
Tanpa campur tangan Bibi Du, Yin Suhua sendiri yang maju ke depan ranjang. Dia meraba-raba ke sisi dalamnya dan mengeluarkan sebuah saputangan yang bersih.
"Apakah yang kamu maksud adalah barang ini?" Dia mengayun-ayunkan kain itu ke atas.
Bibi Du sama sekali tidak berani menengadahkan kepala dan hanya diam-diam meliriknya dari samping.
Ternyata apa yang dikatakan benar, tidak ada noda darah sedikit pun pada kain tersebut.
"Mungkinkah seorang bunda penuh kasih sayang seperti Selir Raja tidak tahu apa-apa tentang kondisi tubuh Pangeran? Semalam Pangeran datang dan bermalam di sini. Meskipun dia telah berusaha keras pada akhirnya masih saja gagal. Sesungguhnya Selir Raja tidak perlu berbuat seperti ini. Sebaiknya kamu meminta petunjuk pada Selir Raja, apakah kain itu perlu dipamerkan di depan pintu Kediaman Kerajaan? Biarkan orang-orang yang menilai, apakah hal ini kesalahanku sebagai Selir Pangeran atau ada sebab lainnya."
Wajah Mo Junye langsung merah padam saat Suhua sengaja mengatakan dirinya lemah syahwat. Tampaknya Suhua memang sengaja membalas dendam dengan cara ini karena Junye mempermalukan dirinya.
Namun, pada saat ini dia benar-benar tidak berdaya membantahnya.
Ekspresi wajah Bibi Du mendadak berubah karena mendengar hal itu. Di saat ini, bagaimana mungkin dia berani berkata-kata?
"Kenapa tidak menjawab? Bukankah barusan kamu mengatakan aku tidak punya rasa malu dan terus menyudutkanku? Apakah Selir Raja mengutusmu ke sini untuk bersikap semena-mena di hadapanku? Apa kamu sengaja mencari-cari kesalahan di hari kedua pernikahanku karena kamu ingin mempermalukan Kediaman Raja Ning?"
Pertanyaan yang begitu mendadak dari Suhua membuat jantung Bibi Du hampir berhenti berdetak.
"Bukan seperti itu..."
Suhua menoleh dan melirik ke Junye yang masih berwajah kelam, "Pangeran, karena hal ini berkaitan dengan martabat dan nama baikku dan juga seluruh Kediaman Kerajaan, maka bolehkan aku yang menanganinya?"
"Tentu saja boleh..."
Junye menggertakan giginya dengan kesal karena Suhua sama sekali tidak menarik kembali ucapan yang telah merusak reputasinya. Junye juga tidak akan pernah melupakan dendamnya terhadap Suhua.
Setelah mendapatkan izin, Suhua berjalan secara perlahan ke depan Bibi Du dengan pandangan mata yang semakin tajam.
"Sebagai bawahan, kamu benar-benar tidak tahu aturan! Kamu mengganggu Pangeran istirahat, bersikap tidak sopan dan memfitnah Selir Pangeran, serta mempermalukan seluruh Kediaman Kerajaan Ning."
Setelah disalahkan, sikap Bibi Du yang sebelumnya sombong kini berubah menjadi ketakutan.
Dia langsung bersujud dengan ketakutan dan buru-buru menjelaskan, "Selir Pangeran, hamba tidak bermaksud seperti itu, hanya ada beberapa tradisi lama..."
Suhua mencibir, "Oh, tradisi lama? Jadi, itulah sebabnya di hari kedua pernikahanku, kamu sengaja datang dan menyiksa pelayanku dan menyindir peraturan Kediaman Perdana Mentri? Seperti inikah ajaran di Kediaman Raja Ning?"
Akhirnya Bibi Du benar-benar sadar bahwa Selir Pangeran bukan seseorang yang mudah untuk dihadapi.
"Selir Pangeran, hamba mengaku salah..."
"Mengaku salah? Berarti kamu rela untuk dihukum? Baiklah, katakan padaku, kamu ingin hidup atau mati?"
Kalimat ini seketika membuat semua orang di sekelilingnya tercengang. Apakah Selir Pangeran benar-benar orang sekejam itu?
Tampaknya Mo Junye sama sekali tidak peduli, dia hanya memejamkan matanya.
Tidak menunggu Bibi Du bereaksi, Yin Suhua telah mengambil sebuah jarum perak dari rak obat pribadinya dan menyasar tepat di titik bisu Bibi Du. Dalam sekali gerakan, dagunya juga ditarik oleh Suhua membuat mulutnya terbuka lebar.
Semuanya terjadi secara cepat dan tepat, tanpa kendala sedikit pun.
__ADS_1
Mulut Bibi Du harus terus terbuka, tapi dia hanya bisa melolong kesakitan karena kehilangan kemampuan untuk bicara.
Pelayan di belakangnya berteriak histeris. Saking ketakutan, bahkan baki dari tangannya pun terjatuh ke lantai.
Bibi Du segera menyadari kesalahannya, lalu berkata panik, "Ampun , hamba bersalah!"
Dia hanya bisa berlutut di sana dengan tubuh yang masih gemetaran.
Semua orang yang menyaksikan merasa takut dan tidak ada yang berani berkata-kata.
Selir Pangeran memang berkarakter dan sangat lihai.
Dari samping Mo Junye terus memerhatikan gerakan Suhua yang mahir dan tangkas.
Sepertinya semalam dirinya juga terkena serangan yang sama.
Bibi Du pun sadar akan kehebatan Yin Suhua. Tetapi, karena tidak bisa bersuara, dia hanya bisa bersujud di lantai dan meminta ampun.
"Ming Rui, berhentilah menangis. Bagaimana dia memperlakukanmu barusan, kamu harus membalas berlipat ganda kepadanya!"
Yin Suhua berdiri di samping sambil menepuk-nepuk kedua tangan, menyaksikan Bibi Du yang tersiksa.
Ming Rui kebingungan, apakah dia harus mengembalikannya?
Ketika masih di Kediaman Perdana Menteri, Ming Rui hanya dipukuli oleh orang. Oleh sebab itu, setiap bertemu wanita seperti Bibi, dia lebih memilih untuk menghindar.
Namun, Selir Pangeran telah memberinya hak. Kini dia harus memukul seorang pelayan tua yang telah bekerja lama di Kediaman Raja Ning, yang mana statusnya adalah pelayan terdekat Selir Raja.
Sebab, dia sudah terbiasa dianiaya dan hal itu membuatnya sangat penakut.
Suhua yang merasa kesal, kemudian menghela napas.
"Terhadap orang yang jahat, kita harus lebih kejam. Apa kamu mengira setelah kamu mengampuni dan berbelas kasihan pada mereka, maka mereka akan bersimpati padamu? Lihatlah, hari ini aku akan memberimu contoh bagaimana seharusnya sebuah aturan itu bekerja."
Setelah itu, perhatian Suhua segera beralih ke Bibi Du.
"Pengawal!"
Oleh karena Ming Rui tidak berani, terpaksa dia yang turun tangan mengatasinya.
Tubuh Bibi Du gemetar ketakutan, sebab Selir Pangeran sangat tidak mudah untuk dihadapi.
Dua orang pengawal langsung datang dan berlutut di hadapannya.
"Selir Pangeran, silakan beri perintah Anda."
"Pedang."
Pengawal tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Suhua. Dengan hati-hati dia mendongakkan kepala dan menunggu jawaban Suhua.
"Ambilkan pedang itu untukku."
__ADS_1
Nada bicara Suhua sangat tenang, seolah dia sedang meminta barang yang biasa saja.
Kedua pengawal saling memandang dalam kebingungan. Untuk apa Selir Pangeran meminta pedang?
Mo Junye yang mengamati dari samping tiba-tiba mengatakan, "Berikan padanya."
Sebab, dia ingin melihat sejauh mana kehebatan Selir Pangeran ini.
Begitu Yin Suhua mengambil pedang itu, Bibi Du berkeringat dingin.
Meski Selir Pangeran ini dinikahkan dengan alasan dan tujuan untuk menghapus kesialan, tetap saja status Selir lebih tinggi dari dirinya yang hanya seorang hamba.
Sayang sekali hal ini tidak terpikirkan olehnya.
Melihat Suhua mengambil pedang itu dan mendatanginya dengan wajah yang dingin, Bibi Du terus menggelengkan kepalanya dan gemetar. Namun, dia sama sekali tidak dapat meminta ampun karena mulutnya tidak bisa digerakkan.
Dari bagian bawah tubuh Bibi Du keluar genangan air berwarna kuning, lalu segera tercium bau tak sedap di mana-mana.
Sebagai pelayan yang sudah lama bekerja di Kediaman, belum pernah ketakutan sampai mengompol.
Pemandangan yang menjijikkan ini membuat Junye memejamkan matanya dan merasa enggan untuk melihat.
Suhua hanya mencibir, "Kamu telah mengotori kamar pengantinku, kesalahanmu bertambah, bagaimana aku harus menghukummu?"
Bibi Du melihati sorot mata dingin Suhua, dia hanya bisa terus mundur tanpa memedulikan tubuhnya yang kotor.
Sikap Suhua tidak berubah, "Tahan dia!"
Bibi Du terus menggerakkan tangannya untuk meminta ampun, air mata dan ingus membasahi seluruh wajahnya.
Tanpa peduli betapa takutnya Bibi Du, Suhua menggerakkan dan menebaskan pedangnya.
"Aaaaaah!"
Sekali lagi pelayan di belakangnya berteriak histeris, kemudian pingsan.
Sebuah jari tangan Bibi Du terpotong dan terjatuh ke lantai.
Dia berkeringat menahan sakit, ditambah tidak dapat bersuara sama sekali, dia sangat menderita. Seluruh tubuhnya menjadi lemas dan gemetar seolah dibuang ke tumpukan salju tanpa sehelai pakaian.
Dengan tenang, Suhua turun dan mengambil saputangan barusan untuk membungkus jari yang putus tersebut.
Pengawal di samping hanya melihat dan menelan ludah. Mereka merasa kelakukan Selir Pangeran sangat kejam, semua meragukan apakah Selir Pangeran memang putri dari keluarga terhormat?
Sekali lagi Suhua mengeluarkan jarum peraknya dan menusuk jarum itu dan mengembalikan rahang mulut Bibi Du ke posisi semula.
Bibi Du melolong kesakitan, semuanya terjadi sesuai yang diharapkan.
Pembaca sayangku, novel ini gratis dan sudah diupdate lebih dari 600 bab di App Fi/zzo. ļ¼ Waktu cari, jangan tambah "/"ļ¼
Selir Pangeran bersikap acuh tak acuh. Kain yang semula putih itu kini ternoda oleh darah. Lalu, dia mengambil kain itu dan melemparkan ke hadapan Bibi Du.
__ADS_1
"Bukankah kamu ingin menghadap ke Selir Raja, ambillah ini dan serahkan pada beliau, maka tugasmu sudah selesai."