Menggoda Wanita Dewasa

Menggoda Wanita Dewasa
BAB 116 - Sudah Paham


__ADS_3

Puas bermain di dalam air dan Dinara mendapatkan pelepasan berulang kali, kini Gaisan membawa istrinya itu untuk berdiri di bawah guyuran air shower.


Mengangkat satu kaki sang istri dan dia menyentaknya dari depan dengan posisi berdiri.


Dinara tidak bisa berkata apa-apa, yang keluar dari mulutnya hanya satu kata ah, namun berulang kali. Ah ah ah ah, terus seperti itu. Apalagi saat Gaisan mulai mempercepat tempo gerakannya hendak meraih puncak kenikmatan. Desah Dinara semakin jelas terdengar.


Sampai akhirnya Crash.. cairan hangat itu Gaisan keluarkan diatas perut sang istri. Dinara menganga, merasakan perutnya disembur oleh senjata sang suami. Terasa hangat dan geli..


"Abang, kok di keluarin disitu? itu spherma?" tanya Dinara.


"Iya sayang, ini spherma dan ini yang dibilang dokter Irna, harus keluar diluar, biar nggak jadi janin di perut mu."


"Oh, emang abang enak?"


"Enak lah, yang penting kan keluar."


Dinara hanya mengangguk-angguk, sekarang dia sudah paham.


Setelahnya mereka benar-benar mandi, membersihkan tubuh dan sudah.

__ADS_1


Selesai perkara keluar di luar, kini Dinara dan Gaisan turun ke lantai 1, meski belum masuk makan malam tapi mereka sudah merasa lapar.


Jadilah sepasang suami dan istri ini makan lebih dulu, sementara Mutia dan Alteza masih berada di kamarnya.


"Abang, besok aku kuliahnya dianter supir aja," ucap Dinara.


"Kenapa?"


"Kalau sama Abang nanti pamit nya ribet, terus nggak jadi kuliah lagi."


Gaisan terkekeh, dia juga tidak menyangka jika akan memiliki hubungan semesyum ini. Tapi jangan salahkan Dia, karena kebanyakan Dinara yang mulai lebih dulu, dia hanya mengikuti keinginan sang istri.


"Baiklah, supir yang akan mengantarku. Tapi aku yang akan jemput."


Selesai makan, Dinara ikut suaminya ke ruang kerja.


Karena tadi di kantor Gaisan pun tidak bekerja, jadi ada beberapa file yang harus dia periksa meski sedang berada di rumah seperti ini.


Frans mengirimnya dalam email, dan dia langsung memeriksanya, sementara Dinara menunggu di sofa sambil memainkan ponsel.

__ADS_1


30 menit berlalu dan kondisi tetap kondusif aman, sampai akhirnya Dinara bosan dan mulai buka suara.


"Abang, masih lama ya?" tanya nya, Dinara sudah tidur-tiduran diatas sofa dan menatap sang suami dari sana.


"Iya sayang, kamu lelah? mau tidur duluan?" tanya Gaisan, menjawab tapi matanya tetap pada tablet di tangannya.


"Iya, tapi maunya tidur sama Abang," jawab Dinara manja.


"Tunggu sebentar ya, mungkin 30 menit lagi."


"Lamaaa," rengek Dinara.


Tapi Gaisan hanya terkekeh sebagai tanggapan, tangan mata dan otaknya masih fokus pada pekerjaan.


Sampai akhirnya waktu berlalu lebih dari 30 menit dan Gaisan tidak menyadarinya. Dinara juga tidak lagi bersuara, dia sudah terlelap diatas sofa.


Jam 9 malam pekerjaan Ghaisan baru selesai, dia merenggangkan kedua tangan dan bahunya lalu melihat Dinara yang tertidur di sofa sana.


"Astaga Nara," gumam Gaisan, dia segera bangkit dan menghampiri sang istri. Menatap lekat istri kecilnya yang sudah tertidur pulas.

__ADS_1


Gaisan terus menatap wajah itu hingga bibirnya pun ikut tersenyum, rasanya masih tidak percaya jika istrinya adalah Dinara. Lebih tidak percaya lagi, jika tubuh wanita ini sudah menjadi candunya.


Gaisan dengan segera menggendong tubuh sang istri dan membawanya masuk ke dalam kamar mereka.


__ADS_2