Menggoda Wanita Dewasa

Menggoda Wanita Dewasa
BAB 52 - Kesal


__ADS_3

Selepas Dania keluar dari kamarnya, Viona langsung mengambil ponsel di dalam tas.


Sudah ada pesan dari Davin di sana dengan pesan penuh perhatian.


Langsung tidur sayang, mimpikan aku.


Tapi hati Viona yang sedang diselimuti rasa cemburu tidak mengindahkan itu, dia langsung membalas menuju intinya kekesalannya.


Tadi sore mengantar Dinara pulang, kenapa tidak memberi tahuku. Berapa kali aku bilang aku tidak suka melihat kedekatan kalian!


Setelah mengirim itu Viona membanting ponselnya diatas ranjang dan segera pergi ke kamar mandi untuk mandi. Menggunakan air hangat agar tubuhnya lebih rileks.


15 menit kemudian dia keluar dari sana dan mendapati ponselnya yang berdering.


Ada panggilan dari Davin namun dia sungguh enggan untuk menjawab. Bawaannya kesal saja, dan dia paling benci merasakan hal ini.


Tanpa pikir panjang Viona langsung menolak panggilan itu dan melihat banyak pesan masuk dari Davin.


Hari sudah sore sayang, sebentar lagi hujan karena itu aku mengantar Dinara pulang.


Itu bukan suatu hal yang penting karena itu aku tidak memberi tahumu.


Maafkan aku, aku tidak akan mengulanginya lagi.


Dan masih banyak pesan lainnya lagi tapi Viona memilih tidak peduli. Bahkan saat Davin kembali menghubunginya Viona pun kembali menolaknya.


Dan mengirim pesan sesingkat mungkin.


Aku lelah.

__ADS_1


Dan pesan singkat itu mampu memporak porandakan Davin di ujung sana.


Tak peduli ini jam berapa, Davin segera keluar dari dalam kamar dan turun menuju Garasi. Mengendarai motor sport miliknya dan dia menuju mansion Viona.


Nyaris jam 10 dia sampai di rumah kekasihnya itu dan mengentuk pintu.


Salah satu pelayan membukakannya dan menatap bingung.


"Tuan Davin," sapanya cengo, malam-malam begini kekasih salah satu Nona nya datang.


"Bik, tolong panggil Viona, saya tunggu disini."


"Baik Tuan."


Tapi yang keluar bukanlah Viona, melainkan ayahnya, Gunawan.


"Vin, sini masuk, malah di luar," ucap Gunawan karena Davin berdiri di teras mansion dengan gelisah.


"Kenapa malam-malam datang kesini?" tanya Gunawan saat mereka sudah duduk di ruang tamu mewah itu. Ruang tamu di mansion ini mampu menampung 10 orang dan mereka hanya berdua saja.


"Biasa Yah, Nyonya nya marah."


Gunawan terkekeh, urusan seperti ini dia pun harus mengetahuinya. Tapi dia bersyukur, saat anaknya sedang marah Davin dengan sukarela datang kemari untuk menyelesaikannya tak peduli jika waktu sudah semakin larut.


"Viona kalau marah mengerikan, saya saja tidak berani. Semoga berhasil ya," ucap Gunawan.


Setelah itu, Viona datang ke ruang tamu dengan wajahnya yang di tekuk. Gunawan pun pergi dari sana dan membiarkan keduanya untuk bicara.


Wajah masam Viona semakin terlihat cantik di mata Davin. Apalagi saat melihat Viona mengikat rambutnya asal-asalan seperti itu, membuatnya gemas ingin merapikan, lalu menyesap lehernya.

__ADS_1


"Viona, maafkan aku," ucap Davin, Viona enggan duduk karena itulah Davin yang menghampiri hingga merek berdua berdiri saling berhadapan.


Davin hendak menyentuh lengan kekasihnya, namun dengan segera Viona tepis.


"Sudahlah, aku lelah, lebih baik kamu pulang." tolak Viona, melihat Davin datang kekesalannya malah semakin menjadi-jadi. Dia benci sekali.


Viona bahkan hendak masuk dan meninggalkan Davin, namun dengan cepat Davin menahannya.


"Jangan begini."


"Begini bagaimana? harusnya katakan kalau tidak ingin bersamaku lagi! jangan selingkuh!"


"Siapa yang selingkuh?"


"Kamu!"


"Astaga Vio, aku cuma antar Dinara pulang tidak lebih."


"Itu kata mu, tapi siapa yang tau isi hatimu!"


"Ya ampun Vionaa, ini masalah sepele, kenapa bicara seperti itu?"


"Hah? sepele? baiklah, kalau begitu besok aku akan pulang bersama Ghaisan!"


Amarah Davin mulai terpancing, namun sekuat tenaga dia tahan.


"Maafkan aku, aku tidak akan mengulanginya lagi."


"Sudahlah, berhenti bicara! lebih baik kamu pergi!"

__ADS_1


"Baiklah! ayo kita pergi!" putus Davin.


Dia lalu menarik paksa Viona agar mengikuti langkahnya yang keluar dari mansion.


__ADS_2