
Malam itu setelah keluarga Alteza pulang, Dania langsung meminta Viona dan Dinara untuk istirahat di kamarnya masing-masing.
Sementara dia akan menenangkan suaminya dulu di ruang tengah ini.
"Dinara ambilkan kacamata Papa di ruang kerja," ucap Gunawan hingga membuat langkah kaki Dinara yang harus menjauh terhenti dan kembali berbalik.
"Iya Pa," sahut Dinara patuh.
Sedangkan Viona sudah melangkahkan kakinya lebih dulu untuk naik ke lantai dua.
Ada perasaan senang juga bercampur sedih dengan keputusan yang sudah diambil malam ini. Hubungannya dengan Davin memang sudah direstui oleh dua belah pihak keluarga, tapi entah kenapa Voina merasa malah hubungannya dengan sang kekasih semakin menjauh.
Kini mereka jadi tidak bisa bertemu dengan leluasa seperti biasanya.
Terlebih mulai besok Viona tidak akan lagi datang ke sekolah, dia sudah kembali bekerja di perusahaan Gunawan grup, di posisi semula sebagai Direktur Utama.
Harusnya Viona merasa senang karena posisinya sudah kembali, tapi kini dia jadi enggan pada posisi itu, rasanya lebih menggemari statusnya yang sebagai guru BK.
"Ah menyebalkan," gerutu Viona Seraya menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang.
Ingin langsung menghubungi Davin tapi dia yakin jika kekasihnya itu belum sampai di rumah, mungkin masih setengah perjalanan.
"Siapa sih yang memberitahu Papa tentang hubunganku dengan Davin? Apa iya Jo dan Ron yang memulainya lebih dulu, mengatakan semuanya kepada papa. Tapi kan Jo dan Ron tidak tahu siapa pria yang ku temui waktu itu, lalu kenapa Papa mengira jika pria itu adalah Ghaisan? Aah pusing!"
__ADS_1
20 menit kemudian, ponsel Viona di atas nakas bergetar.
Viona yang sedang menggunakan cream malam untuk wajahnya pun langsung bergegas meraih ponsel itu dan melihat ada panggilan video call dari Davin.
Tanpa menunggu lama dia langsung menjawabnya.
"Aduh sayang, itu nenennnya dikondisikan dong, kan jadi pengen ššš"
Davin menangis darah melihat dada itu.
"Kan mau tidur sayang, masa pake baju ketutup, kan gerah." Viona menjawab dengan wajahnya yang memelas, Davin yang melihat ekspresi wajah itu malah ingin segera menyentaknya kuat.
"Copot aja bajunya, copot kalau gerah!"
"Beneran?"
Viona terkekeh.
"Sayang jangan gitu dong, pasti kita bisa ketemu kok, tenang saja."
"Gimana caranya?"
"Aku ajak Dinara, sayang ajak Ghaisan, kalau ada mereka berdua kan kita boleh ketemu."
__ADS_1
Davin nampak berpikir, lama-lama dia membenarkan pula ucapkan kekasihnya itu.
"Iih pinter deh calon istriku."
Viona merona, dipanggil dengan panggilan itu membuat hatinya berdebar.
"Sayang?"
"Hem?" sahut Viona singkat.
"Terus gimana malam ini, aku pengen, sayang sih pake baju begituan," rengek Davin.
"Terus gimana sayang, kan kita nggak bisa ketemu."
Akhirnya malam itu mereka melakukan panggilan video call nganu, Viona berubah jadi kucing nakal dan Davin menggunakan lima jarinya agar bisa muntah.
"Ahh," desah Viona makin membuat Davin menggila.
Mereka sama-sama memuaskan diri sendiri dengan membayangkan satu sama lain, mereka memang jauh namun berkat imajinasi jadi terasa dekat.
Hingga 20 menit kemudian mereka sama-sama menggelinjang.
"Aku tidak mau seperti ini lagi, tidak enak, ada yang kurang," ucap Viona, sementara di ujung sana Davin terkekeh.
__ADS_1
"Sayang, kok perutku mual ya," ucap Viona lagi, seraya memegangi perutnya yang terasa tak nyaman.
"Hah? mual? sayang hamil?" tanya Davin dengan kedua matanya yang berbinar.