
Dinara ikut menangis saat melihat kakaknya bertengkar dengan sang suami. Dia menutup mulutnya rapat-rapat agar tangisnya tidak sampai terdengar oleh Davin dan Viona.
Sementara kakinya bergetar berdiri di samping pintu kamar sang kakak. Dengan mengendap dia menjauh, tidak ingin tahu lebih banyak tentang pertengkaran itu.
Yang Dinara dengar jelas hanya satu, pertengkaran itu terjadi karena Ghasian.
"Jangan-jangan selama ini dugaan ku benar," lirih Dinara setelah dia kembali ke dalam kamarnya sendiri.
Semalam dia menginap di sini untuk menemani Viona dan Ghaisan lah yang mengantarnya.
Duduk di sisi ranjang dan mulai menghapus air matanya sendiri.
Dinara teringat Kejadian beberapa bulan silam, saat dia mengambil kan kacamata sang ayah di ruang kerja, Dinara melihat selembar foto di sana, foto yang berisi Ghasian dan Viona.
Semenjak saat itu Dinara yakin jika Gaisan pun menyukai kakaknya sama seperti Davin, terlebih dalam foto itu Dinara melihat Ghaisan yang menatap dalam sang kakak, seolah tatapan itu menunjukkan banyak cinta dan ketulusan.
"Tapi mbak Viona cintanya sama abnag Davin dan abang Ghaisan coba hancurkan rumah tangga mereka, ya ampun, bagaimana ini?" ucap Dinara, bertanya pada dirinya sendiri lalu bingung sendiri.
__ADS_1
Dia sangat menyayangi Viona, terlebih saat Viona mulai menerima dia dan ibunya, Dinara bahkan bersedia melakukan apa saja untuk bisa membuat kakaknya itu terus bahagia.
"Bagaimana ini?"
"Aku harus membuat abang Ghaisan tidak mengganggu lagi rumah tangga Mbak Vio dan abang Davin. Tapi bagaimana caranya?"
Lama Dinara berfikir sampai akhirnya dia mendapatkan sebuah ide gila, dia akan meminta pada kedua orang tuanya untuk menjodohkan dia dan Ghaisan. menikah secepatnya, lalu Dinara akan terus merayu Gaisan agar pria itu berhenti mencintai Viona lalu beralih mencintai dia.
"Apa iya harus seperti itu?" gumam Dinara lagi.
Namun dia tetap tidak menemukan cara lain yang bisa digunakan. selama Gaisan belum menemukan pengganti dia pasti akan terus mencintai Viona dan mengganggu rumah tangga kakaknya.
"Dinara!!"
"Iya Mbak!" sahut Dinara cepat, dia bahkan langsung berlari menghampiri sumber suara.
Di ruang tengah dia melihat Viona yang sudah berpakaian rapi seolah siap untuk pergi sementara Davin terus mencekal tangannya tapi Viona terus melepaskan.
__ADS_1
Pertengkaran itu ternyata masih terjadi dan semakin parah.
"Ayo kita pulang ke rumah Papa, aku tidak sudi tinggal di apartemen ini bersama Dia!" ucap Viona pada sang adik, berbicara cara dengan amarah dan suaranya yang meninggi. Viona terus coba melepaskan tangannya yang dicekal oleh Davin.
"Bukan begini caranya menyelesaikan masalah, jangan pergi-pergi!" bentak Davin.
"Kamu pikir cara mu benar? cara mu itu sungguh menjijikkan!"
Dinara menangis lagi, sungguh dia tidak sanggup melihat pemandangan ini. Davin dan Viona saling memaki, tidak ada lagi kemesraan yang dia lihat seperti selama ini. Hatinya terenyuh dia sungguh tidak rela jika Kebahagiaan rumah tangga kakaknya hancur begitu saja hanya gara-gara Ghaisan.
Dan Karena itulah tekad Dinara semakin bulat untuk meminta kepada kedua orang tuanya menjodohkan dia dan Ghaisan.
"Cepat Dinara! bersiaplah dan kita pergi!! kalau kamu tidak mau ikut aku akan pergi sendiri!"
"I-iya Mbak," jawab Dinara gagap.
Pagi itu juga Viona dan Dinara kembali ke rumah Gunawan, sedangkan Davin langsung mengikuti mobil mereka.
__ADS_1
Sementara itu di tempat lain, Ghaisan yang tidak tahu apa-apa tetap menjalani harinya dengan baik.