan sebuah alasan yang cukup meyakinkan.


"Daripada menolak dengan sopan, lebih baik menerima dengan hormat. Tinggalnya Pangeran di sini adalah bentuk penegasan statusku sebagai seorang selir."


Yin Suhua bukanlah orang yang munafik dan lantas berteriak ke luar, "Ming Rui, bawakan seember air."


Mo Junye menatap Yin Suhua dengan bingung. Sepertinya ada sesuatu yang ingin Mo Junye katakan.


"Ada apa?"

__ADS_1


Mo Junye bertanya dengan tak berdaya, "Apakah kamu yakin tidak ingin membantuku mengenakan pakaian?"


__ADS_2