Menggoda Wanita Dewasa

Menggoda Wanita Dewasa
BAB 122 - Satu Kosong


__ADS_3

"Dadd," ucap Viona diantara tawanya yang menahan geli. Baru selangkah masuk ke dalam kamar Davin tiba-tiba melepas gaunnya dan menjamah Viona.


"Pokoknya sekarang aku mau keluar di dalam."


"Ihh Dad kenapa bilang begitu? bagaimana kalau aku hamil lagi."


"Karena papa Gunawan minta cucu yang cantik."


"Ah bohong," jawab Viona dengan mendesah nikmat, satu tangan suaminya sudah bersemayam dibawah sana, masuk dan menggelitik isinya.


Viona tidak mampu lagi membantah, kini dia hanya bisa pasrah. Karena darahnya pun sudah mendidih, dia ingin lebih. membuka kakinya lebar memberi akses suaminya untuk masuk lebih dalam.


Bersandar di dinding kamar mereka saling mencumbu satu sama lain. Davin terus menghisap kedua gundukan sintal Itu, hingga isinya menetes membasahi tubuh mereka.


"Ah Dad, pintunya belum ditutup." ucap Viona saat melihat pintu itu masih terbuka sedikit.


"Tidak akan ada yang berani naik kesini Mom."


"Tutup dulu."


"Baiklah," Davin pasrah, dia mencabut jarinya dan mulai menjauh. Menutup dan mengunci pintu itu lalu kembali menghampiri sang istri yang sudah menggodanya dengan wajah nakal. Viona memang paling bisa membangkitkan gairah terpendamnya.


Tetap berdiri merka kembali melanjutkan aktifitas, sampai akhirnya Davin mengangkat satu kaki Viona dan mulai menenggelamkan senjatanya di dalam liang itu.

__ADS_1


Ag! desah mereka berdua secara bersamaan, menyatu dengan tubuh yang sama-sama polos. Tidak peduli dengan keramaian di bawah sana, mereka terus berpacu mencari kenikmatan tersendiri.


Tubuh Viona bahkan terguncang sangat hebat, dari setiap hentakan yang Davin berikan.


"Agh Dad, fuckingg me crazy Dad," pinta Viona tanpa malu, dan Davin dengan suka rela memuaskan sang istri.


Puas menyatu, Davin meminta salah satu pelayan untuk mengambil baby Dion dan dibawa kesini. Dia sudah tidak peduli lagi dengan teman-temannya dibawah sana.


setelah menyusui Davin, kini Viona menyusui anaknya hingga baby D terlelap dengan nyenyak.


Tepat jam 1 siang semua teman Davin pamit pulang. Mereka semua diantar ke hotel oleh Anjas dan Danu.


Saat Viona dan baby D tidur, Davin turun dan melihat lantai satu yang sudah sepi. Hanya terlihat Dania yang masih membantu beberapa para pelayan membereskan meja jamuan.


"Sudah, kamu mau makan tidak? sini duduk mama ambilkan," ucap Dania pula.


Davin yang memang sudah lapar pun menurut, dia makan dari makanan yang disiapkan oleh sang ibu mertua.


"Setelah makan, bawa makanan juga untuk Viona. Biar dia makan di kamar."


"Iya Ma." sahut Davin sambil mengunyah makanan.


"Ma, aku mau tanya." ucap Davin lagi.

__ADS_1


"Apa?"


"Memangnya bahaya kalau Viona hamil lagi?"


"Nggak bahaya, tapi kan kasihan baby D, dia masih kecil dan ibunya harus hamil lagi. Memangnya kamu tidak kasihan."


"Kasihan Ma."


"Ya sudah kalau begitu ditahan."


"Tapi tadi sudah keluar di dalam."


"Astaga!" Dania menepuk keningnya keras, rasanya ingin menyiram wajah menantunya ini dengan semangkuk sambal.


"Jangan di ulang lagi, semoga yang ini nggak jadi!" titah Dania dan Davin menganggukkan kepalanya patuh.


"Aku begitu gara-gara papa Gunawan Ma, dia ingin cucu yang cantik."


Dania mengeram kesal, mengutuk suaminya yang kini sedang tidur di kamar.


Sementara Davin diam-diam tersenyum, sehabis ini pasti Dania akan memarahi Gunawan. Dia yang enak-enak tapi Gunawan yang kena getahnya.


Satu kosong Pa, batin Davin.

__ADS_1


Dia segera menyelesaikan makannya dan membawa sepiring nasi penuh untuk sang istri di dalam kamar.


__ADS_2