
"Siapa Bang?" tanya Dinara saat suaminya sudah kembali masuk dan menutup pintu kamar mereka.
"Tidak penting," jawab Ghasian. Dia bicara saja namun terdengar dingin di telinga Nara.
Membuat Nara menunduk merasa tidak enak hati, seperti ada tanya sesak. Apalagi barusan mereka saling menghangatkan tapi sekarang suaminya kembali dingin.
Pasti abang Ghaisan masih ingat mbak Vio. Batin nara.
Wajahnya yanh nampak murung terlihat jelas di mata Ghaisan. Dia pun langusng menghampiri istrinya yang masih berbaring diatas ranjang, masih telanjaang dan bersembunyi di balik selimut.
"Kenapa wajah mu seperti itu?"
Dinara menggeleng pelan.
"Katakan ada Apa? aku bukan peramal yang bisa menebak isi hatimu."
Dinara mencebik, sedih merasa sedang di marahi.
"Kenapa menangis? aku salah Apa?" tanya Ghaisan lagi, yang jadi bingung sendiri. Dia lantas masuk ke dalam selimut dan memeluk tubuh sang istri erat.
"Hei ada Apa? katakan," ucap Ghaisan lagi, terus bertanya ingin tahu.
"Abang jahat."
"Jahat kenapa? apa masih sakit ininya?"
__ADS_1
"Ah, jangan di pegang."
"Kenapa?"
"Geli."
"Lalu abang jahat kenapa?"
"Abang bicara sama Nara dingin banget, kayak nggak sayang," ucap Dinara, dengan suaranya yang seolah ingin menangis.
"Astaga, ku kira ada apa. Aku kalau bicara memang seperti Ini, bukannya aku tidak sayang."
"Memangnya abang sayang sama Nara?"
Ghaisan mengangguk, entah cinta itu sudah muncul atau belum namun dia sudah sangat nyaman dengan bocah kecil ini. Apalagi sentuhan Nara membuatnya tidak bisa jauh. Ingin terus dan menikmati indahnya surga dunia.
"Jangan bohong."
"Memang kalau mau jujur harus bagaimana?"
"Cium aku lebih dulu, tadi kan pas anu-anu aku duluan yang mulai."
Mendengar Ghaisan mengulum senyum, Dinara benar-benar polos dan menggemaskan.
"Sebelum cium cium kita makan dulu ya? aku tidak mau kamu sakit, sementara malam masih panjang." ucap Ghaisan dengan suaranya yang menggoda, satu tangannya bahkan kembali menggelitik liang Nara hinhga wanita ini menggeliat merasakan nikmat.
__ADS_1
Kakinya menegang agar sensasi yang dia dapat tidak tanggung-tanggung.
"Ah."
"Nara, jangan mendesaah sekarang, nanti saja."
"Kalau begitu jauhkan tangan abang, jangan main-main disitu."
"Tapi abang juga mau lagi, sekali lagi ya, habis itu baru makan."
Dinara mengangguk.
Sebuah sinyal yang langsung disambut baik oleh Ghaisan, dia langsunh menindih sang istri dan mulai mempertemukan kedua inti itu, perkenalan dulu sebelum masuk memasuki.
Dinara berulang kali mendesah saat kedua semangka nya dinikmati oleh sang suami. Dia bahkan mencengkeram rambut Ghaisan, menyalurkan hasrat yang bergelora.
"Abang," lenguh Nara saat Ghaisan mulai menyatukan diri, menenggelamkan senjatanya di liang itu. Lalu bergerak perlahan maju mundur dengan teratur.
Ah Nara, rancau Ghaisan.
Dia terus menggerakkan pinggulnya semakin lama semakin cepat, hingga entah dimenit keberapa lahar itu menyembur secara bersamaan dan Ghaisan menekannya lebih dalam. Menyisahkan rasa berkedut yang memabukkan.
"Sudah seperti ini jangan lagi dipertanyakan tentang sayang, tentu saja aku sangat menyayangi kamu," ucap Ghaisan, dia masih mengungkung Nara bahkan belum melepaskan diri.
"Tapi abang bicaranya jangan dingin-dingin gitu, aku nggak suka."
__ADS_1
"Iya, setiap bicara aku akan selalu memeluk mu agar terasa hangat."
Dinara tersenyum, mengigit bibir bawahnya merasa malu. Ternyata Ghaisan bisa juga ngeGombal.