
Sadar jika hari ini dia terlalu banyak memarahi suaminya, Viona berniat meminta maaf terlebih dulu.
"Daddy," panggil Viona dengan suaranya yang manja, Setelah makan malam Davin lebih dulu ke ruang tengah untuk menonton televisi, sementara Viona masih tinggal di dapur mengambil buah.
Dan kini Viona menghampiri suaminya.
"Apa Mom?" jawab Davin, tapi matanya masih setia menatap televisi.
"Katanya mau minta pelayanan eksklusif, kok malah nonton tv."
Davin mengulum senyum lalu menoleh mantap sang istri yang menghampiri.
Bukan duduk di sofa, Viona malah duduk di meja persis di hadapan suaminya.
"Jadi kucing nakal ku mau beraksi?"
"Boleh nggak?" tanya Viona.
"Boleh."
"Tapi maafin mommy dulu ya, hari ini mommy banyak marah-marah."
__ADS_1
Davin mengangguk.
"Maafin daddy juga ya, daddy selalu buat mommy marah."
Mereka saling pandang dan sama-sama tersenyum. Sampai akhirnya Viona mulai memanjakan mata suaminya.
Melepas secara perlahan kain yang kini membalut tubuhnya. Pelan-pelan dan berhenti ketika dadanya sudah terbuka separuh, sebentar lagi puncak kenikmatan itu akan terlihat.
"Mommy, jangan berhenti," rengek Davin.
Dengan wajah nakalnya, Viona kembali melanjutkan aksi. menurunkan semua gaunnya hingga jatuh ke atas lantai. Dadanya terbuka, hanya tunggal penutup inti, karena Viona tidak memakai bra.
Viona membuka kakinya dan menurunkan satu tangannya kesana, beraksi seperti dulu saat dia dan Davin melakukan panggilan video call. Dan sekarang Viona menunjukkannya secara langsung.
Dan Viona pun menyambut dengan baik, semakin membuka kakinya lebar dan menggantungkan kedua tangannya di leher sang suami. Ciuman panas mereka lakukan untuk membangkitkan gairah yang masih bersemayam hingga benar-benar bangkit.
Ciuman itu begitu menuntut, Davin bahkan dengan tidak sabaran membuka bajunya sendiri. Sudah sama-sama polos Davin menurunkan wajahnya, kini menyerang dengan kasar kedua bongkahan sintal milik sang istri.
"Ah Vin."
Viona semakin membusungkan dada, seolah meminta Davin untuk segera melahap kedua buah semangka nya. Viona mengaga, permainan lidah Davin di pucuk dadanya membuat dia menegang.
__ADS_1
"Dadh, aku mau sekarang," pinta Viona dengan suaranya yang seperti merintih.
Tapi Davin masih ingat satu hal, jika mereka harus melakukannya diatas ranjang. Tapi berjalan kesana butuh waktu, sementara senjatanya pun sudah siap tempur.
Davin lantas mengangkat tubuh Viona dan memindahkannya diatas sofa hingga berbaring disana.
"Kalau ada yang sakit katakan padaku Mom."
"Kalau enak bagaimana?"
"Katakan juga."
"Ah," desah Viona, kini sang suami sudah menenggelamkan semua senjatanya di dalam liang basah itu. Lalu maju mundur dengan teratur hingga dia tak bisa berkata apa apa selain kata Ah.
"Daviin."
"Ya Mommy, uh."
Mereka terus beradu, hingga sama-sama merasa kenikmatan itu akan menyerang mereka. Senjata Davin semakin membesar, juga liang Viona yang seolah semakin mengecil, sementara gerakan Davin semakin membabi buta. Hinga akhirnya mereka melenguh panjang tanda pelepasan.
Dada Viona naik turun, menikmati sensasi yang belum habis.
__ADS_1
Namun Viona segera mengingatkan sang suami untuk segera mencabut diri, karena jika terus seperti ini akan ada ronde kedua bagi mereka, sementara jatahnya hanya 1 hari 1 kali.
Setelah penyatuan itu, hubungan keduanya kembali menghangat, seolah marah-marah hari ini tidak ada efeknya apa-apa. Karena sehabis marah mereka malah akan semakin dekat dan bukannya semakin jauh.