
Dengan dadanya yang masih bergemuruh Davin dan Viona keluar dari dalam kamar, bahkan Viona masih merasakan denyut di inti tubuhnya.
Dia berjalan dengan merapatkan kedua kaki menikmati sensasi sensasi yang masih tersisa.
"Ini semua gara-gara Daddy! ih nyebelin!" keluh Viona.
"Salah Mommy sendiri, semenjak hamil mommy semakin menggoda, daddy tidak tahan untuk tidak menyentuh mommy." jawab Davin dengan nada menggoda.
dengan mengerucutkan bibirnya Viona menuruni anak tangga dan menghampiri semua keluarga.
dilihat olehnya Dinara dan Ghaisan yang sudah ikut berkumpul, Viona melihat dengan jelas wajah sang adik yang nampak takut dan gugup. Dia sangat yakin jika saat pembicaraan tadi Ghaisan menakut-nakuti adiknya.
setelah pamit mereka semua pulang. Davin dan Viona tidak kembali ke rumah Gunawan melainkan langsung menuju apartemen mereka.
sampai di apartemen jam setengah 10 malam dan mereka langsung tidur karena merasa sangat lelah.
Pagi datang.
di rumah keluarga Alteza.
Ghaisan sudah rapi dan selesai sarapan dia hendak langsung pergi ke kantor. namun langkah kakinya terhenti di teras rumah saat mendengar suara sang Ibu memanggil.
"Ghaisan!"
__ADS_1
yang dipanggil pun langsung berbalik dan menatap sang ibu yang menghampiri.
"Jangan ke kantor dulu, hari ini Dinara kuliah pagi jadi antar lah dia ke kampus."
"Sejak kapan aku jadi sopir dadakan?"
"His, dia itu calon istrimu bersikaplah yang manis padanya."
"Baru calon Ma, tiba-tiba dia datang melamar ku, bisa saja nanti tiba-tiba dia membatalkan pernikahan ini."
Plak!
"Aduh!" kaluh Ghaisan, dia mengusap lengan kirinya yang baru saja dipukul oleh sang ibu, terasa pedih.
" Jangan sembarangan bicara, Mama sudah sangat bahagia ada seorang gadis yang mau menikah denganmu, jadi jangan coba-coba menakuti Dinara dan membuat dia membatalkan pernikahan ini." Ancam Mutia.
beberapa bulan ini Dinara dan Ghasian diminta untuk lebih dekat, mengenal satu sama lain lebih dahulu.
"Sudah sana pergi! Dinara sudah menunggumu!" titah Mutia.
dan Ghaisan tidak bisa lagi mengelak, berkilah apalagi menolak. meski dengan berat hati akhirnya Ghaisan menuruti keinginan sang ibu.
Dia segera melajukan mobilnya, bukan menuju kantor melainkan menuju kediaman keluarga Gunawan.
__ADS_1
Dan benar saja, ketika memasuki halaman mansion itu, Ghaisan sudah melihat Dinara yang menunggunya duduk di teras mansion.
Entah kenapa melihat itu lagi-lagi Ghaisan merasa kesal, dia seperti melihat anak kecil yang sedang menunggu dijemput oleh orang tuanya.
" Kenapa harus menunggu disitu! memangnya tidak bisa menunggu di dalam rumah saja?" gerutu Ghaisan.
"Bocah bau hancur sudah berani mengajakku menikah, jangan-jangan nanti malam pertama dia malah langsung pingsan!"
Kekesalan Ghaisan Semakin menjadi saat dia melihat Dinara yang tidak bergerak ketika dia sudah memarkirkan Mobilnya di halaman Mansion, seolah manja sekali minta dijemput
Lantas dengan kekesalannya itu Ghaisan turun dan berteriak.
"Ayo pergi!"
Dan Dinara yang melihat itu langsung bangkit dengan tergesa, terlalu buru-buru berlari menghampiri sang calon suami.
Dinara sungguh tidak tahu jika itu adalah mobil Ghaisan, dia belum terlalu ingat. Dia pikir itu tadi adalah mobil teman ayahnya.
"Bukannya langsung ke sini malah diam saja!"
"Maaf Bang, aku tidak tahu kalau ini Mobil Abang."
"Alasan!"
__ADS_1
Ghaisan Langsung kembali masuk ke dalam mobil, dan dengan bibir mencebik Dinara mengikuti.
Sabar Nara, batin Dinara.