
Mo Junye menatap Yin Suhua dan tiba-tiba tertawa, "Memangnya kenapa kalau bertemu denganmu?"
"Kamu bisa menikmati kehidupan orang normal."
Ekspresi Yin Suhua tidak seperti sedang bercanda.
Kenapa Mo Junye merasa Selir Pangeran ini seperti penipu?
Apa dia ingin kehidupannya di Kediaman Raja Ning berjalan lancar, jadi dia mencoba menyenangkannya?
Jika begitu, Mo Junye khawatir kehidupan wanita ini akan semakin sulit setelah kematiannya.
"Lagi pula hasil terburuknya adalah tidak ada cara untuk membantumu. Jika bisa membuatmu terus hidup, maka anggap saja kamu menang taruhan. Sebenarnya kamu juga tidak akan kalah, bukankah begitu?" Yin Suhua menambahkan.
Matanya seperti gemerlap bintang di langit.
Raut wajah Mo Junye menjadi sulit ditebak.
Selama Mo Junye hidup sampai sekarang, ini pertama kali baginya bertemu dengan wanita yang sangat percaya diri, juga merupakan dokter yang paling aneh.
"Apa kamu benar-benar Yin Suhua?" Mo Junye tiba-tiba bertanya.
Yin Suhua mengerti, meskipun Mo Junye tidak keluar dari kerajaan, tapi pria itu pasti memahami situasi di luar sana.
Terutama mengenai orang-orang yang dekat dengannya, dia pasti memedulikannya.
"Jika kamu bertanya apa aku adalah Yin Suhua yang hidup menderita di Kediaman Perdana Menteri setelah ibu kandungku meninggal, berjuang di bawah tekanan ibu tiri yang kejam, tidak memiliki kasih sayang seorang ayah dan dijadikan budak untuk dikirim ke Kediaman Raja Ning yang bagi orang luar adalah tempat tanpa jalan keluar, maka itu benar-benar aku."
Jawaban ini sangat unik.
Setelah merangkum semua pengalaman pahitnya, Yin Suhua tersadar.
"Apa masih ada lagi?" Mo Junye tahu kalau Yin Suhua belum menyelesaikan perkataannya.
"Atau mungkin kamu ingin bertanya, apa aku adalah wanita bodoh tidak berguna yang hidup dengan mengandalkan belas kasihan orang lain, maka itu bukan aku."
Setelah mengatakannya, Yin Suhua bangkit dan duduk lagi di sebelah ranjang.
"Pangeran, ini sudah larut, pergilah beristirahat. Karena kondisi tubuhmu, aku tidak akan membiarkanmu tidur di lantai."
Wajah Mo Junye terlihat muram. Apa wanita ini gila? Dirinya jelas-jelas adalah pangerannya, tapi wanita itu menyuruhnya tidur di ranjang hanya karena bersimpati?
Tanpa diduga, Yin Suhua benar-benar mengenakan mantel besar dan berbaring di dalam. Dia bahkan menyisakan cukup ruang untuknya.
"Jika Pangeran tidak ingin tidur di sini, maka lebih baik cepat kembali untuk istirahat. Aku tidak berani menyuruh orang besar sepertimu menjagaku semalaman. Saat keluar tolong bantu aku mengunci pintu."
Yin Suhua benar-benar tidak menganggap Mo Junye sebagai sesuatu yang penting. Saat berbicara, dia lebih santai dari siapa pun.
Ekspresi wajah Mo Junye semakin tak terduga. Dia sudah bertemu dengan segala macam jenis orang, biasanya dia akan dengan mudah menilai mereka.
Namun si Yin Suhua ini, semua gerakan dan bicaranya benar-benar di luar perkiraannya.
__ADS_1
Mungkin karena merasa tidak terima, Mo Junye berjalan ke ranjang dengan cepat, kemudian naik dan berbaring.
Setelah beberapa saat, dia tiba-tiba bangkit.
Dia mengira Yin Suhua akan terkejut, tapi hasilnya benar-benar di luar dugaanya.
Yin Suhua sudah tertidur dengan pulas. Bulu mata lembutnya berkedip, wajahnya yang sedang tidur terlihat sangat cantik.
Pada momen ini, sebenarnya Mo Junye merasa lebih baik untuk bisa terus hidup.
Setelah memadamkan lilin, dia kembali berbaring di ranjang.
Mendengar suara napas samar Yin Suhua, Mo Junye justru tidak bisa tidur.
Situasi ini benar-benar mengejutkannya.
Saat sedang ragu-ragu, Yin Suhua tiba-tiba melemparkan kakinya dan meletakkannya di atas kaki Mo Junye.
Jika ini biasanya, Mo Junye pasti tidak menyukainya.
Namun, lama -kelamaan Yin Suhua tidak bergerak lagi, napasnya juga masih sangat teratur.
Mo Junye lagi-lagi terkejut. Dia bahkan tidak marah kali ini.
Dia mencari alasan untuk membujuk dirinya sendiri agar segera mengantuk.
...
Keesokan paginya, saat bangun Yin Suhua melihat Mo Junye yang duduk di sana sambil minum teh.
"Selamat pagi, Pangeran." Yin Suhua meregangkan tubuhnya dengan malas.
Mo Junye seharusnya tidak suka melihat perilakunya itu, tapi saat ini dia merasa semua ini sangat nyata.
Dia tidak seperti kebanyakan wanita lain yang munafik dan berpura-pura manis.
"Bersiaplah, setelah sarapan kita akan pergi."
Ketika mengatakan ini, Mo Junye sudah memikirkannya dengan baik. Diperkirakan dia akan diperalat oleh wanita ini setelah sampai di Kediaman Perdana Menteri.
Namun, Yin Suhua tidak terlihat cemas sama sekali. Selama ada Mo Junye yang mengikutinya, dia akan tetap menang meskipun tidak mengatakan apa pun.
Ketika Ming Rui masuk untuk melayani Yin Suhua, dia berjalan dengan sedikit menghindar dari Mo Junye.
Mo Junye merasa ragu, apa orang ini takut dirinya akan memakannya?
"Siapa namamu?" tanya Mo Junye dengan nada dingin.
Ming Rui langsung berlutut dan mengira dia telah melakukan kesalahan.
"Mohon izin menjawab Pangeran. Nama hamba Ming Rui. Jika ada kesalahan, maka itu adalah salah hamba, tidak ada hubungannya dengan Pangeran."
__ADS_1
Raut wajah Mo Junye muram, "Apa aku terlihat sangat tidak wajar?"
"Ya..." Ming Rui menjawab dengan jujur.
Namun kemudian dia tersadar dan segera melambaikan tangannya, "Bukan, hamba tidak bermaksud begitu..."
"Sudahlah. Aku juga mau mencuci muka, bawakan air ke sini."
Mo Junye sudah melihat ekspresi Yin Suhua yang tersenyum.
Saat sarapan, Ming Rui masih tidak berani menatap Mo Junye secara langsung.
Mo Junye biasanya memiliki temperamen yang sangat dingin. Sekarang saat diperlakukan berbeda oleh orang lain, dia masih sedikit tidak terbiasa.
Setelah makan beberapa suap, dia meletakkan mangkuk dan sumpitnya.
Melihat Ming Rui yang hendak berlutut lagi, Mo Junye benar-benar kehabisan kata-kata.
Gadis ini tidak mungkin berpikir dia marah padanya karena makan hanya sedikit, bukan?
"Ming Rui, lututmu terlalu lemah. Berdirilah dengan benar." Yin Suhua diam-diam memberinya isyarat.
Ming Rui sudah hampir berkeringat. Saat berada di Kediaman Perdana Menteri, dia selalu siap untuk berlutut kapan saja.
Karena sudah terbiasa, maka sangat sulit untuk mengubah kebiasaan ini.
Setelah sarapan, Pangawal Young datang dan melaporkan kalau di luar sudah siap. Pangeran dan Selir Pangeran bisa berangkat kapan saja.
Yin Suhua secara khusus bertanya tentang kondisi Pengawal Chu.
Pengawal Young tersenyum lebar dan berkata, "Berkat resep obat dari Selir Pangeran, Kak Chu sekarang sudah bisa menelan, selain itu dia sudah tidak kejang lagi, ekspresi wajahnya juga sudah bisa dikendalikan."
Bisa dilihat para pengawal sangat berterima kasih pada Yin Suhua karena telah menyelamatkan rekan mereka.
"Baguslah kalau begitu. Aku akan memberinya suntikan lagi nanti setelah kembali. Setelah kalian selesai meracik obatnya, biarkan dia meminumnya lagi."
"Hamba mengerti..."
Mo Junye melihat pengawal bawahannya yang berterima kasih pada Yin Suhua dengan santai, dia juga tidak merasa keberatan.
Yin Suhua bisa menyelesaikan sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh Qi Boheng. Karena telah menyelamatkan Pengawal Chu yang merupakan pengawalnya, Mo Junye sebenarnya juga bersyukur, hanya saja dia tidak mau mengatakannya.
Ketika mereka hendak berangkat, para pelayan raja mengirim setumpuk barang dan mengatakan kalau Raja Ning tahu Selir Pangeran akan pulang hari ini. Raja pun secara khusus menyiapkan hadiah kecil untuk dibawa oleh Selir Pangeran.
Mo Junye juga tidak melarangnya. Barang-barang ini memang milik Kediaman Raja Ning.
Sebaliknya, ekspresi Yin Suhua membuat orang lain penasaran.
"Kenapa? Tidak cukup?" tanya Mo Junye.
Yin Suhua tersenyum lalu berkata, "Apa Pangeran sengaja bertanya seperti ini? Sepertinya kita sudah membuat kesepakatan saat aku pertama datang ke sini. Ada banyak saksi saat itu, tentu saja aku tidak akan mengingkarinya."
__ADS_1
"Jadi maksudmu..."
Yin Suhua terlihat sangat tenang lalu berkata kepada para pelayan, "Sampaikan terima kasihku untuk Ayah, tapi simpan saja barang-barang ini. Orang-orang di Kediaman Perdana Menteri tidak pantas mendapatkannya."