Menggoda Wanita Dewasa

Menggoda Wanita Dewasa
BAB 127 - Ghaisan Bohong


__ADS_3

"Ah abaaang," desaah Dinara menikmati tiap hujaman demi hujaman yang diberikan oleh sang suami, Ghaisan.


Dan mendengar suara nikmat itu makin membuat Ghaisan bersemangat memberikan sentuhan pada istrinya. Diantara tubuh mereka yang menyatu dibawah sana, Ghaisan pun terus menyesapi kedua dada sintal milik sang istri.


Peraduan itu terus berlangsung cukup lama, Dinara bahkan sudah berulang kali mendapatkan pelepasannya. Namun Ghaisan masih terus memompanya.


"Abaaang, aku sudah lelah," lirih Dinara, kini tubuhnya sudah terkulai diatas meja belajarnya.


"Sebentar lagi sayang, tubuhmu sangat nikmat," rancau Ghaisan. Kini dia membalik tubuh Dinara dan menusuknya dari belakang. Dinara menganga, merasakan sensasi yang entah. Nikmat namun bercampur sakit.


"Tunggu sayang, sebentar lagi aku sampai," ucap Gaisan, hentakan yang dia berikan semakin cepat. Membuat Dinara hanya bisa ah ah ah terus.


"Sekarang aarghhh!" rancau Ghaisan, dia menekan pinggulnya semakin dalam. Menenggelamkan senjatanya yang sedang menegang hebat.


Menyisahkan nafas keduanya yang sama-sama memburu, lengkap dengan peluh yang bercucuran.


Kerutan itu masih jelas Mereka, rasanya nikmat sekali. Dan Dinara meringis saat suaminya mencabut diri. Lalu menggendong tubuhnya yang lemas untuk pindah ke atas ranjang.


"Perut mu sakit tidak?" tanya Ghaisan dan Dinara menggeleng.


"Tidak Bang."


"Kalau ini nya sakit nggak?" tanya Ghaisan lagi, setelah membaringkan istrinya dia menyentuh inti tubuh Dinara yang tadi dia obrak abrik.


"Tidak Bang, cuma agak ngilu."

__ADS_1


"Lecet nggak?"


"Lecet kayaknya, agak perih."


"Coba aku lihat."


Dinara pun menurut, dia membuka kedua kakinya lebar dan membiarkan sang suami mengamati intinya yang kembali berkedut. Aapalgi saat Ghaisan membuka tiap lapisan intunya dan memeriksa satu per satu.


Dinara bahkan sampai harus menggigit bibir bawahnya kuat, sedikit menggerakan pinggul karena merasa geli.


"Iya sayang, sedikit lecet. Ku obati ya?"


"Pake apa? obat nya nggak ku bawa, ada di rumah."


Dan dilihatnya Ghaisan yang malah menyeringai, membuat dia curiga. Dan benar seperti dugaannya, ketika Ghaisan kembali menunduk dan menjilati intinya dengan lembut. Memberikan sensasi dingin dan nikmat sekaligus.


Tapi Ghaisan tidak mau dengar, terus memberikan sentuhan hingga akhirnya kembali membuat istrinya melayang.


Mendengar desah panjang Dinara membuat Ghaisan merasa puas.


Setelahnya dia baru benar-benar membiarkan istrinya beristirahat.


Pagi datang.


Dinara bangun kesiangan.

__ADS_1


Ghaisan bahkan sudah mandi dan rapi tapi istrinya itu masih saja bersembunyi di balik selimut tebal. Hanya menggunakan Braa dan CD sisa semalam.


"Sayang, kamu belum mau bangun?" tanya Ghaisan dengan menggoyangkan tubuh istrinya.


"Nggak Bang, Nara masih ngantuk." jawab Dinara dengan suaranya yang sesak. Matanya masih setia terpejam dengan rapat.


"Abang turun saja duluan, sarapan, nanti bawakan aku roti dan susu saja."


"Benar hanya itu?"


Dinara mengangguk.


Setelahnya Ghaisan keluar dan tanpa sengaja bersitatap dengan Davin yang juga baru keluar dari dalam kamar.


Mereka bertemu di tengah-tengah, bersama menuruni anak tangga.


"Turun sendiri, Viona mana?" tanya Ghaisan.


"Istriku kelelahan, tenaga ku terlalu kuat untuk dia imbangi," jawab Davin dengan bangga dan Ghaisan yang mendengar itu langsung berdecih. Karena merasa dia lebih kuat.


"Dimana Dinara?" tanya Davin.


"Dia masih tidur, masih menikmati sensasi yang ku berikan semalam. Katanya masih terasa mengganjal sampai pagi ini," jawab Ghaisan bohong, padahal Dinara hanya kelelahan.


Davin mendelik, memangnya sebesar apa milik Ghaisan? pikirnya.

__ADS_1


🤣🤣🤣🤣🤣 apakah kalian masih disini reader encumku sayang?🙈


__ADS_2