
Ghaisan tidak seberengsek itu. Dia membuang jauh-jauh pengaruh buruk yang sudah diberikan oleh Davin. merapikan kembali baju tidur Dinara dan segera ikut berbaring di samping gadis ini.
Mereka lantas tidur dengan Ghaisan yang memeluk Dinara.
Pagi datang.
Hari berlalu, berganti minggu.
Makin dekatlah hari persalinan Viona. seminggu sebelum HPL Viona dan Davin sudah pindah di Mansion Gunawan.
Persiapan untuk menyambut si jabang bayi pun sudah siap 100 persen.
Kamar khusus baby Dion, semua baju dan mainannya pun sudah tersusun rapi.
"Aduh, kan sakitnya keluar lagi," ucap Viona saat mereka semua sedang sarapan bersama.
"Udah pasti mau lahir ini, kan Viona udah mules dari subuh, ayo kita ke rumah sakit sekarang," ajak Dania. Dia bahkan yang lebih dulu mengambil langkah untuk bersiap pergi ke rumah sakit.
sepanjang perjalanan itu perut Viona semakin mules dengan jarak waktu yang teratur, tiap 10 menit sekali sakit itu akan kembali mendatanginya.
"Aduh Daddy, sakit," keluh Viona, Davin dan Dania duduk si mendampingi Viona di kursi tengah. sementara Gunawan mengemudikan mobilnya sendiri dan di dampingi Dinara.
Ada pula 1 mobil khusus pelayan mengikuti mereka di belakang.
__ADS_1
"Sabar Mom, kan jalannya sudah kita buat nanti pasti keluarnya gampang," jawab Davin, Sebuah Jawaban yang membuat dan ia mendelik melotot ke arahnya.
Sedang kontraksi seperti ini sempat-sempatnya membicarakan Jalan lahir si jabang bayi, yang selalu mereka buat.
"Papa, cepet dong bawa mobilnya," ucap Dania pula pada sang suami.
"Iya nih papa santai banget, emang kita mau piknik!" Kesal Viona pula membuat Davin menahan tawanya.
Perjalan penuh drama itu akhirnya berakhir dan mereka sampai di rumah sakit dengan selamat.
Viona langsung mendapatkan penanganan dan masuk ke ruang bersalin.
Davin sebagai sang suami setia mendampingi, ditemani pula oleh Diana.
Davin yang sedari tadi selengean dan sempat-sempatnya tertawa kini menangis saat melihat perjuangan sang istri yang sedang melahirkan sang anak.
Viona nampak kesakitan dan lelah, tiap Viona menjerit Davin pun ikut menangis pula. Sampai akhirnya tangis bayi sama-sama mereka dengar.
"Dokter bohong, katanya jalan lahir kalo sering dibuat jadi gampang, ini istri saya masih saja kesusahan," keluh Davin pada sang dokter, dia memeluk Viona dengan sayang, istri yang telah memberinya seorang anak.
"Mungkin punya tuan Davin kekecilan, jadi jalan lahirnya tidak terlalu besar," jawab dokter Irna dengan bercanda, ingin mencairkan suasana.
Dan Viona terkekeh, lain halnya dengan Davin yang langsung mendelik.
__ADS_1
Seorang bayi laki-laki lahir dengan selamat dan diberi nama Dion Alteza.
Bayi kesayangan 2 keluarga, Gunawan dan Alteza.
Malam itu juga Viona sudah boleh pulang, dia juga tidak mendapatkan satu jahitan pun, karena jalan lahir yang dibuat Davin benar-benar ampuh. Hanya butuh tenaga Extra Viona untuk melancarkan semuanya.
Malam itupun semua keluarga Alteza menginap di mansion Gunawan.
Mutia dan Dania repot saling berebut mengurus baby Dion, sementara Davin dan Viona asik saling mencium di dalam kamarnya sendiri.
"Aku sangat mencintaimu Mom," ucap Davin, memeluk pinggang istrinya erat, mereka sama-sama berbaring di atas ranjang.
"Aku juga sangat mencintaimu Dad," balas Viona.
Dan sebuah ciuman dalam kembali mereka ciptakan.
...TAMAT...
Yang tamat kisah Davin dan Viona ya, lanjut Ghaisan sama Dinara, tapi aku mau istirahat dulu lah, mengumpulkan ide ide mesyumm lainnya š¤£š¤£š¤£
Terima kasih ya, sebulan yang indah bersama kalian š
Jangan dihapus dari kaporitnya ya, nanti lanjut lagi.
__ADS_1