
Sialnya malam itu tidak ada penerbangan Singapura-indonesia, jadwal selanjutnya jam 6 pagi ini.
Semalaman menahan amarah, akhirnya kini Davin Sampai di Indonesia tepat saat jam 8 pagi.
"Kemudikan mobilnya dengan cepat!" bentak Davin pada Anton, dia sudah tidak lagi bisa menahan amarah, rasanya dadanya bergemuruh Ingin segera meluapkan emosinya itu.
Dari pada menghubungi Viona dan meminta penjelasan dari ponsel Davin lebih memilih untuk langsung pulang dan melihatnya secara langsung. Mendengar secara jelas dari mulut Viona ketika dia menatapnya.
Beberapa menit dalam perjalanan pulang, akhirnya Davin sampai di apartemen.
Dengan langkah kakinya yang cepat dan lebar Davin segera menuju unit apartemen yang selama ini menjadi rumah dia dan Viona.
Membuka pintu itu dengan tidak sabaran dan segera masuk mencari keberadaan sang istri. Davin tidak berteriak memanggil nama Viona tapi dia langsung menuju kamar istrinya.
Di dalam sana Davin melihat Viona yang baru saja selesai mandi, menggunakan handuk kimono Viona tersenyum menyambut kedatangannya.
__ADS_1
"Daddy, kamu sudah pulang?" tanya Viona dengan kedua matanya yang berbinar dia bahagia sekali pagi ini Davin sudah pulang, seolah mendapatkan kejutan di saat dia membuka mata.
tapi senyum Viona perlahan surut saat melihat Davin yang menatapnya dengan tatapan dingin, bahkan terlihat tajam dan penuh kemarahan.
Viona bingung, namun dengan langkah pasti dia menghampiri sang suami.
"Dad."
"Buka handukmu!"
Kedua mata Viona melebar, andai Davin meminta hal itu dengan penuh cinta pasti Viona akan langsung membukanya dengan sukarela. Tapi kini tidak seperti itu, Viona bisa melihat dengan jelas jika saat ini Davin sedang marah.
Seolah Viona adalah perempuan hina yang bisa dia jatuhkan harga dirinya.
Viona tidak tahu jika saat ini Davin sedang diselimuti oleh amarah, dalam benaknya selalu terbayang semalam Viona menghabiskan malam bersama Ghaisan.
__ADS_1
Bayangan itu begitu menyiksa Davin hatinya terasa begitu sesak sehingga ia sulit untuk bernafas.
"Buka handukmu!" bentak Davin sekali Lagi, namun Viona dengan tegas menggelengkan kepala, bahkan ada pula air mata yang mulai mengalir di sudut matanya.
"Aku tidak mau, kenapa kamu pulang dengan marah-marah seperti ini? apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Viona, dia coba mencari penjelasan menatap dalam mata sang suami yang sudah nampak merah penuh amarah.
Tapi Davin tidak mau dengar pertanyaan istrinya itu, semakin Viona menolak keinginannya maka semakin bertambah besar pula amarahnya.
Davin mengikis jarak, mencekal tangan Viona dan menanggalkan handuk istrinya. Davin harus melihat secara langsung jika tubuh Viona bersih tidak tersentuh oleh siapapun termasuk Ghaisan. Ditatapnya lekat seluruh tubuh sang istri, semuanya sama seperti terakhir dia meninggalkan Viona.
Tapi Davin lupa satu hal jika tindakannya itu sangat melukai harga diri sang istri. Viona menangis lalu mendorong tumbuh Davin kuat hingga menjauh dari dirinya. Dengan air mata itu Viona memungut handuknya dan kembali menutupi tubuhnya yang kini polos.
"Badjingan!" umpat Viona. Kini amarahnya pun sama besarnya dengan Davin, dia tidak terima diperlakukan seperti ini.
"Jangan menyalahkan Aku, sebaiknya kamu jelaskan kenapa semalam Gaisan datang ke apartemen ini!"
__ADS_1
"Aku tidak perlu menjelaskan apapun padamu, percuma bicara dengan orang yang sedang kesetanan!"
Pertengkaran keduanya terus berlanjut, tak sadar jika seseorang mendengarkan semuanya.