
Setelah makan siang di mansion Gunawan, Davin dan Viona akhirnya pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungan Viona.
Bulan ini sudah masuk bulan ke 4 kehamilannya.
"Mommy , pakai seat belt mu," titah Davin, dia pun langsung bergerak untuk memasangkan sabuk pengaman di tubuh sang istri.
"Nggak enak rasanya, kayak sempit gitu," keluh Viona, menggunakan seat belt seolah mengunci pergerakan tubuhnya, dia tidak nyaman.
"Buat keamanan Mommy, kalau aku rem mendadak mommy aman."
"Memangnya daddy mau rem mendadak?"
"Kan jaga-jaga Mom."
Viona mendengus, meski begitu dia tetap menuruti keinginan suaminya itu, lagi pula ini memang untuk keamanannya.
Sampai di rumah sakit, mereka langsung menuju ruangan dokter Irna, sebelumnya mereka sudah membuat janji temu jadi tidak perlu duduk di kursi tunggu dan menunggu giliran.
Serangkaian pemeriksaan pun dilakukan, mulai dari memeriksa ibunya lalu janinnya.
"Bagus, semuanya sehat, setelah ini nyonya Viona banyak-banyak makan buah alpukat ya, biar bayinya cepat besar."
__ADS_1
Viona mengangguk, pun Davin yang langsung berencana membeli banyak buah alpukat setelah dari sini.
Keluar dari ruangan dokter Irna, Davin dan Viona tersenyum lebar, mereka bahkan saling memeluk pinggang tidak memberi jarak diantara keduanya.
Sampai akhirnya langkah itu terhenti dan tawa itu surut saat mereka bertemu dengan dua manusia yang tak asing.
Di tengah koridor tak jauh dari ruangan dokter Irna, Davin dan Viona bertemu dengan Dewa dan sekretarisnya.
Wanita yang sempat menjadi selingkuhan Dewa itu menunduk, namun Dewa menatap lurus ke arah Viona. Bahkan tidak melihat ada Davin di sana.
Saat Gunawan memperkenalkan Davin sebagai menantu dan pemimpin perusahaannya yang baru Dewa pun mendengarnya.
Sejak hari itu hingga 1 bulan dia terus memata-matai Viona dan Davin. Sampai akhirnya dia sadar satu hal bahwa Viona sudah tidak lagi mencintai dirinya. Viona tertawa lepas saat bersama Davin, berulang kali menciumi Davin lebih dulu, bahkan setia menunggu suaminya itu untuk pulang dari kantor.
Kesalahan yang tidak bisa dia tinggalkan, karena nyatanya sekretarisnya kini pun tengah mengandung anaknya.
Mereka tidak menikah, tapi Dewa akan tetap bertanggung jawab pada anaknya.
"Vio," panggil Dewa lirih, bahkan tidak ada yang mampu mendengar panggilannya itu.
Davin yang tak menyukai pertemuan ini pun segera melangkahkan kaki, membuat Viona pun mengikuti pergerakannya.
__ADS_1
Mereka melewati Dewa begitu saja, kemudian kembali berhenti saat Dewa akhirnya memanggil Viona dengan suara yang lebih jelas.
"Viona!" panggil Dewa.
Davin dan Viona berhenti, namun mereka belum berbalik, sampai akhirnya Dewa sendiri yang berdiri di hadapan mereka.
"Maafkan aku, selama ini aku belum meminta maaf dengan benar padamu," ucap Dewa.
Davin yang mendengar kata-kata itu berdecih, sebuah kalimat biasa namun terdengar begitu dalam dan mampu menusuk hati sang istri.
Davin tidak menyukai itu.
"Aku salah, kamu berhak meninggalkan aku dan menemukan seseorang yang lebih baik," timpal Dewa lagi.
"Tapi 2 tahun kebersamaan kita itu adalah kenangan yang indah dan aku akan menyimpannya sendiri."
Davin melirik Viona, dilihatnya sang istri yang tak bergeming.
"Mommy," bisik Davin.
Viona yang geli pun mengusap telinganya.
__ADS_1
Lalu mengangguk pada Dewa.
"Aku sudah memaafkan kamu," jawab Viona, hanya itu kemudian dia tersenyum dan menarik sang suami untuk pergi dari sana.