
Davin terus melumatti bibir Viona dengan kedua tangannya Yang mulai berkelana kemana-mana. Masuk ke dalam lingerie dan memilin salah satu pucuk istrinya.
Pergerakan tangannya yang lincah membuat Viona melenguh nikmat.
Tanpa sadar bahkan dia menggeliat dengan begitu manisnya.
"Dad, jangan lakukan disini," ucap Viona dengan suaranya yang serak, mengingatkan Davin yang hendak mengulum dadanya.
"Tapi suasana terang seperti ini enak Mom, jadi terlihat jelas."
"Kalau begitu agak mundur, kita duduk di sofa, jadi orang bawah tidak akan bisa melihatnya."
"Ide bagus," balas Davin dengan seringainya yang nampak buas.
Dia segera menggendong Viona seperti pengantin baru, lalu memangku istrinya di sofa balkon itu. Mulai menyingkap lingerinya dan memandangi tubuh sang istri dengan begitu jelas.
"Kamu sempurna," puji Davin, satu tangannya mengelus dada itu, seperti dia sedang mengelua wajah sang istri. Lembut sekali namun namun mampu membuat Viona merinding.
Wanita cantik ini bahkan sampai mengigit bibir bawahnya, juga menjepit intinya sendiri menggunakan kedua kaki.
di bawah matahari sore itu, mereka saling bersenggama disana. Viona memompa tubuhnya diatas tubuh sang suami hingga akhirnya cairan hangat itu lagi-lagi keluar di dalam.
"Ah Dad, kenapa tidak bilang kalau mau keluar."
__ADS_1
"Nanggung Mom," balas Davin tanpa dosa dan Viona langsung memukul dadanya keras.
Hari berlalu.
Minggu juga sudah berganti bulan.
Sampai akhirnya keluarga Alteza dan keluarga Gunawan mendengar kabar tentang kehamilan Dinara.
Niat awal nereka untuk menunda momongan gagal total, karena baru 1 bulan usia pernikahan mereka, Dinara sudah dinyatakan hamil.
Ghaisan sih senang-senang saja, tapi Dinara masih merasa takut.
Malam ini Ghaisan dan Dinara pulang ke rumah Gunawan, buka hanya ingin makan malam, mereka juga memutuskan untuk menginap.
Di meja makan.
Semua orang masih berkumpul disini meski mereka semua sudah menyelesaikan makan malam.
"Kamu tidak mabuk?" tanya Dania pada sang anak, dia duduk disebelah Dinara dan mengelus lengan sang anak.
Dania sungguh haru kini gadis kecilnya akan menjadi ibu, meski diapun sebenarnya takut pula Dinara belum mampu. Tapi Dania percaya jika Mutia akan menjaga Dinara dengan baik.
"Nggak Ma, Dinara nggak mabuk, cuma pengenan." Ghaisan yang menjawab, karena Dinara hanya diam saja.
__ADS_1
Dinara hanya mengangguk membenarkan ucapan sang suami.
"Pengen apa? sekarang mau apa? biar mama buat untuk mu," ucap Dania lagi.
Dan mendengar pertanyaan sang mertua, Ghaisan mengulum senyumnya. Lalu mendadak takut saat melihat Dinara hendak buka suara.
"Nggak Ma, aku pengen_"
"Stop! jangan jangan," potong Ghaisan dengan cepat, hingga membuat beberapa pasang mata langsung melihat ke arahnya.
"Kenapa? tingkah mu itu mencurigakan." sahut Viona pula.
"Kamu mau apa Nara? katakan saja." Timpal Viona lagi.
Ghaisan menggelengkan kepalanya, memberi isyarat Dinara agar tidak menjawab. Tapi Dinara sungguh tak bisa untuk berbohong, terlebih saat keinginan untuk jujur lebih kuat dia rasa.
"Em aku ..." ucap Dinara ragu-ragu.
"Aku nggak pengen apa-apa Ma, maunya cuma sama Abang Ghaisan terus di kamar."
Ghaisan menepuk keningnya pelan, Gunawan, Viona dan Davin membuang nafasnya kasar, sementara Dania hanya tersenyum kecil.
"Itu wajar sayang, wanita hamil memang lebih manja pada suaminya," terang Dania, membuat perasaan Dinara jadi lebih lega. Dia pikir selama ini dia sudah jadi orang aneh, karena semenjak hamil, setiap hari dia selalu meminta anu anu.
__ADS_1