
Seminggu kemudian.
Gaisan sudah membawa Dinara untuk pindah ke rumah keluarga Alteza.
Dinara dan Ghaisan bahkan sudah kembali dengan aktifitasnya masing-masing. Dinara kuliah dan Ghaisan bekerja.
Pagi-pagi setelah melakukan aktifitas panas mereka, Dinara menahan lengan suaminya yang hendak membersihkan diri.
"Kenapa?" tanya Ghaisan, kembali menoleh pada sang istri yang masih polos berbaring diatas ranjang.
"Mau lagi?" tanya Ghaisan dengan senyum nakalnya.
Sementara Dinara mencebik dan langsung ikut duduk, dadanya hanya tertutup rambutnya yang panjang, dia memangku bantal hingga intinya pun tak nampak. Sedangkan Ghaisan telanjaang bulat tidak peduli meski tidak ada satupun benang yang menutupi tubuhnya, duduk ditepi ranjang dengan penuh percaya diri.
"Bukan mau lagi."
"Terus?"
"Kalau aku hamil bagaimana?" tanya Dinara. Sebuah pertanyaan yang membuat Ghaisan terkekeh.
"Ya tidak apa-apa, kan kamu punya suami," jawab Ghaisan setelah tawanya sedikit mereda.
"Tapi kan aku masih kuliah abang."
"Kamu belum siap punya anak?"
__ADS_1
Dinara ragu untuk menjawab, sebelum akhirnya dia memberanikan diri untuk menggeleng pelan. Ya, jujur saja Dinara masih takut untuk hamil dan memilili anak.
Merasa dia belum mampu untuk menjadi ibu, Dinara masih ingin Memantaskan dirinya menjadi istri yang baik.
Terlebih dia juga masih kuliah, rasanya banyak sekali pertimbangan.
"Kalau begitu pakai KB."
"Minum pil?"
"Apa tidak repot pakai Pil, dengar-dengar ada yang suntik juga. Lebih baik nanti kita konsultasi dulu dengan dokter. Jam istirahat siang aku akan menjemputmu."
Dinara mengangguk, dia juga sudah mulai kembali tersenyum, tidak galau seperti tadi.
"Mau," jawabnya antusias.
Dengan bibir tersenyum lebar, Ghaisan pun menggendong Dinara dan membawanya masui ke dalam kamar mandi. Berdiri di bawah shower yang mengaliri mereka air hangat.
Awalnya memang hanya mandi, menggunalan sabun seperti biasanya. Sampai akhirnya Ghaisan mengangkat satu kaki Dinara untuk mencari celah agar bisa masuk.
Ah, desah Dinara pagi itu, merasakan liangnya yang tusuk-tusuk dengan benda tumpul dan besar.
"Abaang," lenguh Dinara lagi, dia pun membusungkan dadanya, ingin di sesap kuat.
Dan Ghaisan pun segera melahap buah itu, juga menggerakkan tubuhnya semakin kuat, untunglah Dinara bersandar pada dinding, hingga memudahkan aksi mereka.
__ADS_1
"Abang ..."
"Keluarkan sayang."
Ahk! pekik Dinara diantara pelepasan yang dia rasa, sementara Ghaisan masih tegak menanyang, tetap tegang di dalam liang basah dan sempit itu.
Ghaisan lantas membalik tubuh Sang istri, kembali menyatukan diri dengan memandangi indah lekuk tubuh Dinara dari belakang.
******* keduanya bersahutan, merdu sekali. bahkan terdengar menggema di ruang shower ini.
Dan di hentakan yang paling dalam akhirnya Ghaisan mendapatkan pelepasan.
Ahhkk, lenguhnya merasakan nikmat yang menjalar di seluruh tubuh.
"Sayang, aku mencintaimu," ucap Ghaisan, dia mencium punggung polos istrinya.
"Aku juga sangat mencintai abang," balas Nara, lalu sedikit mendesah saat Ghaisan meremat kedua dadanya dengan kuat.
Dengan bibir yang tersenyum lebar, mereka keluar dari dalam kamar mandi, bersiap lalu turun ke lantai 1 menemui Mutia dan Alteza.
Kedua orang tua ini dibuat heran saat melihat anak kakunya tersenyum selebar itu, terlihat mengerikan karena tidak terbiasa.
Ternyata menikah dengan Dinara, membuat Ghaisan berubah begitu banyak.
Perubahan yang membuat Alteza dan Mutia bersyukur, karena kini anak pertamanya bisa menikmati hidup, bukan hanya kerja kerja dan kerja.
__ADS_1