
Jam 10 pagi.
Ghaisan dan Dinara sampai di perusahaan Alteza Grup. Mereka bergandengan tangan dan sontak mencuri perhatian semua orang.
Pernikahan mereka berdua memang hanya pihak keluarga yang tahu, semua karyawan hanya mendengar desas desus. Tapi tidak percaya jika pimpinan mereka menikah. Pasalnya mereka tidak pernah sekalipun melihat Ghaisan dekat dengan wanita manapun.
Namun pagi ini, mereka melihat dengan mata kepala sendiri Gaisan yang menggandeng seorang gadis belia. Dari wajah dan penampilannya saja nampak jelas jika gadis itu masih anak kuliahan.
"Mungkin bukan nikah, yang bener pacaran," bisik salah satu karyawan wanita, yang sedang bergerombol dengan yang lain. Bisik-bisik membicarakan Gaisan dengan gadis itu.
Tidak ada pula yang tau jika gadis itu adalah Dinara anak Gunawan, karena selama ini Dinara lebih suka menyembunyikan identitasnya.
Dia malah merasa tidak enak hati jika memamerkan bahwa pengusaha sukses Gunawan adalah ayahnya.
"Pasti gadis itu yang menggoda Tuan Gaisan, ya kan? tidak mungkin tuan Gaisan yang lebih dulu suka?"
Semua orang mengangguk setuju.
Tipikal pria dingin seperti Gaisan pasti memiliki kriteria khusus untuk menjadi kekasihnya, bukan gadis kecil seperti itu.
"Anak kuliahan sekarang lebih berani-berani, tidak seperti kita dulu."
"Benar, sekarang bahkan mereka berani menjadi sugar baby."
Mereka terus membicarakan Dinara, menilai buruk gadis berutung itu karena menjadi kekasih sang tuan.
__ADS_1
Aktifitas mereka terhenti saat Frans datang dengan tatapan tajamnya.
"Kalian mau kerja atau ngrumpi? hah!"
"Maaf Pak," balas mereka semua dengan menundukkan kepala. Lalu berjalan mundur dan bubar.
Sementara Gadis yang jadi bahan pembicaraan tetap tidak merasa, dia malah bergelayut manja di lengan suaminya. Dan Ghaisan menyukai itu, seperti ada ular yang menempel kuat di lengannya.
Mereka masuk ke dalam lift, hanya mereka berdua.
"Abang," panggil Nara.
"Apa?"
"Kalau di drama yang sering ku tonton, pas di lift gini pasti pasangan-pasangannya ciuman," cicit Nara, memberi kode yang sangat jelas.
"Jadi kita harus ciuman juga?" tanya Ghaisan dan Nara mengangguk.
Senyum Gaisan semakin lebar, lalu mendorong Dinara hingga terpojok di dinding.
Dinara pun tersenyum, adegan seperti inilah yang dia suka, ada sedikit paksaan.
Tanpa mengulur waktu, Gaisan segera menyatukan bibir mereka dan memainkan lidah bersama-sama. Suara decapan yang tercipta semakin membangkitkan gairah keduanya. Bahkan tak jarang Dinara pun melenguh diantara ciuman yang mereka lakukan.
Suara yang membuat Gaisan semakin kuat meremaat kedua dadanya.
__ADS_1
Ting!
Pintu lift terbuka dan mereka langsung mengambil jarak dengan cepat.
Meninggalkan bibir yang sama-sama basah dan jantung yang bergemuruh hebat.
Mereka sama-sama terkekeh, merasa takut ketahuan padahal tidak ada siapapun di depan sana.
"Ayo," ajak Gaisan.
Dan Nara ikut keluar dengan kedua tangannya yang merapikan bajunya kembali.
Dia senang sekali ciuman di dalam lift tadi, seolah hidup di drama yang selama ini sering dia tonton.
"Apa ada lagi yang ingin kamu lakukan kita sedang berada di kantor seperti ini?" tanya Ghaisan, kini mereka sudah masuk ke ruangan CEO, ruangan Ghaisan.
"Ada."
"Apa? katakan?"
"Tapi aku malu."
"Iiss sok malu, cepat katakan." tuntut Gaisan pula, dia menarik pinggang Dinara, memeluknya dan bersandar di meja kerja.
"Bercinta disini," cicit Dinara seraya menepuk meja itu.
__ADS_1
kedua mata Ghaisan membola, tidak percaya jika Dinara senyum ini.
Tapi dia sangat menyukainya.