
Meeting berjalan dengan sempurna, jam 11 siang pertemuan itu usai dan Davin kembali ke ruangan kebesarannya.
Dalam perjalanan kembali Davin sangat menghindari pertemuannya dengan Julian, bukan apa-apa, tapi pria seperti itu terlihat lebih mengerikan dibandingkan wanita seksi.
Rasanya lebih baik menghadapi kemarahan Viona yang membencinya dekat dekat dengan wanita seksi daripada harus berhadapan dengan pria jadi jadian ini.
"Siang Tuan," sapa Julian ramah, ketika Davin dan Anton melewati mejanya. Meja yang berada di dekat pintu ruangan CEO.
Davin Acuh, namun melihat itu Julian makin terpesona. Karena Tuannya benar-benar memiliki karisma. Masih muda dan begitu tangguh.
"Ih, gemes!" celetuk Julian.
Anna sekretaris kedua pun langsung mencubit lengan rekannya ini.
"Jangan macam-macam kamu, Tuan Davin itu sudah menikah."
"Iya aku tahu, tapi kan istrinya tidak ada disini." balas Julian dengan cengengesan, kini dia jadi bersemangat untuk terus datang ke kantor.
karena Bos nya sangat tampan dan menggoda.
"Hem, kamu belum tau saja Nyonya Viona. Beliau itu lebih galak daripada Tuan Davin."
"Ah masa sih? Aku tidak takut."
"Ehem!" dehem Viona yang entah sejak kapan datang.
"Apa yang kalian bicarakan? bukannya kerja malah gosip."
__ADS_1
"Maaf Nyonya," jawab Anna, dia pun menundukkan kepalanya tanda hormat. Julian pun mengikuti pergerakan Anna, memberi hormat pada seorang wanita cantik yang dia yakini adalah Viona, istri Davin.
"Kamu siapa? Aku tidak pernah lihat."
"Perkenalkan Nyonya, saya adalah Julian, sekretaris 1 Tuan Davin." jawab Julian dengan suaranya yang mendayu, membuat Viona menyulitkan matanya dan menatap curiga.
Lalu melihat Anna meminta penjelasan tentang ini semua.
"Nita ambil cuti hamil Nyonya, Julian yang menggantikannya. Butuh cepat jadi HRD tidak sempat membuka lowongan besar-besaran."
Viona hanya diam, cukup mengerti. Tanpa banyak basa basi lagi dia segera meninggalkan kedua sekretaris itu dan masuk ke dalam ruangan suaminya.
Tak lama setelag Viona masuk, Anton pun keluar.
"Jangan ada yang mengganggu tuan Davin dan Nyonya Viona. Selama mereka belum keluar jangan berani-beraninya mengetuk pintu itu." Anton memperingati, Anna sudah sangat paham, namun Julian masih awam.
"Memangnya apa yang tuan Davin dan Nyonya Viona lakukan? kenapa tidak boleh ada satu orang pun yang mengganggu?" tanya Julian pada Anna ketika Anton sudah pergi.
"Biasalah, suami dan istri."
"Biasa apa?"
"Ya itu."
"Itu apa?"
"Nganu."
__ADS_1
"Bicara yang jelas Anna, nganu apa?"
"Iiss, masa harus aku jelaskan. Pertajam saja pendengaran mu!" kesal Anna. Meski Julian pria jadi jadian tapi tetap saja rasanya aneh ketika membicarakan hal itu dengannya.
Dan Julian menurut, dia mempertajam pendengarannya hingga mampu mendengar sebuah kata.
Ah!
Mata Julian mendelik, baru paham apa yang terjadi di dalam ruangan sana.
"Mereka?"
"Ya, sudah mengerti?"
"Astaga! ini kan di kantor."
"Kantor bagimu, bukan bagi mereka."
"Kata-kata mu jahat sekali Anna."
"Memang begitu kenyataannya."
Julian merengut, baru mekar kekagumannya pada sang tuan kini bunga itu langsung jadi layu. Apalagi saat dia semakin mempertajam pendengarannya dan mampu mendengar suara laknaat keluar dari mulut istri bos nya. Uh ah uh ah yang begitu nikmat dan kasar.
Sangat terbayang di otaknya jika Davin yang memberikan pelayan ekstra untuk sang istri.
Dia tidak punya kesempatan, meski hanya sekedar dekat.
__ADS_1