
Semiggu kemudian.
Davin bersiap untuk pergi ke Singapura. Dia dijemput oleh Anton di apartemen.
"Benar mau di apartemen saja? tidak mau pulang ke mansion papa Gunawan?" tanya Davin sekali lagi dan Viona masih menganggukkan kepalanya dengan mantap seperti semalam.
"Enak di apartemen sajalah, lagi pula kan besok kamu pulang."
"Kalau takut tidur sendiri minta Dinara datang kesini."
"Aku tidak takut Dad, dari dulu juga aku tinggal sendiri."
"Hem, baiklah, aku pergi ya."
Viona mengangguk.
Sebuah ciuman dalam mereka lakukan sebagai tanda pisah. Davin keluar dan Viona menutup pintu.
Menikmati sendirian di apartemen ini, merasa seperti gadis lagi.
Di lobby apartemen, Anton langsung menyambut tuannya, membuka kan pintu mobil untuk Davin yang sudah sampai.
Mereka menuju bandara dan melakukan penerbangan saat itu juga.
__ADS_1
Sampai di Singapura, mereka langsung menuju hotel. Pertemuan Davin dan Edward sudah dijadwalkan sore ini, namun karena ada perubahan akhirnya jadwal di undur jadi bertemu saat makan malam.
Edward menawarkan Davin untuk makam malam di rumahnya dan Davin tidak bisa menolak.
Jam 7 malam Davin dan Anton sampai di rumah Edward. Mereka berdua disambut dengan ramah, bukan hanya edward yang menyambut, tapi juga keluarga besarnya.
Selesai makan malam, Davin dan Edward bicara berdua di ruang tengah, Davin akhirnya menyampaikan tujuannya datang kesini. Mengundang Edward untuk menghadiri acara peresmian wahana bermain GA yang seminggu kedepan bisa dibuka untuk umum.
Sebenarnya Edward pun sudah mengetahui perkembangan proyek itu, dia hanya tak menyangka Davin akan langsung datang kemari untuk mengundangnya.
"Aku pasti datang," ucap Edward.
Selesai membicarakan masalah pekerjaan, kini mereka membicarakan kehidupan pribadi. Edward seusia Ghaisan dan dia belum menikah, namun Davin yang baru berusia 20 tahun sudah menikah bahkan beberapa bulan lagi memiliki anak.
"Kamu berani sekali menikahi kekasih mu disaat usiamu masih muda," ucap Edward.
Davin tersenyum.
"Karena aku lebih takut kehilangan dia daripada takut tidak bisa menikmati masa muda."
Pembicaraan mereka terus berlanjut hingga sampai jam 10 malam, setelahnya Davin pamit untuk pulang.
Davin juga mengatakan jika besok pagi dia langsung kembali ke Indonesia.
__ADS_1
Dan kini mobil Davin mulai melaju dengan Anton yang mengemudikannya.
"Anton stop," ucap Davin dengan suaranya yang berubah dingin.
Anton yang baru memasuki jalan raya pun bingung ingin menghentikan mobilnya di mana, jadi dia terus melaju hingga menemukan tempat yang pas untuk berhenti.
Sementara di kursi belakang suasana mendadak jadi hening dan mencekam.
Davin terdiam dengan terus menatap layar ponsel, di sana dia melihat sebuah foto Gaisan yang masuk ke dalam apartemennya.
Melihat foto itu kepala Davin langsung mendidih, pikiran-pikiran buruk mulai menyerang otak dan hatinya.
Ghaisan yang memintanya untuk pergi ke Singapura, sementara Viona yang ingin tetap tinggal di apartemen dan tidak ingin pulang ke rumah Gunawan.
Seolah jadi sebuah kebetulan yang direncanakan.
Saat itu juga amarah Davin membuncah, sebelumnya dia tidak pernah semarah ini, rasanya begitu meledak dan ingin menghancurkan apapun.
"Ayo ke bandara, cari penerbangan menuju Indonesia malam ini juga."
"Baik Tuan," jawab Anton patuh, meskipun dia sedikit bingung dengan keputusan yang diambil oleh sang tuan.
Tapi melihat raut wajah Davin yang berubah dingin, dia tak punya keberanian untuk membantah ataupun sekedar memberi saran.
__ADS_1