
Sore itu Dewa langsung mendatangi perusahaan Gunawan, lengkap dengan bukti di tangan dan juga memanggil Jo dan Ron sebagai saksi.
Kini Dewa dan kedua saksinya sudah duduk di hadapan Gunawan.
"Bukan saya yang tidak melindungi Viona, tapi pria ini. kekasih baru Viona yang dengan berani membawa Viona ke hotel," terang Dewa dengan penuh percaya diri juga amarah yang tertahan.
"Hotel?" ulang Gunawan membeo, dia menatap tidak percaya pada beberapa foto yang ditunjukkan oleh Dewa.
Foto-foto kedekatan antara Viona dan Ghaisan. Viona yang tersenyum riang sementara Ghaisan yang menetap dalam pada sang anak. Mereka berdua berdiri persis di depan pintu lift perusahaan Alteza Group.
"Iya Tuan, Jo dan Ron adalah saksinya. mereka berdua melihat saat Viona melakukan pemesanan di hotel."
Gunawan langsung menatap pada Jo dan Ron, seolah dari tatapannya itu Gunawan meminta kepastian.
Jo dan Ron mendadak gelagapan, mereka berdua memang melihat Viona yang melakukan pemesanan di hotel, tapi mereka tidak melihat Ghaisan di sana. Mereka berdua sama-sama merasa ragu untuk mengiyakan atau menjawab tidak.
__ADS_1
"Katakan Jo! Ron! bahkan gara-gara kejadian itu kalian menuduhku yang melakukan perbuatan hina itu! Padahal selama ini aku selalu melindungi Viona dengan baik!" terang Dewa, sekaligus membela dirinya sendiri.
Jo dan Ron tidak peduli pada ancaman Dewa itu, kini mereka sudah cukup merasa takut dengan tatapan tajam yang diberikan oleh Gunawan, sang Tuan utama.
Mereka berdua bahkan dengan kompak menelan salivanya dengan susah payah, sama-sama sadar jika jawaban yang akan mereka utarakan akan menjadi penentu nasib sang nona dan pria yang mereka duga kekasih barunya.
"Katakan Jo, Ron, Apa benar semua yang diucapkan oleh Dewa?" tanya Gunawan akhirnya, karena kedua anak buahnya itu masih merasa ragu untuk menjawab.
"Be-benar Tuan," jawab Jo dan Ron gagap.
"Baiklah, keluar kalian semua dari ruanganku," ucap Gunawan dengan datar, dia bahkan membuat gerakan mengusir dengan tangan kanannya.
Dewa terperangah, Benarkah Hanya seperti ini saja? Tidak adakah pembicaraan lebih? misalnya Gunawan meminta pada Dewa untuk memisahkan Viona dan Ghaisan, lalu meminta Dewa untuk menikahi Viona saat ini juga?
"Kenapa diam? pergilah!" titah Gunawan pada Dewa yang masih terperangah, sementara Jo dan Ron sudah keluar lebih dulu.
__ADS_1
"Tapi Tuan_"
"Apa? Apa yang kamu harapkan dari ini semua? Jangan berharap lebih, apalagi sampai bisa menikahi Viona. Viona memang tidak mengatakan apapun tentang perpisahan kalian tapi Jo dan Ron sudah mengatakan semuanya kepadaku tentang hubungan hina mu dengan sekretaris mu itu. Teman ranjang? cih, benar-benar tidak bermoral!"
Dewa mati kutu, bahkan kini dia seperti sudah tak memiliki muka lagi, di hadapan Gunawan dia sudah benar-benar hina.
Dewa hanya mampu terus mengutuk Jo dan Ron di dalam hatinya.
Selepas kepergian Dewa dari ruangannya, Gunawan kembali menatapi foto-foto anaknya di atas meja.
Dia menatap dengan pikiran bingung, juga memperhatikan lekat-lekat apakah ini Ghaisan atau bukan.
"Kata mama kekasih baru Viona adalah Davin, tapi kenapa ini jadi Ghaisan?"gumam Gunawan.
Tapi satu yang diyakini oleh Gunawan dan tidak akan salah, salah satu dari anak Alteza itu sudah membawa Viona ke hotel.
__ADS_1