
Jam setengah 12 malam, Davin dan Viona baru sampai di apartemen.
Davin dan Viona saling mendiami tapi tangan mereka saling menggenggam erat sampai akhirnya masuk ke dalam kamar.
"Ayo cuci muka dulu, habis itu tidur," ajak Davin, dia bahkan langsung melepas jaket yang Viona kenalan, lalu menarik kekasihnya ini untuk bersama-sama ke kamar mandi.
"Aku mau kencing dulu," ucap Davin lagi, tanpa babibu dia langsung kencing di toilet itu tak peduli jika Viona melihatnya, bahkan mendengar kucuran air dari sumbernya langsung.
Viona hanya mendengus, lalu mencuci wajahnya di westafel. Wajah yang lengket terkena angin pantai. Masih sibuk mencuci muka, tiba-tiba Davin memeluknya dari arah belakang, tangan itu bukan menyentuh perut, tapi langsung menyentuh kedua dadanya langsung.
"Viin," keluh Viona, diantara sensasi aneh yang mulai dia rasa.
"Jangan marah-marah, aku tidak bisa jika kamu marah. Aku tidak bisa tidur, tidak enak makan, belajar tidak fokus, semuanya kacau," ucap Davin dengan matanya yang sayu, menatap kedua mata sang kekasih dari pantulan mereka di dalam cermin.
Viona mencebik, tidak tahu harus menjawab apa, yang jelas hatinya masih saja merasa kesal.
"Sebulan lagi aku ujian nasional, belum lagi pekerjaan di kantor, aku bisa stress kalau marah-marah juga."
__ADS_1
"Kenapa jadi kesannya aku yang salah, kamu yang mulai duluan."
"Iya maafkan aku, aku tidak akan mengulanginya lagi."
"Boleh antar Dinara, tapi bilang dulu ke aku, tiba-tiba aku tau dari mama Dania, siapa yang nggak marah?"
"Iya aku salah, maafkan aku ya," pinta Davin.
Sadar Davin sudah berulang kali mengucapkan maaf, Viona pun coba meredam cemburunya, dia berbalik dan memeluk sang kekasih.
"Aku tau."
"Aku mulai berpikir Dinara memeluk mu dari belakang, mengira helm itu milik Dinara, membayangkan kalian tertawa menghabiskan waktu bersama, bahkan berpikir Dinara juga memakai jaket mu_"
"Iya iya iya, maafkan aku, aku salah," potong Davin sebelum ucapan Viona semakin ngelantur kesana kemari. Padahal sumpah, Davin hanya mengantar dan tidak lebih. Bahkan tidak ada pembicaraan apapun selama mereka diatas motor. Dan itupun tidak sendiri, dibelakang motor Davin ada pula Danu dan Anjas.
Setelah berbaikan di dalam kamar mandi akhirnya mereka keluar dan mulai berbaring di atas ranjang.
__ADS_1
Davin memeluk tubuh wanitanya erat.
"Cuma tidur aja? nggak mau anu-anu?" tanya Viona yang tidak mendapati pergerakan apapun dari sang kekasih, Viona bisa merasakan senjata Davin yang mengeras, tapi Davin malah memejamkan mata dan hanya memeluk tubuhnya.
"Jangan memancing ku, aku sudah berjanji pada ayah Gunawan untuk tidak menyentuhmu."
Ya, sampai di apartemen tadi Davin langsung menghubungi Gunawan via pesan. Mengatakan jika malam ini dia dan Viona akan menginap di apartemen, bukan hanya itu Davin juga mengatakan bahwa dia berjanji tidak akan menyentuh Viona.
Dan Gunawan menjawab iya, seraya mengirimkan emoticon jempol, 🤣🤣
"Kalau aku yang menyentuhmu bagaimana?" tanya Viona yang mulai bangkit dan menindih setengah tubuh sang kekasih.
"Aku ikhlas," jawab Davin pasrah dan keduanya terkekeh.
Mulut Davin pun menganga, saat Viona mulai masuk ke dalam selimut dan mengulum sesuatu dibawah sana, sesuatu yang sedari tadi sudah menegang.
"Vionaa," lenguh Davin, namun wanita yang dipanggil tidak dengar, sibuk dengan aktifitasnya sendiri.
__ADS_1